Di sebuah desa yang kaya minyak, sebuah BUMD bernama Pertintin didirikan dengan janji menyejahterakan warga melalui distribusi BBM yang murah dan berkualitas.
Setiap tahun, BUMD Pertintin mengimpor BBM dari desa tetangga dengan anggaran Rp.100 M. Anggaran ini seharusnya digunakan untuk membeli minyak berkualitas, mengolahnya di kilang desa, dan menjualnya dengan harga terjangkau kepada warga.
Namun, sebelum minyaknya tiba, uangnya justru sudah disedot oleh para pemain utama di desa.
Pak Lurah mengambil Rp.20 M untuk kepentingan pribadi, mulai dari pembelian tanah baru, persiapan kampanye periode selanjutnya, hingga menjaga stabilitas kekuasaannya.
Ketua dan Anggota BPD mengantongi Rp.15 M sebagai “beli diam” agar semua kebijakan BUMD bisa disetujui tanpa perdebatan.
Partai Berjaya, Partai Berjiyi, Partai Berjuyu, mendapat jatah Rp.25 M dibagi Ketua umum, pengurus dan kas Partai, agar tetap loyal mendukung Pak Lurah dan kebijakan minyaknya.
Pak Jagabaya sebagai aparat Desa disuplai Rp.10 M agar tetap tutup mata terhadap potensi penyelewengan, serta mengamankan situasi jika ada warga atau wartawan yang mulai bertanya-tanya.
Makelar Impor Minyak mendapat Rp.15 M sebagai komisi pengadaan minyak.
Minyak yang diimpor bukanlah minyak berkualitas tinggi, melainkan minyak murahan yang sudah dicampur zat kimia.
Dari Rp.100 M anggaran, hanya Rp.15 M yang benar-benar dipakai untuk membeli minyak, itupun kualitasnya sudah jauh di bawah standar.
Warga mendapat BBM berkualitas rendah, tetapi harus membayar harga tinggi.
Untuk menutupi biaya korupsi dan tetap memperoleh keuntungan besar, BUMD Pertintin mulai bermain curang. BBM yang dijual ke warga dicampur zat lain untuk meningkatkan volume dan merubah warna. Premium dicampur bubur kacang ijo, membuat volumenya meningkat tetapi kualitasnya menurun drastis. Pertamax dioplos pakai santan ang membuat mesin kendaraan warga sering mogok.
Ketika beberapa warga mulai menyadari kejanggalan dalam kualitas BBM, mereka mencoba melaporkan ke Pak Jagabaya.
Bahkan beberapa wartawan mulai menggali lebih dalam tentang permainan bisnis kotor ini.
Tapi inilah saat konspirasi oligarki minyak bekerja. Semua pemain utama yang terlibat dalam skandal ini saling sandera dan tutup mulut.
Karena jika satu orang jatuh, yang lain akan ikut terseret. Pak lurah yang sekarang sudah mantan, tetap aman, karena kalau dia diselidiki, uang yang mengalir ke Ketua dan Anggota BPD dan partai desa juga akan terbongkar.
Ketua BPD diam, karena membuka mulut berarti dia sendiri akan kena kasus korupsi. Pak Jagabaya pura-pura tidak tahu, karena sudah kecipratan miliaran rupiah untuk memastikan situasi tetap “tenang”.
Partai partai Desa juga diam, karena jika bicara keras, mereka juga akan diperiksa.
Laporan warga akhirnya memang diproses. Tapi kasus ini pun sengaja dibiarkan menggantung.
Mungkin akan sampai disidang, tapi mereka tidak akan pernah benar benar dipenjara. Apalagi kok sampai tuntas. Apalagi sampai membongkar skandal lain yang masih sangat banyak.
Ini tak hanya soal BUMD Pertintin. Timah, Nikel, Emas. Batubara. Hutan. Asuransi sampai pagar laut juga kayak gini.
Haqul yakin, hari hari ini para petinggi Desa juga sedang merencanakan modus korupsi baru lagi. Dan juga banyak proses korupsi yang sedang berjalan. Supaya harta mereka berlipat lipat Triliun.
Sementara, rakyat kecil nan mungil sedang pusing mikir nanti buka dan sahur pakai apa. Dan sudah mulai mumet ngitung ongkos mudik, oleh oleh buat mertua, dan baju anak anaknya untuk lebaran.
Yogyakarta
1 Maret 2025
Teguh Santoso Sekjen Gerakan Anak Bangsa

