Mark Zuckerberg baru-baru ini mengonfirmasi sesuatu yang selama ini sebenarnya sudah kita rasakan: media sosial tidak lagi tentang pertemanan. Dalam pernyataannya, CEO Meta itu menyebut bahwa hanya sekitar 20 persen konten di Facebook dan 10 persen di Instagram yang berasal dari orang yang kita kenal. Selebihnya adalah konten yang dipilih algoritma dan kebanyakan dibuat oleh orang asing yang entah siapa.
Zuckerberg menyebut ini sebagai transformasi dari “jejaring sosial” menjadi “mesin penemuan konten.” Bukan soal siapa yang kita kenal melainkan konten apa yang bisa membuat kita bertahan lebih lama di aplikasi. Media sosial telah berevolusi menjadi media hiburan dan algoritma adalah redakturnya.
Fenomena ini dipicu oleh keberhasilan TikTok sebagai platform berbasis algoritma murni. Diaplikasi TikTok, kita tidak perlu mengikuti siapa pun untuk mendapatkan aliran konten yang nyaris tak ada habisnya,cukup geser layar dan dunia tampil di depan mata. Facebook dan Instagram yang awalnya dibangun untuk “menghubungkan orang-orang”, kini beradaptasi, mereka mengikuti arus. Lalu pertanyaannya: ke mana sebenarnya kita sedang diarahkan?
Media sosial awalnya dirancang sebagai ruang sosial tempat kita mencari teman lama, membangun jejaring baru atau sekadar membagikan cerita keseharian. Ada interaksi,ada percakapan,ada hubungan meskipun virtual tetap membawa sentuhan manusia.
Namun kini, ruang sosial itu telah disulap menjadi etalase konten. Umpan kita dipenuhi video lucu, cuplikan debat politik, prank murahan atau tips finansial lima detik yang tampil bukan lagi sahabat kita melainkan akun dengan pengikut ratusan ribu yang entah dari mana datangnya.
Kita berubah dari pelaku interaksi menjadi penonton pasif yang lebih suka menonton daripada menyapa. Lebih sering menyukai daripada benar-benar berbicara dan perlahan, relasi sosial yang menjadi fondasi utama dari konsep media sosial kian memudar.
Apa yang terjadi hari ini adalah paradoks digital: kita hidup dalam keramaian tapi justru makin sepi. Kita tahu apa yang viral di Meksiko atau Korea tapi tak tahu kabar teman kuliah dulu. Kita ikut marah pada isu global tapi lupa membalas pesan WhatsApp dari sahabat sendiri. Kita terkoneksi, tapi tak lagi berhubungan.
Kita mengenal istilah doomscrolling kebiasaan menggulir layar tanpa henti terjebak dalam aliran konten yang tidak pernah selesai. Aktivitas ini bukan saja membuat kita kecanduan tapi juga membuat kita makin jauh dari interaksi yang bermakna. Kita menikmati sensasi informasi tapi kehilangan percakapan.
Dalam jangka panjang ini bisa berdampak serius. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang tinggi terutama tanpa interaksi sosial yang sehat, berhubungan erat dengan peningkatan rasa kesepian, kecemasan dan depresi. Ironisnya, semua ini terjadi di platform yang dulunya dibuat untuk membuat kita “lebih dekat.”
Pemutus rantai hubungan ini bukan sekadar tren, tapi desain. Algoritma tidak peduli siapa sahabatmu. Ia hanya peduli konten mana yang bisa membuatmu bertahan lebih lama. Ia bukan temanmu, bukan keluargamu. Ia adalah mesin tanpa empati yang dibangun untuk satu tujuan: monetisasi perhatian.
Dalam logika algoritma yang sederhana dan jujur sering kali tidak menarik. Sedangkan yang viral, dramatis, ekstrem atau memancing emosi lebih mudah mendapatkan tempat di feed kita maka tak heran jika konten yang paling banyak muncul bukanlah kabar gembira teman, melainkan drama internet terbaru atau konten clickbait yang memicu amarah.
Nah pada titik ini, media sosial bukan lagi ruang publik, melainkan teater algoritmik kita semua adalah aktor yang bersaing demi sepotong atensi dan algoritma adalah sutradara yang menentukan siapa yang layak tampil.
Barangkali tidak banyak kita tidak bisa sepenuhnya melawan arus algoritma tapi kita bisa sadar. Kita bisa mulai menggunakan media sosial secara lebih sadar dan terarah. Mulai menyapa teman, meninggalkan komentar yang bermakna atau sekadar menanyakan kabar sahabat yang sudah lama tak muncul.
Kita bisa memulihkan fungsi sosial dari media sosial meskipun perlahan. Kita bisa memperlambat laju, menolak untuk menjadi hanya konsumen konten dan kembali menjadi manusia yang berinteraksi, bukan hanya menggulir.
Kita juga bisa memilih platform yang masih menjaga ruh sosial meskipun mungkin tidak sepopuler Reels atau For You Page atau menciptakan ruang baru, diluar algoritma untuk kembali berbicara, bertukar pikiran dan berbagi cerita secara manusiawi.
Karena pada akhirnya, apa arti semua ini jika kita kehilangan sisi manusia kita?
Media sosial bisa terus berkembang menjadi apa pun: televisi genggam, papan iklan interaktif atau bahkan pusat perbelanjaan digital tapi jika kita membiarkan interaksi sosial mati di dalamnya, maka ia bukan lagi “media sosial”. Ia hanya “media”.
Dan disana, kita bukan lagi teman. Kita hanya data.
Subang, 26 Mei 2025
Hgr Dinandaru shobron
Pegiat RB Tunas Aksara
Pamanukan

