Saya masih dapat pertanyaan via Wa soal “bagaimana sih sebenarnya kasus Pertamina?”
Pertama, kita ngomong pemainnya dulu. PT Pertamina itu punya anak perusahaan. Jumlahnya banyak. Ada Pertamina Hulu. Pertamina EP. Pertamina Gas. Pertamina Retail. Dll. Fungsi setiap anak perusahaan Pertamina tersebut beda beda.
Diantara anak perusahaan Pertamina itu ada yang namanya Pertamina Patra Niaga, Pertamina Shiping dan Kilang Pertamina.
Patra Niaga fungsinya Impor dan distribusi BBM ke seluruh wilayah NKRI. Kilang Pertamina fungsinya memproses minyak mentah jadi BBM. Pertamina shiping fungsinya menyediakan kapal untuk mengangkut minyak dari luar Negeri.
—
Bagaimana alur permainanya?.
Patra Niaga ketemu sama Pertamina Kilang. Ngobrol nih di Angkringan. Kata Patra Niaga, “Eh, bisa nggak, kalau produksi minyak dibatasi saja, biar kita bisa Impor. Lo kan tahu sendiri, kalau Impor, ntar kita banyak cuannya”.
Sambil makan sego kucing, si Pertamina Kilang bilang, “Siap. Saya kondisikan supaya ngebor minyaknya dibatasi. Tapi jangan lupa ya, ntar bagianku dipastikan”.
Permamainan Pertama : “Kilang Pertamina masih bisa memproduksi minyak dalam jumlah banyak, cuma sengaja dibuat tidak maksimal, supaya masih bisa Impor”.
—
Berlanjut. Patra Niaga menyelenggarakan Tender pengadaan Minyak. Supaya pemenang tendernya adalah perusahaan pilihan, sengaja waktu tendernya dimepetin.
Ketemu lagi nih si Patra Niaga sama Swasta. PT Navigator Khatulistiwa dan PT Jenggala Maritim.
Di Warmindo, sambil makan orak arik telur, si Patra Niaga bilang, “Ini nanti gue adakan tender 10 April ya. Kamu mulai 20 Maret sudah harus siap. Tapi pura pura gak tahu. Ntar kalau aku buka, kamu berdua langsung masukin tender”.
Permainan Kedua, ” Penentuan pemenang Tender sudah dikondisikan, PT Navigator dan PT Jenggala”
—
Langkah selanjutnya, Patra Niaga ketemu dengan Pertamina Shiping.
Ngobrol mereka berdua di emperan rumah sambil minum Es Marimas dan jajan Cilok.
Kata Patra Niaga, “Harga sewa kapalnya berapa?”
“1000 Perak per sekali jalan Kang” Jawab Pertamina Kilang.
“Oke deh. Kamu naikkan 2500 sekali jalan. Yang 1500 kita bagi bagi”.
Permainan ketiga : “Sewa Kapal untuk angkut minyak impor harganya dinaikin”.
—
Deal semua. Kegiatan berlanjut ke Impor minyak nih dari Luar Negeri. Lalu dimana korupsinya?.
Harga beli impornya 100 perak per liter untuk kualitas rendah. Ditulis 170 perak per liter. Korupsi 70 perak per Liter. Untuk kualitas sedang harganya 120 perak, ditulis 200. Minyak kualitas tinggi harganya 200, ditulis 300 perak.
Point 1 korupsinya : “Beli minyak 500 tapi laporanya 1500, korupsi 1000 per liter per kualitas”
—
Selanjutnya, untuk bawa minyak dari luar Negeri kan pakai kapal. Biaya kapalnya 1000 perak per sekali jalan. Ditulis 2.500 perak per sekali jalan. Korupsi 1.500 perak.
Point 2 korupsinya : “Ongkos kapal. Aslinya 1000, bilangnya 2500. Korupsi 1.500”
—
Selanjutnya, minyak yang sudah diimpor tadi, yang berbagai jenis, ada yang kualitas tinggi dan rendah dicampur, dioplos, diblending. Dijual dengan harga kualitas tinggi.
Pointnya 3 Korupsi : Oplos kualitas rendah dan tinggi, dijual dengan harga tinggi.
—
Total dari mark up beli minyak, dari penambahan sewa kapal, dari oplos BBM itulah yang berjumlah 200 T per Tahun, dan selama ini, katanya sudah 1000 Triliun.
Uang siapa itu!?. Uang kita, uang rakyat Indonesia !. Paham kalian!?.
Alur cerita, modus korupsi dan permainannya sederhana banget kan!?.
Pertanyaanya, mungkinkah ini dilakukan hanya sejak 2018!?.
Saya jawab : “PRET”
Tidak mungkin
Yogyakarta
11 Maret 2025
Teguh Santoso,
Sekjen Gerbang

