l
Nitikan.id – Di era digital yang serba cepat dan terkoneksi, kekuatan media audio-visual telah menjelma menjadi sumbu utama dalam transformasi sosial, budaya, dan ekonomi. Media seperti film pendek, TikTok, dan YouTube tidak lagi sekadar wadah hiburan, melainkan alat strategis untuk menggerakkan ekonomi kreatif sekaligus sarana diplomasi budaya dan nation branding.
Indonesia sebagai negara dengan keberagaman budaya yang luar biasa memiliki peluang besar untuk memanfaatkan kekuatan media ini untuk membangun citra diri di mata dunia sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru yang inklusif.
Ekonomi kreatif adalah sektor yang bertumpu pada kreativitas individu atau pun komunitas, keterampilan dan talenta yang memiliki potensi untuk menciptakan kesejahteraan dan lapangan kerja. Berdasarkan laporan Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif, sebelum digabungkan ke dalam Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), subsektor film, animasi, video, serta konten digital termasuk yang memiliki pertumbuhan tercepat dan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Transformasi digital yang masif, didorong oleh penetrasi internet yang tinggi mampu membuka akses produksi dan distribusi konten secara demokratis. Kini, siapa saja dapat membuat film pendek atau video kreatif dan mengunggahnya ke platform global seperti YouTube dan TikTok. Hal ini menandai pergeseran kekuasaan dari studio besar ke tangan individu dan komunitas kreatif.
Film pendek dan konten video pendek menjadi media yang sangat efektif untuk memperkenalkan kekayaan budaya, gaya hidup, serta nilai-nilai khas Indonesia. Ketika seorang kreator membuat film pendek berlatar suasana pasar tradisional, atau menampilkan tarian daerah dalam format TikTok berdurasi 60 detik, ia sedang melakukan lebih dari sekadar hiburan, ia sedang membangun narasi tentang Indonesia yang unik, beragam, dan bernilai tinggi.
Branding suatu bangsa tidak lagi hanya dilakukan lewat promosi wisata atau diplomasi formal. Dalam era media sosial, nation branding dibentuk lewat narasi harian yang dikonsumsi secara masif dan viral. Konten dengan sentuhan lokal yang otentik justru lebih mudah diterima audien global karena menghadirkan warna dan kejujuran yang jarang ditampilkan media arus utama.
Contohnya, film pendek “Tilik” berhasil menyentil budaya sosial Indonesia sembari menghibur jutaan penonton. Di YouTube, kanal seperti “Nihongo Mantappu” menunjukkan bahwa konten keseharian berbalut edukasi dan budaya bisa membawa pesan Indonesia ke dunia. Di TikTok, ribuan video tren seperti tutorial membuat seblak dan tutug oncom, tarian dan lagu daerah, atau cerita rakyat digital telah menjadi jembatan budaya yang ringan tapi kuat.
Dengan 157,6 juta pengguna aktif per Juli 2024, Indonesia menjadi negara dengan jumlah pengguna TikTok terbanyak di dunia, melampaui Amerika Serikat yang memiliki 120,5 juta pengguna. Melalui video pendek, pengguna dapat menampilkan tarian tradisional, kuliner khas, hingga keindahan alam nusantara. Tagar PesonaIndonesia telah digunakan untuk mempromosikan destinasi wisata lokal, membuka peluang eksplorasi wisata di setiap sudut negeri.
Generasi muda Indonesia sebagai pengguna utama TikTok maupun Youtube memiliki peran strategis dalam membentuk persepsi global tentang Indonesia. Konten yang mereka hasilkan tidak hanya menghibur tapi juga dapat menjadi alat diplomasi budaya yang efektif. Namun untuk memaksimalkan potensi ini, diperlukan peningkatan kualitas konten secara berkelanjutan dan kesadaran kolektif untuk bersaing di tingkat global.
Salah satu contoh sukses adalah Charity Ekezie, seorang TikToker asal Nigeria dengan 3,4 juta pengikut dan 86,3 juta suka. Ia menggunakan humor dan sarkasme untuk membantah stereotip negatif tentang Afrika, seperti dalam video di mana ia menyanggah anggapan umum bahwa Afrika tidak memiliki air bersih dengan menunjukkan dirinya meminum air dari botol. Kontennya tidak hanya menghibur tetapi juga mendidik, memberikan perspektif baru tentang kehidupan di Afrika kepada audiens global.
Membangun ekonomi kreatif tidak cukup hanya dengan semangat individu. Negara harus hadir lewat kebijakan, infrastruktur, dan pendidikan yang mendorong pertumbuhan industri kreatif digital.
Pertama, diperlukan capacity building lewat pelatihan intensif produksi konten, storytelling, editing, hingga distribusi digital. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga kampus, komunitas kreatif, hingga perusahaan teknologi yang bisa berkolaborasi menciptakan inkubator kreator.
Kedua, penting adanya dukungan finansial berupa insentif pajak, dana hibah produksi, serta skema monetisasi yang adil dari platform digital. Selama ini, banyak kreator Indonesia yang viral tetapi tidak mendapat kompensasi yang layak karena tidak terhubung dengan sistem ekonomi formal.
Ketiga, infrastruktur internet yang merata dan kuat adalah fondasi penting. Tanpa konektivitas yang baik, potensi kreator dari daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) akan selalu kalah saing dibanding mereka yang tinggal di pusat kota.
Jangan ragu untuk mulai membangun ekonomi kreatif dari lokal, baik itu berupa kerajinan (kriya), kuliner, fashion, musik, seni rupa pertunjukan, atau pun konten. Semua produk ekonomi kreatif tersebut bisa dikolaborasikan dan bersimbiosis. Tentunya jika berpotensi besar maka pemerintah akan mensupportnya. Baca: H. Zulkifly Chaniago, Anggota DPRD Provinsi Jabar, Laksanakan Penyebarluasan Perda Pengembangan Ekonomi Kreatif di Dusun Palasari, Pamanukan, Subang
Indonesia memiliki akar budaya lisan yang kuat, dari dongeng nenek di kampung hingga kisah wayang di panggung. Tradisi ini kini menemukan bentuk baru dalam film pendek dan video daring. Di sinilah pentingnya menyadari bahwa kita adalah bangsa pencerita dan cerita kita adalah aset ekonomi dan diplomasi.
Para kreator muda hari ini bukan sekadar entertainer, mereka adalah cultural ambassador yang membawa suara lokal ke panggung global. Setiap klip TikTok tentang upacara adat dan UMKM fashion dan kriya, setiap vlog YouTube tentang kuliner desa, dan setiap film pendek tentang isu sosial adalah mozaik besar yang menyusun wajah Indonesia.
Namun, narasi ini harus dikurasi dan dibimbing agar tidak jatuh pada eksploitasi budaya atau penggambaran stereotip yang sempit. Pemerintah, lembaga kebudayaan, dan pelaku industri perlu membangun pedoman etika kreatif sekaligus membuka ruang apresiasi yang beragam.
Tentu ada tantangan besar seperti banjir konten dangkal, algoritma platform yang menyukai sensasi, dan tekanan ekonomi yang membuat kreator tergoda memproduksi konten cepat tanpa nilai. Namun justru di tengah tantangan itu, muncul peluang bagi Indonesia untuk mengambil jalan tengah yaitu menggabungkan estetika, edukasi, dan daya tarik pasar dalam satu paket kreatif.
Dunia tengah mencari cerita-cerita baru dari dusun-dusun global. Narasi dari negara berkembang yang autentik dan inspiratif kini jauh lebih dinantikan ketimbang narasi dominan dari Barat. Indonesia, dengan 270 juta jiwa dan ratusan etnis, memiliki ladang cerita yang belum sepenuhnya digarap.
Jangan hanya jadi penonton. Ayo menjadi sutradara cerita kita sendiri.
*****

