Nitikan.id – 3 syawal menjadi hari yang menggembirakan, dimana para alumni pondok pasantren Maslahah Mursahah dari angkatan pertama sampai angkatan ke-50 melaksanakan Temu Alumni Akbar. Dihadiri para alumni yang sudah sepuh, separuh baya, pemuda, dan bocil yang baru lulus seminggu yang lalu.
Setelah acara temu alumni yang “gitu-gitu aja”, para mantan santri membubarkan diri menuju rumah masing-masing, kembali ke kota masing-masing, kembali berpelukan dengan rutinitas masing-masing.
Namun, di antara para “santri pensiun” yang ikut temu alumni itu ada beberapa alumni angkatan ke-26 yang membuat reuni kecil-kecilan khusus angkatannya, dan lebih khusus lagi yang paling akrab di angkatannya
Inisiatip itu datang dari Juned yang rumahnya tidak terlalu jauh dari almamater tempat dulu dia nyantri.
Tentu saja teman akrabnya dulu yang sering makrab bareng, turing bareng, sahur bareng, bersemangat karena Juned memiliki kolam ikan alias balong, yang tentunya selain reuni satu angkatan yang biasanya lebih seru, lebih bebas, dan pastinya minimal akan ada sajian ikan bakar atau ikan goreng @la Juned.
Selepas ashar mereka berkumpul di gazebo yang terletak di halaman belakang rumah Juned. Dari situ tampak pemandangan Gunung Tangkuban Parahu yang samar mulai terhalang kabut. Mereka duduk melingkar, seperti kebiasaan mereka saat mondok dulu.
Obrolan mereka mengalir deras. Tentang dunia kerja, tentang proyek, tentang cinta, tentang trading saham, tentang politik dan masa depan negara, juga tentang harga beras dan harga diri.
Di salah satu sudut gazebo, Juned menyediakan beberapa cemilan dan cepuluh, juga gelas serta sendok. Ada juga beberapa renceng Kopi Tubruk Kudanil yang gulanya terpisah sebagai opsi bagi penggemar kopi yang hidupnya sudah manis yang tak membutuhkan gula dalam kopinya, atau penggemar yang penuh kenangan manis saat dulu nyantri.. Dan juga sebagai opsi bagi penggemar kopi yang hidupnya masih pahit, masa sih kopi juga pahit, apalagi jika ditambah kenangan pahit saat dulu mondok. Ada pula Kopi Lawak bagi penggemar kopi yang hidupnya penuh ketegangan dan kejulidan.
Juned, Sang Barista dari zaman nyantri emang paling ngerti maunya para sahabat karibnya itu. Air panas pun tersedia dari teko yang “ngaguik” saat mendidih di atas kompor portabel di pojokan gazebo. Suara “guikan” dari teko itu terhenti berbarengan dengan gasnya yang habis.
Namun, tak satu pun dari para “mantan santri” itu yang bergerak menyeduh.
Mereka semua sibuk bercengkerama tanpa peduli dengan “guikan” teko itu, hingga gasnya habis.
Karjo, yang duduk bersebelahan dengan Kasrud, yang dari tadi ngobrol serius tentang proyek mulai nyeletuk, “itu airnya sudah mendidih”.
Dakim, sang pegawai BUMN skala kecamatan membalas celetukan Karjo, “Kayaknya lebih afdol kalau yang nyeduh itu Pak Ustaz. Lebih karismatik dan penuh berkah,”
Idrus, sang Ustaz duduk bersebelahan dengan Harun alias Sang Camat, yang serius berdiskusi tentang kebijakan gubernur soal larangan pungutan di jalan, ikut menyahut, “Apa-apa ustaz. Siapa juga bisa, Cuy.”
“Nggak usah siapa-siapa. Kita voting aja. Demokratis,” kata Iskandar yang 2 bulan lalu baru dilantik jadi anggota DPRD.
Jumadi alias Wakil Kepala Sekolah mengusulkan dibentuk panitia penyeduhan kopi. Kasrud yang duduk di sebelah Karjo sibuk merancang SOP penyeduhan kopi. Sementara Dabrul justru langsung membuat grup WhatsApp bernama Kumpulan Orang-Orang Senang Ngopi. Sedangkan si kembar Gurawil dan Giriwil sibuk ngemil rangginang dalam kaleng biskuit Khong Guan sambil tertawa kecil melihat tingkah kawan-kawannya itu.
Julaget alias Influencer aplikasi Toktok tiba-tiba mengangkat ponselnya dengan posisi standby Live, “Hay gaess, sore ini aku lagi di ngumpul-ngumpul bareng kawan-kawan satu kelas dulu, kita lagi di lereng gunung tangkuban parahu, pemandangannya bagus, cuacanya sejuk, dingin banget gaesss… ada kopi ada air panas, tapi gak ada yang mau nyeduh…. hihihi… jangan lupa kasih gift ya gaesss.. gift bayawak juga boleh.”
Dan tetap saja tak satu gelas pun kopi yang diseduh.
Di Pondok Pesantren Maslahah Mursahah, kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah simbol dari ide-ide besar. Namun sayangnya terhenti di batas mau dan niat. Gelas-gelas kosong itu bukan hanya wadah, tapi lambang dari ruang-ruang perubahan yang tak pernah diisi. Gula adalah semangat kolektif. Air panas adalah momentum yang tak datang dua kali. Dan sendok? Ia adalah pengolah gagasan. Semua tersedia.
Tapi tangan-tangan itu lebih sibuk menunjuk siapa yang pantas, siapa yang layak. Bukan siapa yang mau.
Maka, ketika kabut semakin menebal, senja merayap dengan cepat, memancing suara bangkong yang menggantikan diskusi. Gelas tetap kosong. Kopi tetap belum terseduh. Hanya kemauan yang tertinggal, menggigil, kehilangan suhu.
Beginilah negeri para mantan santri. Mereka hafal ratusan ayat dan hadits, fasih menyitir pendapat ulama, tapi sering lupa satu hal bahwa perubahan dimulai dari tangan yang berani mengambil sendok dan mulai mengaduk.
Si Juned kamana ?
*****

