Solo, Nitikan.id – Salah satu raksasa tekstil Asia Tenggara, PT Sritex, resmi tumbang setelah hampir enam dekade beroperasi. Pada 1 Maret 2025, pabrik-pabrik Sritex di Solo mendadak sunyi, menandai berakhirnya perjalanan panjang perusahaan yang dulunya memasok seragam militer hingga pakaian untuk merek global ternama seperti H&M, Uniqlo, dan Zara.
Lebih dari 10.000 pekerja harus menerima kenyataan pahit kehilangan pekerjaan akibat kebangkrutan perusahaan. Banyak di antara mereka telah mengabdikan seluruh kariernya di Sritex. Kejatuhan ini menjadi salah satu penutupan industri terbesar dalam sejarah Indonesia dan memicu kekhawatiran terhadap masa depan sektor tekstil nasional.
Dari Toko Kecil hingga Raksasa Tekstil
Sritex berawal dari toko kain kecil yang didirikan Muhammad Lukminto di Solo pada 1966. Bisnisnya berkembang pesat, hingga pada 1978 Sritex resmi menjadi perseroan terbatas. Memasuki era 1980-an dan 1990-an, Sritex menerapkan sistem produksi terintegrasi, mengendalikan seluruh proses dari bahan mentah hingga produk jadi.
Perusahaan ini menjadi pemasok utama seragam militer untuk TNI, sebelum akhirnya mendapat kontrak dengan militer Jerman dan NATO. Kesuksesan Sritex semakin terlihat saat mereka mulai memproduksi pakaian untuk peritel global seperti Walmart dan Sears. Pada 2019, perusahaan ini mencatatkan penjualan fantastis sebesar 1,3 miliar dolar AS (21,1 triliun rupiah).
Pandemi Jadi Awal Mula Kehancuran
Namun, kejayaan Sritex mulai runtuh pada 2020 ketika pandemi COVID-19 melumpuhkan rantai pasokan global dan menurunkan permintaan pasar. Penjualan anjlok ke angka 847 juta dolar AS (13,7 triliun rupiah), menyebabkan kerugian pertama dalam sejarah perusahaan.
Utang yang terus membengkak hingga 1,6 miliar dolar AS (26,2 triliun rupiah) pada 2024 semakin menekan perusahaan. Meski sempat melakukan restrukturisasi utang pada 2022, kepercayaan kreditur terhadap Sritex tak kunjung pulih. Pada Oktober 2024, PT Indo Bharat Rayon menggugat Sritex karena gagal melunasi utangnya. Pengadilan mengabulkan gugatan tersebut, dan Mahkamah Agung mengesahkan keputusan kebangkrutan pada Desember 2024.
PHK Massal di Tengah Ramadan, Tunjangan Idulfitri Dipertanyakan
Hanya dalam dua bulan pertama 2025, lebih dari 10.665 pekerja kehilangan pekerjaan di empat pabrik Sritex di Jawa Tengah. Waktu penutupan pabrik yang bertepatan dengan awal Ramadan menimbulkan spekulasi bahwa Sritex sengaja menghindari pembayaran tunjangan Idulfitri.

“Kami bertanya: Apakah ini cara untuk menolak hak kami atas tunjangan?” ujar Slamet Kaswanto, Ketua Serikat Pekerja Sritex, dalam rapat dengar pendapat di parlemen.
Pemerintah berjanji membantu para pekerja terdampak dengan memastikan pesangon dan tunjangan pengangguran diberikan. Namun, nasib ribuan pekerja yang kehilangan pekerjaan masih menjadi perhatian utama.
Pemerintah Cari Solusi, Investor Baru Siap Masuk?
Kebangkrutan Sritex menarik perhatian nasional hingga Presiden Prabowo Subianto turun tangan. Pemerintah telah menugaskan empat kementerian, termasuk Kementerian Perindustrian dan Kementerian Keuangan, untuk mencari solusi penyelamatan.
Meskipun langkah-langkah intervensi sedang dibahas, pemerintah kini lebih fokus menyalurkan mantan pekerja Sritex ke industri lain. Ada kabar bahwa investor baru tertarik menyewa peralatan Sritex untuk melanjutkan produksi, meski belum ada kepastian mengenai kelanjutan operasional perusahaan ini.
Industri Tekstil Indonesia dalam Krisis?
Sritex bukan satu-satunya perusahaan tekstil yang tumbang. Sejak 2019 hingga pertengahan 2024, setidaknya 36 perusahaan tekstil Indonesia tutup, termasuk PT Pismatex yang telah beroperasi sejak 1972.
Pada 2024 saja, 10 perusahaan tekstil memberhentikan hampir 14.000 pekerja. Analis ekonomi Bhima Yudhistira menyebut melemahnya industri tekstil disebabkan oleh tingginya biaya produksi, kebijakan pemerintah yang tidak konsisten, dan kenaikan suku bunga.
Selain itu, Indonesia kesulitan bersaing dengan negara seperti Vietnam dan Bangladesh, yang menawarkan biaya produksi lebih rendah dan lebih menarik bagi merek fesyen global. Masalah semakin diperparah dengan membanjirnya pakaian murah dari China di pasar domestik.
Dampak Besar bagi Ekonomi Nasional
Kebangkrutan Sritex diprediksi berdampak luas terhadap ekonomi Indonesia. Lembaga kajian CELIOS memperkirakan bahwa:
- PDB nasional akan berkurang 0,1%,
- PDB regional di Jawa Tengah bisa turun hingga 0,5%,
- Investor asing bisa semakin ragu menanamkan modal di industri tekstil Indonesia.
Padahal, sektor manufaktur harus tumbuh lebih kuat jika Indonesia ingin mencapai target “Indonesia Emas 2045”, yaitu menjadi negara berpenghasilan tinggi.
“Sektor manufaktur harus menjadi fokus utama jika Indonesia ingin mencapai pertumbuhan ekonomi 8%,” kata Marco Kamiya dari UNIDO.
Akankah Sritex Bangkit Kembali?
Kehancuran Sritex menjadi peringatan keras bagi industri tekstil nasional. Pertanyaannya, apakah ada peluang bagi Sritex untuk bangkit kembali? Atau justru ini menjadi awal dari gelombang kehancuran industri tekstil Indonesia?
Pemerintah dan pelaku industri kini berpacu dengan waktu untuk menemukan solusi. Jika tidak, ribuan pekerja yang kehilangan mata pencaharian hanya akan menjadi bagian dari angka statistik—sebuah gambaran suram bagi masa depan manufaktur Indonesia.

