Setiap zaman punya caranya sendiri untuk membuat kekuasaan terdengar indah. Dulu, raja cukup mengucapkan sabda. Rakyat menunduk, abdi dalem mencatat, sejarah menepuk tangan. Sekarang, sabda itu berganti kostum menjadi slogan: dicetak besar-besar, diulang-ulang, ditempel di mana-mana, dari baliho pinggir jalan sampai latar belakang konferensi pers. Isinya sederhana, bunyinya megah, dan maknanya… ya, nanti dulu.
Slogan adalah kalimat pendek dengan ambisi panjang. Ia dibuat agar mudah diingat, sulit diperdebatkan, dan hampir mustahil ditagih. Kata-kata seperti “hibit”, “jiwiri”, “riligiwis”, “ngibrit” atau “Luir biisi” terasa sangat ramah di telinga, tapi licin di tangan. Mau diukur pakai apa? Meteran? Timbangan? Atau cukup pakai perasaan bangga bersama?
Disinilah slogan mulai bekerja bukan sebagai informasi, melainkan sensasi. Ia tidak mengajak berpikir, tapi mengajak merasa. Merasa optimis, merasa bangga, merasa sedang berada di jalur yang benar, meski jalannya berlubang dan papan petunjuknya entah ke mana.
Dalam masyarakat yang masih menyimpan sisa-sisa feodalisme, slogan dengan cepat naik kelas menjadi semacam sabda versi modern. Tidak sakral secara agama, tapi sakral secara sosial.
Mengulang slogan dianggap loyal. Mengkritik slogan dianggap kurang ajar. Menanyakan maknanya dianggap “kok kamu ribet sih?”. Akhirnya, banyak orang memilih aman: mengangguk sambil menyimpan tanda tanya di saku.
Padahal, mayoritas rakyat sebenarnya tidak bodoh. Mereka tahu slogan itu sering berlebihan.
Mereka paham kalimat indah tidak otomatis menambal jalan rusak atau mempercepat layanan. Tapi hidup sudah cukup melelahkan. Harga naik, kerja tak pasti, urusan birokrasi bikin kepala panas. Dalam kondisi seperti itu, slogan berfungsi seperti kopi sachet: bukan menyelesaikan masalah, tapi cukup memberi ilusi hangat.
Maka terjadilah fenomena unik: rakyat sadar, tapi tetap ikut arus. Bukan karena percaya sepenuhnya, melainkan karena ingin percaya. Bukan karena terhipnosis total, melainkan karena capek melawan arus setiap hari. Mengamini slogan menjadi bentuk kompromi psikologis: “Ya sudah lah, semoga saja.”
Di sinilah slogan mulai mirip mantra. Bukan mantra gaib, tapi mantra sosial. Ia bekerja lewat pengulangan. Semakin sering diucapkan, semakin terasa normal. Semakin sering ditempel, semakin sulit dipertanyakan. Lama-lama, slogan tidak lagi terdengar sebagai klaim, tapi sebagai kenyataan alternatif. Setidaknya di atas kertas, spanduk, dan pidato.
Masalahnya, feodalisme punya kebiasaan lama: tidak suka ditanya. Dalam logika feodal, bertanya sering dianggap menantang wibawa. Padahal dalam logika demokrasi, bertanya justru tanda partisipasi. Tapi dua logika ini sering bertabrakan di lapangan. Akhirnya slogan diperlakukan seperti benda rapuh: jangan disentuh, nanti pecah.
Yang lebih lucu, rakyat sering didorong untuk ikut menjaga slogan itu. Bukan substansinya, tapi citranya. “Jangan dikritik, nanti jelek nama daerah.” “Jangan diviralkan, nanti malu.” Di titik ini, peran rakyat bergeser pelan-pelan: dari pemilik negara menjadi humas sukarela. Pelayanan boleh biasa saja, asal spanduknya tetap luar biasa.
Namun sejarah membuktikan, kata-kata punya umur simpan. Ketika realitas terlalu sering menampar slogan, sesuatu mulai berubah. Kata-kata megah itu pelan-pelan kehilangan auranya. Mereka turun pangkat, dari slogan resmi menjadi bahan obrolan warung. Dari baliho menjadi meme. Dari pidato menjadi sindiran, “Katanya…”
Dan tidak ada yang lebih ditakuti feodalisme selain ditertawakan. Marah masih bisa dilawan. Kritik masih bisa ditekan. Tapi tawa? Itu berbahaya. Tawa membuat mantra kehilangan daya. Begitu slogan jadi bahan candaan, ia tidak lagi sakral. Ia menjadi manusiawi dan itu awal kehancurannya sebagai alat kekuasaan.
Ironisnya, di fase ini slogan justru mulai memakan tuannya sendiri. Setiap kegagalan dibandingkan dengan kalimat yang dulu dielu-elukan. “Katanya hibit, kok begini?” “Katanya luir biisi, tapi rasanya biasa saja.” Slogan yang tadinya jadi tameng, berubah menjadi cermin besar yang memantulkan kenyataan.
Lalu sikap apa yang paling masuk akal bagi rakyat? Bukan menelan mentah, tapi juga bukan alergi otomatis. Dengarkan slogan sebagai judul, bukan isi laporan. Catat sebagai klaim, bukan fakta. Bangga boleh, tapi jangan sampai lupa bertanya. Karena cinta yang dewasa bukan cinta yang selalu memuji, melainkan cinta yang berani menagih janji.
Slogan seharusnya bekerja seperti pengingat moral, bukan pengganti kerja. Ia boleh jadi doa bersama, asal tidak berubah menjadi jimat yang dipercaya bisa bekerja sendiri. Dan pejabat, betapapun tinggi jabatannya, tetap bukan raja feodal. Ia pelayan publik yang kata-katanya sah untuk diuji, ditanya, bahkan dipatahkan bila tak sesuai kenyataan.
Pada akhirnya, kekuasaan tidak runtuh karena kurang slogan, tapi karena terlalu percaya pada kata-kata sendiri. Dan rakyat tidak menjadi dewasa karena hafal slogan, melainkan karena berani berkata: “Baik, kami dengar. Sekarang, tolong buktikan.”
Nur Izzah Wahidiyah
Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan

