Dipenghujung malam menjelang pagi yang lengang saat sebagian besar manusia masih terlelap dalam mimpi-mimpi dunia, adzan berkumandang. Lafaz-lafaz suci itu membelah udara, naik menembus langit lalu menyebar ke setiap arah seperti gema tauhid yang menyalakan kembali ruh bumi. Kalimat demi kalimatnya bukan sekadar seruan ia adalah pengingat, penawar, bahkan tameng gaib tak kasatmata.
Kita kadang menyambutnya biasa saja bahkan terlalu biasa.Padahal, suara adzan bukan sekadar tanda bahwa waktu salat telah tiba, ia adalah panggilan Tuhan yang menandakan bahwa bumi ini masih hidup dalam perkenan langit. Masih ada kesempatan untuk kembali, masih ada waktu untuk memperbaiki. Ia adalah benteng, perisai, dan dalam konteks spiritual bisa menjadi penolak bala dan penahan murka.Didalam adzan, ada kalimat yang membuat seluruh makhluk bersaksi:
“Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.”
Persaksian ini bukan hanya diucapkan manusia. Dalam tafsir ruhani, para sufi meyakini bahwa seluruh makhluk ciptaan Allah seperti air, api, tanah, udara, hewan, tumbuhan ikut tergetar saat adzan dikumandangkan karena lafaz adzan adalah pancaran tauhid yang paling terang dalam ruang dan waktu.
Bahkan dalam hadis disebutkan setan akan lari terbirit-birit saat mendengar adzan, hingga pontang panting agar tidak mendengarnya. Ini bukan hanya menggambarkan keagungan lafaz adzan tapi juga makna bahwa kegelapan spiritual tak tahan terhadap cahaya adzan.
Adzan adalah penjaga. Ia menjaga rumah, menjaga kampung, menjaga bangsa. Ditempat-tempat yang masih terdengar adzan rahmat Allah masih turun tapi ketika suara adzan menghilang dan manusia tak lagi menyeru nama-Nya maka bumi mulai gelisah dan langit mulai diam maka bencana, dalam banyak kisah dimulai dari kelupaan manusia terhadap Tuhan dan tugas sucinya di bumi.
Bencana bukan hanya gejala fisik,ia juga gejala spiritual dan moral. Dalam tafsir Al-Qur’an, kerusakan ekologis adalah akibat dari ulah manusia:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia, agar mereka merasakan sebagian akibat perbuatannya, agar mereka kembali.” (QS. Ar-Rum: 41)
Tuhan tidak kejam tapi manusia sering terlalu egois. Ia babat hutan demi uang, cemari sungai demi produksi, buang sampah tanpa sadar bahwa tanah punya hati ketika semua itu menumpuk, bumi protes tapi protes bumi tak berupa petisi melainkan air bah, longsor, gempa, dan badai.
Dalam tradisi tasawuf, bencana adalah teguran kasih peringatan bahwa ada yang salah dalam relasi kita dengan langit dan bumi. Saat itulah suara adzan menjadi lebih penting dari sekadar ritual. Ia menjadi tanda bahwa masih ada yang bertahan mengingat Tuhan di tengah gelapnya zaman.
Banyak kisah di kalangan ulama dan santri tentang bagaimana adzan menjadi penolak bala. Disebuah desa ketika angin ribut datang ada orang tua yang naik ke menara dan mengumandangkan adzan dengan suara bergetar. Anehnya, angin mereda. Bukan karena adzan itu magis tapi karena Allah menyukai tempat yang menyebut nama-Nya dan malaikat turun di sana.
Ada pula kisah santri yang tiap kali melihat awan hitam dan badai, ia segera mengambil air wudhu dan adzan keyakinannya bukan pada suara semata tapi pada tauhid yang hidup dalam adzan. Karena itu, ia yakin bahwa dengan menyebut nama Allah, bumi akan bersujud dan langit akan bersabar.
Para arif billah percaya bahwa bumi ini terjaga bukan oleh senjata tapi oleh doa-doa yang tersembunyi dan adzan-adzan yang jujur.
Namun adzan bukan jimat. Ia bukan mantra yang otomatis membuat dunia aman. Adzan harus diiringi dengan kesadaran, gerak, dan transformas tidak cukup hanya mendengar adzan dan melanjutkan tidur yang lebih penting adalah menjawab panggilannya dengan salat, dengan akhlak, dan dengan menjaga amanah bumi.
Adzan menyuruh kita shalat tapi shalat sejati adalah yang membentuk karakter. Membuat kita jujur dalam berdagang, adil dalam memimpin, peduli pada tetangga dan menjaga keseimbangan alam maka adzan yang sejati adalah yang bergema dalam perilaku bukan sekadar di menara.
Selama adzan hanya menjadi suara yang kita abaikan maka ia tak akan mampu mencegah bencana tapi jika adzan membangkitkan hati yang tidur, membentuk masyarakat yang saleh dan bertanggung jawab, maka bencana pun bisa dicegah atau setidaknya diminimalisir.
Bayangkan sebuah negeri dimana di setiap sudut terdengar adzan dan masyarakatnya menjawab bukan hanya dengan wudhu tapi juga dengan akhlak. Di pasar, tak ada yang menipu. Di kantor, tak ada yang korup. Di jalan, orang saling menyapa. Di gunung, hutan dijaga. Di sungai, airnya jernih.
Karena ketika adzan bukan hanya suara tapi menjadi ruh peradaban maka rahmat akan turun lebih deras dari hujan. Bahkan jika bencana datang, ia datang bukan sebagai murka tapi sebagai ujian yang memperkuat bukan menghancurkan.
Hidup diakhir zaman seperti sekarang ini suara adzan mungkin kalah keras dibandingkan suara iklan, bisingnya politik atau gaduhnya media sosial tapi adzan tetap setia memanggil. Lima kali sehari tanpa bosan. Seolah ingin berkata: “Masih ada waktu, wahai manusia. Kembalilah.”
Maka marilah kita menjadi gema adzan itu sendiri,bukan hanya di mulut tapi dalam kehidupan. Kita menjadi pengingat, penjaga nilai, dan penyeru kebaikan di mana pun berada,kita kumandangkan adzan dalam kejujuran, dalam kepedulian, dalam kesederhanaan, dalam keberanian menolak kezaliman, dan dalam cinta terhadap alam.
Karena selama adzan masih terdengar di bumi ini dan selama ada manusia yang menjawab panggilannya dengan sungguh-sungguh, kita bisa percaya bahwa, bencana bisa ditunda, murka bisa dihindari, rahmat bisa ditarik turun dan bumi akan tetap tenang karena masih ada yang menyebut nama Tuhan.
Subang, 18 April 2025
Hegar Dinandaru Shobron
Pegiat RB Tunas Aksara
Pamanukan

