Ada jenis rabun yang tidak bisa diperbaiki di optik. Mau pakai kacamata berapa juta pun, tetap saja buram. Bukan karena minus atau silinder, tapi karena arah hidupnya yang agak keliru.
Namanya, rabun jauh versi batin.
Gejalanya halus. Orangnya kelihatan normal. Kerja, makan, ketawa, update status. Bahkan kadang sukses. Tapi kalau ditanya pelan-pelan, “Ini semua mau dibawa ke mana?” dia mendadak buffering. Loading lama. Kadang error.
Bukan tidak punya tujuan. Justru seringnya punya lebih banyak tujuan: mau kaya, mau sukses, mau dihormati, mau punya ini-itu. Kumplit. Ambisius. Tapi semua tujuannya berhenti di perkara dunia. Kayak naik angkot tapi nggak tahu turun di mana yang penting jalan dulu, nanti juga mikir.
Padahal hidup ini, kalau mau jujur, bukan cuma tentang hari ini. Bahkan bukan cuma tentang umur kita. Tapi kita sering hidup seperti anak kost yang kontraknya tiga hari lagi habis, tapi sibuk beli sofa baru. Empuk sih, tapi ya… mau ditaruh di mana nanti?
Di tengah keramaian ini, ada satu profesi yang sering diremehkan padahal filosofinya dalam yakni petani.
Petani itu makhluk sabar. Dia menanam sesuatu, lalu nunggu. Bukan nunggu notifikasi, tapi nunggu berbulan-bulan. Tidak ada “skip ad”, tidak ada “fast forward”. Kalau gagal? Ya tanam lagi. Tidak bisa komplain ke CS alam.
Nah, saat panen datang, di situlah kelihatan dia rabun atau tidak.
Petani yang rabun jauh akan melihat panen sebagai angka. Berapa karung? Berapa ton? Berapa rupiah? Semua dihitung detail sampai mungkin cacing di tanah pun ikut diabsen. Hasilnya? Disimpan. Diamankan. Dijaga seperti mantan yang masih di-stalk.
Tidak salah. Serius. Tapi hidupnya berhenti di situ. D gudang, di rekening, di rasa “lumayan aman”.
Sementara petani yang tidak rabun akan mikir sedikit beda. Dia tetap jual, tetap makan, tetap realistis. Tapi ada satu pertanyaan tambahan yang mengganggu ketenangannya:
“Siapa yang bisa ikut makan dari ini?”
Lalu sebagian hasil panennya diam-diam berpindah tangan. Ke tetangga yang lagi seret. Ke orang yang bahkan tidak tahu harus berterima kasih ke siapa. Tidak diposting. Tidak di-caption “alhamdulillah berbagi”. Pokoknya jalan saja.
Petani midel kek ini mungkin tidak viral. Tapi kalau padi bisa ngomong, mungkin dia yang paling sering didoakan.
Lanjut ke pejabat.
Nah ini agak sensitif. Tapi santai saja, kita kuoas sambil duduk n rebahan juga boleh.
Pejabat itu kursinya empuk. Saking empuknya, kadang bikin orang lupa cara berdiri. Ada yang duduk sebentar langsung betah, lalu mulai berpikir: “Ini kursi bisa dibawa pulang nggak ya?”
Pejabat yang rabun jauh melihat jabatan sebagai fasilitas. Ada akses, ada peluang, ada pintu belakang yang kadang lebih menarik daripada pintu depan. Rakyat? Ya penting… tapi nanti dulu, yang penting diri sendiri dulu aman.
Sementara pejabat yang tidak rabun melihat jabatan sebagai amanah. Berat, bukan karena kerjanya, tapi karena tanggung jawabnya. Dia sadar, setiap tanda tangan itu bukan cuma tinta, tapi cerita panjang yang suatu hari akan ditanya ulang.
Dia mungkin tidak populer. Tidak sering senyum di kamera. Tapi tidurnya lebih nyenyak. Karena dia tidak harus menghafal kebohongan sendiri.
Lalu kita mampir ke saudagar.
Dunia bisnis itu seperti gym untuk nafsu. Setiap hari dilatih untuk hasil lebih banyak, lebih cepat, lebih besar. Kalau tidak kuat, ya gampang “cedera moral”.
Saudagar yang rabun jauh akan fokus pada satu hal yakni untung. Tidak peduli caranya gimana, yang penting grafik naik. Timbangan bisa disesuaikan, kualitas bisa dinegosiasikan, harga bisa dimainkan. Pokoknya selama masih aman, gas terus.
Tapi ada juga saudagar yang aneh. Dalam arti baik.
Dia tetap cari untung, jelas. Dia bukan NGO. Tapi dia punya rem. Saat orang lain panik lalu menaikkan harga, dia justru mikir, “Kalau saya ikut-ikutan, orang lain makan apa?”
Saat bisa curang tanpa ketahuan, dia malah memilih jujur. Bukan karena tidak pintar, tapi karena tidak mau repot menjelaskan nanti… di tempat yang tidak ada pengacaranya.
Dan saat untung datang, dia tidak langsung beli barang baru. Dia mikir, “Siapa lagi yang bisa ikut merasakan ini?”
Aneh ya? Di dunia yang menghargai keuntungan maksimal, orang seperti ini justru sering dianggap kurang ambisius. Padahal mungkin dia yang paling paham arah.
Terakhir, guru.
Profesi yang sering dianggap biasa, padahal diam-diam membentuk masa depan. Tanpa guru, kita mungkin masih bingung bedanya koma sama titik dan itu bisa berbahaya di chat gebetan.
Guru yang rabun jauh mengajar sekadar selesai. Materi keluar, papan tulis penuh, bel berbunyi, pulang. Semua rapi. Tapi muridnya? Ya itu urusan nanti.
Sementara guru yang tidak rabun mengajar seperti menanam. Dia tahu tidak semua murid langsung paham. Tidak semua langsung berubah. Tapi dia sabar. Karena dia sadar, yang dia tanam hari ini mungkin baru tumbuh bertahun-tahun kemudian.
Dia tidak hanya mengajar pelajaran, tapi juga sikap. Dan itu biasanya yang paling diingat itu bukan rumusnya, tapi caranya memperlakukan manusia.
Dari petani, pejabat, saudagar, sampai guru, sebenarnya ada satu benang merah yakni
Mereka hidup di dunia, tapi tidak tersangkut di dunia.
Mereka tetap kerja, tetap cari uang, tetap punya ambisi. Tidak ada yang ditinggalkan. Yang beda cuma satu yakni
arah.
Dunia bagi mereka itu alat. Bukan tujuan. Kayak motor dipakai untuk jalan, bukan dipeluk tiap malam.
Kita semua, jujur saja, pernah rabun. Kadang masih.
Kita lihat uang, tapi lupa cara pakainya. Kita kejar sukses, tapi lupa kenapa mulai. Kita sibuk hidup, tapi lupa untuk apa hidup.
Tidak apa-apa.
Karena rabun ini masih bisa diperbaiki. Bukan dengan kacamata, tapi dengan jeda. Dengan berhenti sebentar di tengah sibuk, lalu tanya:
“Ini semua buat apa sih?”
Pertanyaan sederhana. Tapi sering kita hindari karena takut jawabannya jujur.
Pada akhirnya, jadi “tidak rabun” itu bukan berarti harus jadi orang suci. Tidak harus sempurna. Tidak harus miskin juga, itu mitos yang sering disalahpahami.
Cukup jadi orang yang tahu arah.
Yang kalau bekerja, tahu kenapa.
Kalau punya, tahu untuk apa.
Kalau hidup, tahu mau ke mana.
Karena hidup ini bukan lomba lari cepat. Ini perjalanan jauh.
Dan sayang sekali kalau kita jalan jauh…
tapi tetap tidak tahu sedang menuju ke mana.
Hegar Dinandaru Shobron
Pegiat Rumah Baca Tunas Aksara Pamanukan

