Nitikan.id – Umumnya kita mulai mengenal geng atau lingkaran pertemanan ketika remaja atau dalam jenjang sekolah yaitu pada masa SMP.
Geng menjadi kelompok elit yang mendongkrak status sosial seseorang remaja. Terjadi deindividuasi, anggota cenderung bertindak atas nama kelompok. Karakteristik saling memperkuat serta melindungi dari ancaman pihak lain juga meningkat
Efeknya tegangan antar geng pertemanan pun bermunculan. Geng kakak kelas menindaskan adik kelas, pertarungan geng antar sekolah dan seterusnya
Karena sifatnya yang luring atau offline maka geng pertemanan ini terbatasi oleh ruang. Jangkauannya terbatas dan tidak mudah menyebar sebagaimana suku bangsa yang terbentuk oleh keterikatan sosial atau oleh kesamaan darah, serta memiliki set aturan sosial dan budaya bersama
Dengan hadirnya teknologi informasi yang ramah manusia atau user friendly, interaksi antar manusia pun tidak terbatas oleh ruang fisik geografis ataupun waktu.
Media sosial seperti Twitter dan Facebook mempertemukan manusia yang sejenis atau seide, demikian juga dengan platform jejaring sosial seperti WhatsApp Group dan lainnya.
Maka lahirlah apa yang disebut oleh Seth Godin sebagai Tribes yakni sekumpulan manusia yang terhubung satu sama lain, memilih pemimpin dan terhubung dengan sebuah ide dimanapun mereka berada, diikat oleh kedekatan ideologis gagasan atau minat.
Di media sosial pun kita cenderung berkelompok dengan orang orang seide dengan kita, berteman dan mengikuti atau memfollow akun-akun yang menarik perhatian kita.
Teknologi AI Artificial Intelegence pun memfasilitasinya atau justru semakin memperparahnya dengan algoritma yang membentuk “niche” atau ceruk pribadi.
Alhasil sangat mudah bagi kita untuk terperangkap dalam lingkaran gagasan yang itu itu aja. Membuat kita militan sehingga kita cenderung tidak memiliki sikap kritis terhadap gagasan-gagasan yang beragam
Geng pertemanan yang dulu terjadi secara fisik sekarang bergeser menjadi geng pertemanan di jejaring sosial dan media sosial.
Di media sosial Twitter muncul istilah Suku baru yaitu “circle” dan “base”. Base adalah akun khusus untuk satu minat tertentu di mana para pengikut dapat mengungkap ide secara anonim dan mendapatkan respon dari luar orang yang tidak dikenalnya Walaupun biasanya juga memicu keributan media sosial biasanya geng pertemanan ini relatif ringan
Suku lainnya muncul dalam bentuk sirkel pergaulan di media sosial. Tanpa ikatan formal tanpa nama tetapi interaksi serta kedekatan gagasan antar orang di sini cukup menonjol.
Di semester Twitter Indonesia beberapa waktu yang terjadi kehebohan tentang pelecehan seksual online yang ujungnya merembet kepada sirkel pelakunya.
Oang-orang dalam sirkel tersebut ikut disalahkan karena tidak bertindak atau karena terus berteman dengan pelaku pelecehan, istilahnya “Guilty by Association”.
Sebaliknya anggota sirkel dapat menjadi pelaku perisakan atau berbelarasa kepada kawannya. Perisakan berjamaah ini kerap terjadi terutama bila terkait pada ideologi dan figur publik serta figur politik.
Jemaah yang sering diseret paling solid dan reaktif adalah PTS Army penggemar BTS. Setiap komentar negatif yang menyerang mereka pasti akan digencar balik habis-habisan secara kolosal.
Namun yang paling menakutkan banyak pengguna media sosial adalah circle pengikut dan pasukan siber dari para figur politik dan partai politik.
Sirkel pengikut biasanya berisi akun otentik yang mendukung sang tokoh secara fanatik, mereka menjadi kelompok pertama yang meradang saat sang tokoh dikritik. Di media sosial beberapa yang menonjol ialah sirkel pendukung Jokowi, Prabowo, Anis dan Ganjar.
Setiap kali kamu bersuara tentang sebuah kasus rakyat, sirkel pengikut beberapa tokoh di atas langsung membanjiri akunmu dengan komentar pedas.
Sebaliknya sirkel pengikut tokoh yang berseberangan segera memanfaatkannya dengan mempergunakan komentar kamu untuk menyerang kedua tokoh tersebut
Situasi seperti ini dilipatgandakan oleh buzzer yang bekerja secara profesional untuk kepentingan sang tokoh politik.
Serangan terhadap pengkritiknya dibalut sistematis. Akun ternakan dikerahkan untuk menyerang pengkritik, tujuannya mengintimidasi sehingga pengkritik ciut hati lalu tidak lagi berani berkomentar, dan akhirnya merebut narasi yang berkembang.
Ini menjadi salah satu tantangan terbesar demokrasi. Kemerdekaan berpendapat diintimidasi sehingga kritik dibungkam, dan tidak terwujud keragaman pandangan yang seharusnya menjadi mekanisme “checks and balance”.
Bayangkan tahun depan ketika kita memasuki tahun politik menjelang pemilihan presiden dan legislatif.
Fenomena pelintiran kebencian dapat dipastikan akan membabi buta melebihi di pesta demokrasi sebelumnya, demikian pula hoax dan berita bohong akan menajamkan polarisasi publik
Kita patut bersiap-siap menghadapnya dengan berbagai mekanisme. Tidak akan mudah karena waktu yang tersedia relatif pendek. Dan keengganan pihak-pihak yang justru diuntungkan oleh fenomena ini.
Semoga Pemilu 2024 berjalan lancar dan dilaksanakan tepat pada waktunya.

