AKU TIDAK AKAN MELEPASKAN PAKAIAN YANG ALLAH KENAKAN KEPADAKU (Utsman bin Affan)
Khalifah Utsman bin Affan menolak mundur atas desakan para pemberontak yang mau merebut kepemimpinan umat Islam.
Pemberontakan terhadap Utsman dipimpin oleh berbagai kelompok yang merasa tidak puas dengan kebijakannya. Mereka berasal dari beberapa wilayah Islam seperti Mesir, Kufah, dan Basrah.
Pemberontakan ini dipicu oleh berbagai faktor, termasuk propaganda politik. Salah satu tokoh utama di balik fitnah ini adalah Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam.
Kelompok pemberontak dari Mesir, Kufah, dan Basrah akhirnya bergerak menuju Madinah dengan alasan ingin menyampaikan protes terhadap kebijakan Utsman.
Setelah mereka tiba dan berdialog dengan Utsman, semua tuduhan yang mereka ajukan berhasil dibantah dengan bukti yang jelas.
Dalam situasi genting itu, Utsman mengucapkan kata-kata yang kelak menjadi terkenal, “Aku tidak akan melepaskan pakaian yang Allah kenakan kepadaku.”
Kata “pakaian” yang dimaksud adalah kekhalifahan, yang baginya merupakan amanah dari Allah yang tidak boleh dilepaskan hanya karena tekanan manusia.
Sikapnya ini sesuai dengan wasiat Rasulullah SAW yang pernah bersabda kepadanya, “Wahai Utsman, sesungguhnya Allah akan memakaikan pakaian kepadamu. Jika orang-orang ingin mencopot pakaian itu darimu, janganlah engkau melepasnya.”
—
Tapi ini Utsman bin Affan, salah satu sahabat paling mulia dalam Islam, dikenal karena keimanannya yang kuat, kedermawanannya, dan kedekatannya dengan Rasulullah. Ia termasuk Asyrah Mubasyarah, sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga oleh Nabi.
Ia juga seorang khalifah ketiga dalam Khulafaur Rasyidin yang memimpin umat Islam setelah Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Jaman itu tidak ada korupsi Minyak, tidak ada upaya menggerogoti keuangan Negara oleh Pejabat.
Dan sekarang, setelah skandal terkuak, kalian mau meniru Sahabat Rasulullah yang mulia, dengan tidak mau mundur?!.
Nggak Pas !!.
Ngaji sampai Iqro berapa !?.
Dalam korupsi Pertamina yang mencapai Rp 1.000 Triliun, pejabat tinggi seperti Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seharusnya menunjukkan tanggung jawab moral dan politik dengan mengundurkan diri.
Sebagai pemimpin di sektor energi dan pengelolaan BUMN, mereka memiliki peran strategis dalam pengawasan dan tata kelola perusahaan negara, termasuk Pertamina.
Ketika skandal sebesar ini mencuat, bukan hanya proses hukum yang harus berjalan, tetapi juga akuntabilitas kepemimpinan. Di banyak negara yang menjunjung tinggi integritas, pejabat yang terseret dalam kasus besar akan mundur untuk menjaga kredibilitas pemerintahan dan menghindari konflik kepentingan dalam proses penyelidikan.
Bahkan, hari ini sudah beredar banyak berita, aliran dana Pertamina selama ini demi nutupi permainan.
Ada yang dapat 70 M per bulan. Ada yang 50 M. Sampai tingkatan staff dapat 20 M sebulan!.
—
Sejak orde lama, orde baru, orde reformasi, sampai orde korupsi saat ini, begitu ada skandal Pejabat yang menggegerkan Negeri ini, selalu pakai pernyataan standar anak kelas 5 SD :
“KITA JADIKAN PERISTIWA INI SEBAGAI MEMONTUM EVALUASI TOTAL”
Pret !!!.
Nggak pernah !!!.
Tidak sekalipun Pemerintah ambil pelajaran, apalagi Evaluasi Total.
Setelah terjadi kasus besar, baru berapa bulan, terulang lagi yang lebih besar. Statement evaluasi, terjadi lagi. Begitu terus. Selalu. Dan Pasti. Nggak pernah selesai.
—
1000 T.
Itu sama saja sejuta Miliar !.
Itu yang di tahan nggak ada takutnya hidup di penjara dengan uang segitu.
Ambil saja recehnya, 500 M. Bagi ke Sipir, kepala penjara, pejabat kemenkum, jaksa, hakim, pemda, kepala keamanan. Hidupnya akan sama nyaman dan nikmatnya dengan diluar penjara.
Negara ini memang milik mereka. Rakyat hanya Numpang.
Numpang menderita
Yogyakarta
4 Maret 2025
Teguh Santoso
Sekjen Gerakan Anak Bangsa

