Kematian sering kita bayangkan seperti lampu mati: klik, gelap, selesai. Tidak ada save, tidak ada continue. Padahal, kalau benar-benar begitu, hidup manusia terlalu sia-sia untuk segala drama yang kita jalani macet, cicilan, debat di grup WhatsApp keluarga, sampai perang pendapat soal nasi padang pakai kuah atau tidak.
Marcus Tullius Cicero, filsuf Romawi yang hidup jauh sebelum dunia mengenal like dan subscribe, punya pandangan menarik. Ia bilang, kehidupan orang mati sebenarnya ada di ingatan orang yang masih hidup. Artinya, manusia itu makhluk naratif. Kita hidup sebagai cerita. Dan celakanya atau hebatnya cerita itu sering lebih panjang daripada usia pemiliknya.
Kalau semasa hidup kita dikenal pelit, galak, dan hobi marah-marah, maka itulah “warisan” kita. Tapi kalau hidup kita pernah memberi makna, sekecil apa pun, cerita itu bisa terus diputar ulang. Seperti lagu lama yang entah kenapa masih sering diputar meski penyanyinya sudah lama tiada.
Islam sebenarnya sudah sejak lama bicara soal ini, hanya bahasanya lebih sederhana dan membumi. Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa amal manusia terputus saat wafat, kecuali tiga: ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah, dan doa anak saleh. Bahasa kasarnya: hidup jangan cuma habis buat diri sendiri. Sisakan sesuatu yang masih bisa “bekerja” ketika kita sudah pensiun permanen di alam kubur.
Lucunya, manusia modern sering mengejar keabadian dengan cara yang salah. Ada yang kejar viral, kejar sensasi, kejar pengakuan. Padahal viral itu umurnya pendek. Hari ini terkenal, besok tenggelam. Keabadian sejati justru sering datang dari hal-hal yang tidak ribut, tidak heboh, bahkan sering luput dari kamera.
Ambil contoh Bung Hatta. Wakil presiden pertama Indonesia ini wafat tanpa meninggalkan harta berlimpah. Sepatunya saja konon sampai bertahun-tahun tak terganti. Tapi namanya sampai hari ini masih disebut dengan hormat. Kenapa? Karena Bung Hatta hidup lurus di zaman yang bengkok. Ia menunjukkan bahwa kekuasaan tidak harus membuat seseorang silau. Di negeri yang sering menganggap kejujuran sebagai “barang mahal”, Bung Hatta justru jadi standar moral tanpa perlu teriak-teriak.
Atau Hoegeng Imam Santoso. Mantan Kapolri yang justru makin melegenda setelah wafat. Nama Hoegeng sering disebut dengan satu kalimat sakti: “polisi baik.” dua kata itu terasa seperti legenda urban. Hoegeng hidup sederhana dan tidak silau jabatan. Ia mungkin sudah lama meninggal tapi setiap kali orang bicara soal integritas aparat, nama Hoegeng otomatis muncul. Itulah keabadian versi sunyi tapi berisik.
Lalu ada HOS Tjokroaminoto. Seorang guru bangsa yang rumahnya sederhana tapi pikirannya luar biasa. Dari rumah kontrakan itulah lahir tokoh-tokoh besar dengan ideologi berbeda-beda. Bayangkan, satu rumah kecil bisa “memproduksi” pemimpin bangsa dengan pandangan beragam. Ini bukti bahwa pengaruh tidak selalu datang dari gedung megah. Kadang cukup ruang sempit dan pikiran yang merdeka.
Dari kalangan ulama, kita mengenal KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan. Dua tokoh besar dengan gaya berbeda, tapi sama-sama menanam benih keabadian. KH Hasyim Asy’ari menekankan adab, tradisi, dan kedalaman ilmu. KH Ahmad Dahlan mendorong pembaruan, keberanian berpikir, dan keterbukaan terhadap perubahan. Mereka tidak sibuk memikirkan apakah akan dikenang atau tidak. Mereka sibuk bekerja. Dan justru karena itu, mereka dikenang.
Menariknya, para tokoh ini punya satu kesamaan: mereka tidak hidup untuk pencitraan. Tidak ada drama. Tidak ada pencarian tepuk tangan. Mereka fokus pada nilai. Dan nilai itu yang bertahan. Seperti pepatah, bangunan bisa roboh, tapi prinsip bisa diwariskan.
Dari sini kita belajar bahwa keabadian bukan soal nama besar atau gelar panjang. Keabadian adalah soal dampak. Kadang dampaknya tidak langsung. Kadang baru terasa puluhan tahun kemudian. Tapi ia bekerja pelan-pelan, seperti akar pohon yang tidak terlihat tapi menopang segalanya.
Di level yang lebih kecil, hal ini sebenarnya dekat dengan hidup kita. Seorang guru mungkin tidak terkenal, tapi murid-muridnya berubah arah hidup karena satu nasihat. Seorang orang tua mungkin tidak tercatat dalam sejarah, tapi nilai yang ia tanamkan hidup dalam anak cucunya. Bahkan seseorang yang jujur dalam pekerjaannya bisa menjadi standar moral bagi lingkungannya, tanpa pernah naik panggung.
Maka pertanyaannya bukan lagi soal hidup panjang atau mati cepat. Pertanyaannya lebih usil: setelah kita tiada, apakah hidup orang lain jadi sedikit lebih baik karena kita pernah ada? Atau justru lega karena kita tidak ada?
Keabadian sejati memang tidak megah. Ia sering hadir dalam hal-hal kecil: kejujuran, konsistensi, keberanian berkata benar, dan kesediaan memberi manfaat. Semua itu mungkin tidak viral, tapi sangat membekas.
Pada akhirnya, kematian hanyalah akhir dari tubuh, bukan akhir dari cerita. Kita semua sedang menulis narasi, sadar atau tidak. Setiap hari, lewat sikap dan pilihan, kita menanam benih di ladang ingatan orang lain. Entah benih kebaikan, atau sebaliknya.
Dan mungkin, hidup yang paling masuk akal adalah hidup yang tidak sibuk ingin abadi, tapi sibuk memberi arti. Karena dari sanalah keabadian justru diam-diam tumbuh.
Hgr Dinandaru Shobron
Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan

