Ada satu momen yang hampir semua orang pernah alami yakni duduk diam, menatap jauh, lalu tiba-tiba merasa hidup ini berat sekali. Bukan karena masalahnya luar biasa besar, tapi karena semuanya terasa menumpuk. Pikiran berisik, rencana tidak sesuai harapan, masa depan seperti kabur. Di titik itu, manusia sering menjadi sangat serius bahkan terlalu serius.
Seolah-olah hidup ini adalah proyek pribadi yang harus sempurna.
Padahal, kalau kita geser sedikit cara pandang, ada kemungkinan yang cukup menggelitik: jangan-jangan hidup ini tidak pernah dimaksudkan untuk kita kendalikan sepenuhnya. Jangan-jangan kita ini bukan pemilik cerita, tapi hanya pemeran yang diberi peran sementara.
Dan lebih jauh lagi, mungkin ada sesuatu yang diam-diam “tersenyum” melihat kita.
Dalam bahasa yang akrab, kita menyebut-Nya Gusti Allah. Yang keberadaan-Nya tidak bertambah mulia karena kita sukses, dan tidak berkurang agung karena kita gagal. Ada atau tidaknya semesta, Dia tetap sempurna. Maka kehidupan ini bukan karena kebutuhan, bukan karena kekurangan yang harus diisi.
Lalu kenapa ada hidup?
Di sinilah para pemikir tasawuf masuk dengan jawaban yang tidak selalu mudah, tapi indah. Ibnu Arabi memandang semesta sebagai tempat penampakan. Bukan panggung yang lahir karena Tuhan butuh hiburan, tapi cermin tempat sifat-sifat-Nya terlihat. Seperti cahaya yang secara alami memancar, bukan karena terpaksa, tapi karena memang itulah sifatnya.
Masalahnya, manusia sering salah posisi.
Kita masuk ke dalam cermin itu, lalu mengira bayangan adalah segalanya. Kita melihat peran kita, pekerjaan, status, hubungan, pencapaian,lalu menyimpulkan: “Ini aku sepenuhnya.” Dari situ lahirlah keseriusan yang berlebihan. Semua harus berhasil. Semua harus stabil. Semua harus sesuai rencana.
Dan ketika satu saja meleset, kita merasa dunia ikut runtuh.
Padahal, kalau dilihat dari sudut yang lebih luas, hidup ini bergerak dengan cara yang jauh lebih lentur daripada yang kita bayangkan. Tidak semua hal bisa diprediksi, tidak semua usaha berbanding lurus dengan hasil. Ada wilayah yang memang bukan milik kita untuk dikendalikan.
Di situlah, mungkin, “senyum langit” itu mulai terasa.
Bukan senyum yang mengejek, tapi senyum yang melihat sesuatu dari perspektif yang lebih utuh. Seperti orang dewasa yang melihat anak kecil menangis karena layang-layangnya putus. Tangisnya nyata, sedihnya tulus, tapi ada bagian yang tahu: ini bukan akhir dari segalanya.
Manusia sering seperti itu.
Kehilangan peluang, lalu merasa masa depan tertutup.
Dikritik sedikit, lalu merasa harga diri runtuh.
Rencana gagal, lalu merasa hidup tidak adil.
Padahal hidup tidak sedang memusuhi. Ia hanya bergerak.
Jalaluddin Rumi pernah menggambarkan hidup seperti tamu yang datang silih berganti. Ada yang menyenangkan, ada yang menyakitkan, ada yang membingungkan. Tapi semuanya datang dan pergi. Tidak ada yang benar-benar tinggal.
Masalahnya, kita sering memperlakukan tamu seperti pemilik rumah.
Kita ingin kebahagiaan menetap selamanya. Kita menolak kesedihan seolah itu kesalahan sistem. Kita menuntut kepastian dari sesuatu yang memang diciptakan untuk berubah.
Akhirnya kita lelah.
Bukan karena hidup terlalu berat, tapi karena kita memaksa hidup menjadi sesuatu yang tidak pernah ia janjikan.
Di titik ini, memahami “senyum langit” bukan berarti meremehkan hidup. Justru sebaliknya. Ini tentang menempatkan hidup pada porsinya. Bahwa ia penting, tapi tidak absolut. Bahwa ia harus dijalani, tapi tidak perlu digenggam mati-matian.
Orang yang mulai memahami ini biasanya berubah secara halus.
Ia tetap bekerja, tapi tidak panik berlebihan.
Ia tetap merencanakan, tapi siap jika kenyataan berbeda.
Ia tetap berusaha, tapi tidak menggantungkan seluruh nilai dirinya pada hasil.
Ada ketenangan yang muncul, bukan karena semua masalah selesai, tapi karena cara memandangnya berubah.
Seperti seseorang yang akhirnya sadar bahwa ia sedang menonton film dimana ia tetap bisa menangis, tertawa, tegang, tapi ada bagian dalam dirinya yang tahu bahwa ini akan selesai.
Dan kesadaran itu membuat segalanya terasa lebih ringan.
Mungkin itulah bentuk kedewasaan yang jarang dibicarakan: bukan menjadi orang yang selalu benar, tapi menjadi orang yang tidak lagi terlalu tegang terhadap hidup.
Karena pada akhirnya, hidup ini bukan tentang siapa yang paling berhasil mengendalikan segalanya. Tapi siapa yang paling mampu berjalan di dalam ketidakpastian tanpa kehilangan keseimbangan batin.
Jadi kalau suatu hari kamu merasa semuanya berat, cobalah berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tapi untuk melihat dari sudut yang sedikit berbeda.
Mungkin tidak semua harus kamu atur.
Mungkin tidak semua harus berhasil sekarang.
Mungkin tidak semua kegagalan adalah akhir.
Dan mungkin, di balik semua yang tampak rumit ini, ada “senyum langit” yang tenang, yang tidak terburu-buru, tidak panik, dan tidak pernah kehilangan kendali.
Senyum yang seakan berkata pelan:
“Jalani saja. Tidak perlu se-tegang itu.”
Karena hidup ini, pada akhirnya, bukan untuk dimenangkan dengan keras… tapi untuk dilewati dengan sadar.
Mochammad RF
Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan

