Nitikan.id – Dulu, zaman lagi hobinya begadang, aku sering nongkrong di warung kopi Pak Koboy yang sederhana di belakang kampus. Meja kayunya sudah agak miring, kursi kayunya sudah glowing karena sudah jutaan bokong yang mendudukinya, tapi warung kopinya tak pernah sepi, kecuali sudah tutup. Mahasiswa datang silih berganti, ada yang mengerjakan skripsi, sebagian lagi berbincang ngalor ngidul soal hidup, politik, dan cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Sementara itu di seberang depan kampus berdiri Kafe Kopi Terkenang, tempat nongkrong dengan desain minimalis, lampu hangat, dan playlist lo-fi yang berbisik pelan. Harganya tak ramah kantong untuk sejenis mahasiswa senin-kamis modelan aku. Tapi jangan salah, sore hari hingga malam parkirannya penuh. Pelanggannya kebanyakan eksekutif muda, pegawai start-up, freelancer yang nyari tempat kerja yang estetik dan tenang, atau mahasiswa yang baru dapat transferan.
Bagaimana kedua penjual kopi itu bisa sama-sama laris? Rahasianya? Mereka Paham Prinsip Pareto. Dan Mereka Paham Pasar.
Pareto punya rumus 80% hasil datang dari 20% sumber daya, pelanggan, atau usaha. Dalam bisnis itu berarti jangan kejar semua orang. Kejar mereka yang benar-benar kembali.
Warkop Pak Koboy tahu betul siapa 20% pelanggannya yang menyumbang 80% omzet, yaitu mahasiswa dompet tipis tapi loyal. Maka dia tak neko-neko. Cukup jual kopi hitam, teh manis, es jeruk peras, mie rebus, gorengan. Ada colokan, ada Wi-Fi gratis meskipun 5 menit mati 5 menit hidup, harga kaki lima, suasana seperti rumah kedua. Tak perlu AC, tk perlu latte art, tapi pelanggan datang setiap hari.
Kafe Kopi Terkenang pun tahu siapa 20% pelanggannya, yaitu orang kerja yang ingin kenyamanan, ketenangan, dan ruang kerja yang enak. Maka mereka sediakan meja besar, sofa empuk, colokan di setiap sudut, dan layanan cepat. Level tempat dan harga. Mereka tak menjual harga murah tapi menjual nilai dan tempat produktif yang estetik juga instagramable. Pelanggannya mungkin tidak ramai, tapi stabil, dan daya belinya kuat.
Banyak pelaku usaha semua ingin diraih. Mahasiswa ingin, eksekutif ingin, emak-emak ingin, anak sekolah ingin. Akhirnya menu terlalu banyak, harga tak konsisten, dan pelayanan membingungkan. Bisnis seperti itu tidak punya wajah dan tidak punya arah.
Pareto mengajarkan kejqr yang 20% itu. Fokus dan layani mereka sebaik-baiknya. Jangan buang energi ke 80% yang hanya datang sekali-kali.
Di kampus ada warkop yang disayang mahasiswa. Di pusat kota ada kafe yang jadi kantor kedua para pekerja muda. Keduanya tidak saling rebutan pelanggan, karena tahu mereka punya 20% audiens masing-masing. Dan dari situlah mereka tumbuh.
Prinsip Pareto, atau dikenal juga dengan aturan 80/20, pertama kali dipopulerkan oleh ekonom Italia, Vilfredo Pareto. Ia menemukan bahwa di Italia, sekitar 80% tanah dimiliki oleh 20% penduduk. Tapi prinsip ini bukan cuma berlaku di tanah pertanian atau statistik kepemilikan. Di zaman sekarang, Pareto hidup dan bernafas di setiap toko, perusahaan, dan layar ponsel kita.
20% Produk Menghasilkan 80% Penjualan
Kalau kamu pelaku bisnis, baik jualan online atau offline, jasa potong rambut, punya warkop atau kafe kekinian, cobalah lihat data penjualan. Hampir bisa dipastikan sebagian besar keuntungan berasal dari sebagian kecil produk atau layanan. Misalnya, dari 10 menu kopi di kafe, hanya dua yang selalu dipesan. Maka logikanya, fokuslah ke dua menu itu. Buat versi jumbo, tambah topping, atau bundling dengan roti. Jangan terlalu sibuk mengembangkan delapan menu lain yang hanya dipesan sebulan sekali.
Begitu juga dengan pelanggan. Dalam banyak kasus, 80% pendapatan datang dari 20% pelanggan tetap. Mereka yang selalu kembali, yang merekomendasikan ke teman-teman, yang belanja tanpa menawar. Merekalah yang seharusnya jadi pusat perhatian. Berikan layanan ekstra, diskon loyalitas, atau cukup sapa nama mereka saat datang. Sementara 80% pelanggan lainnya? Tetap layani dengan baik, tapi jangan habiskan semua energi untuk mengejar mereka.
Baca: Bisnis ala Muhajirin dan Anshar
Baca: “Hihang Howeng” Cemilan Terenak di Dunia, ini Daerah Penghasil Terbanyak di Jawa Barat
Banyak yang sering terjebak ingin melebarkan bisnis ke segala arah. Jual ini, dagang itu. Buka cabang sana-sini. Tapi Pareto mengingatkan, pertumbuhan bukan berarti memperbanyak, melainkan memperdalam. Lebih baik punya satu toko kecil yang ramai dan berdaya tahan, daripada lima cabang yang kosong dan menambah utang.
Lihat brand-brand besar. Mereka tidak memasarkan seluruh jenis produk. Mereka memilih dan yang dipilih itu terus dipoles, ditingkatkan, dan dipertahankan. Bahkan di dunia startup, prinsip ini jadi dasar berpikir. Fokus ke MVP Minimum Viable Product.
Dalam dunia bisnis, tidak semua harus dihadapi. Tidak semua harus dikejar. Pareto mengajarkan kita untuk memilah, memilih, dan mengasah yang sedikit tapi berdampak. Sebab dalam dunia yang penuh hiruk-pikuk, keberhasilan sering kali datang dari mereka yang bisa diam sebentar, menatap data, lalu berkata: “Yang ini saja dulu.”
*****

