“Melamun adalah peristiwa spiritual yang dirahasiakan oleh otak, ditertawakan oleh zaman, tapi disembah oleh jiwa yang pernah ditinggal terlalu cepat oleh dirinya sendiri”
Nitikan.id – Aku nyaris menjatuhkan ponselku di suatu pagi saat pikiranku menerawang jauh ke dalam labirin memori yang pernah kukaitkan pada kapstok di salah satu sudut otakku. Satu ide yang pernah aku simpan sementara di salah satu rak file yg nyaris saja aku buka, namun rentetan notifikasi di ponselku membuyarkan semuanya. Membuyarkan aktivitas yang butuh ketenangan; melamun.
Melamun kadang dianggap kegiatan yang sering disamakan dengan kemalasan, ketidakfokusan, bahkan bisa dapat SP dalam dunia kerja.
Aku ingat dulu nenekku biasa duduk berjam-jam di kursi rotan tua sambil memandangi cucian yang dijemur. Hanya diam dan wajahnya menengadah dengan mata sayu. Aku pikir itu cuma gaya orang tua yang kehabisan energi. Tapi sekarang aku tahu mungkin nenek sedang menenun pikirannya kembali, mengait luka dan harapan, menanak ingatan, atau mungkin berdialog dengan dirinya yang masih remaja.
Wonders Counseling & Consulting menyebutkan bahwa melamun bukan sekadar pikiran mengembara tanpa arah. Ia adalah mode otak yang disebut default mode network, jaringan dalam otak yang aktif saat kita tidak sedang fokus pada dunia luar, melainkan justru menyelam ke dalam. Di sanalah kita memproses emosi, memahami pengalaman dan bahkan menyusun identitas.
Kita tak akan benar-benar mengenal diri jika tak pernah melamun. Karena siapa dirimu kalau kamu tak sempat berdialog dengan bayangan sendiri?
Melamun bukan hanya berpikir tanpa arah akan tetapi berjalan ke dalam, menyusuri gang-gang yang sering tak sempat kita lewati. Kadang gang itu gelap, tapi justru di situlah kita menemukan pelajaran yang tak diajarkan oleh internet. Luka yang belum selesai, cinta yang belum reda, ambisi yang harus digaskeun, atau mimpi masa kecil yang masih mangkrak karena tak ada biaya.
Pernah ada kasus seorang pasien yang terus-menerus merasa kelelahan meski tidurnya cukup. Setelah digali, ternyata dia tidak pernah memberi dirinya kesempatan untuk berhenti dan membiarkan pikirannya mengembara. Dia takut menghadapi isi kepalanya sendiri. Padahal justru di sanalah letak penyembuhan.
Melamun bukan musuh produktivitas, namun justru partner yang sering diabaikan. Pikiran manusia bukan mesin jam dinding yang harus terus berdetak. Ia lebih mirip sawah yang sesekali harus ditinggal dan biarkan diolah angin serta dijemur mentari agar nanti saat waktunya tiba bisa ditanami lebih baik, tentunya dengan tangan yang tidak gemetar oleh tuntutan dan hati yang tidak aus oleh ekspektasi.
Kadang aku iri pada kucing yang bisa duduk berjam-jam di jendela sambil memandangi daun jatuh. Kita manusia modern malah dipaksa merasa bersalah kalau tidak melakukan apa-apa. Padahal kita butuh waktu kosong seperti kita butuh oksigen.
Melamun adalah bentuk defragmentasi internal. Seperti harddisk yang terlalu penuh, pikiran kita juga butuh diurai.
Bayangkan pikiranmu seperti gudang penuh kardus memori, file trauma, folder mimpi yang belum sempat di-klik atau ide yang belum tergagas. Kalau tidak pernah melamun maka kamu hanya jadi kurir yang lewat yang tak pernah membuka apalagi membaca isinya.
Melamun itu semacam membacakan surat untuk diri sendiri yang ditulis oleh versi dirimu di masa lalu dan ditunjukan pada masa depan.
Orang-orang kreatif sering mendapatkan ide terbaik bukan hanya saat mereka duduk sambil scrolling medsos tapi saat mereka melamun dalam perjalanan KRL di tengah kemacetan, atau saat mencuci motor. Karena saat itulah otak membuka pintu rahasia lorong bawah sadar yang penuh keanehan, kejujuran, dan kemungkinan baru.
Aku pernah mendapatkan ide cerita novel terbaik saat mencuci piring karena saat itu istriku sedang healing melukis hena di tangannya. Bukan di ruang kerja yang steril atau kamar yang wangi. Aliran air kran seolah menuntunku membuka brangkas ide kreatif.
Baca: Gembel Rebel
Dunia ini terlalu mendewakan action, padahal kadang jawaban lahir saat kita sedang pause. Melamun adalah jalan pintas ke hutan belantara pikiran yang tak pernah bisa dibabat jadi jalan tol.
Jadi, sesekali luangkan waktu untuk melamun. Jangan lama-lama. Saat sebelum tidur, saat menunggu transferan duit, saat menunggu air mendidih, saat teman menelepon atau bertamu untuk meminjam uang.
Biarkan pikiran melayang seperti layang-layang yang tak tahu harus jatuh ke mana. Kadang ia akan membawamu ke pantai kenangan meski kadang ke jurang penyesalan.
*****

