Ada satu fase dalam hidup ketika kita lagi malas mendengar omongan politisi. Bukan karena mereka tidak pintar, tapi karena mereka terlalu pintar merangkai kalimat. Kata-kata mereka licin seperti belut kena minyak goreng curah. Kita mengejar maknanya, eh dia sudah loncat ke talkshow sebelah.
Pada titik itulah, manusia waras biasanya mencari hiburan yang lebih jujur yakni suara penyair, musisi jalanan, atau minimal status WhatsApp teman yang galau tapi tulus.
Di antara suara-suara itu, nama Romi the Jahat muncul seperti kopi hitam tanpa gula yang di lidah terasa pahit, tapi bikin melek. Ia pernah menjadi vokalis awal Marjinal sejak 1997, zaman ketika reformasi masih hangat dan mahasiswa belum sibuk jadi afiliator. Lalu pada 2008, ia mendirikan Romi & The Jahats di Ragunan. Dari sana, lahirlah suara rock ‘n’ roll yang tidak kenal skincare. Mentah. Organik. Sedikit berdebu. Tapi jujur.
Di komunitas punk, ia dipanggil “Babeh”. Ini bukan panggilan untuk tukang ojek online, melainkan bentuk hormat. Julukan “Rock ’N’ Roll Kotor Indonesia” melekat padanya. Kotor di sini tentu bukan berarti jarang mandi, melainkan tidak dipoles industri. Musiknya tidak pakai filter Instagram. Kalau marah ya marah. Kalau sedih ya sedih. Tidak ada autotune untuk nurani.
Lagu “Pena Bertinta Api” adalah contoh paling gamblang. Liriknya penuh duri, tebing terjal, hujan abu, dan perjalanan tanpa alas kaki. Kalau dijadikan paket wisata, jelas tidak laku di marketplace. Tapi justru di situlah daya tariknya. Hidup memang jarang semulus feed selebgram. Kita lebih sering mendaki bukit batu ketimbang naik lift sosial.
Menariknya, semua itu terasa pas dengan suasana Ramadhan. Puasa itu mirip lagu tersebut yang sama-sama perjalanan menanjak. Kita bangun sahur dengan mata setengah watt, lalu menahan lapar sampai magrib sambil pura-pura tidak kepikiran es teh manis. Siang hari jadi lebih panjang dari antrean bansos. Tapi kita tetap bertahan.
Karena berhenti di tengah jalan alias diam-diam nyemil adalah kekalahan moral yang bikin malu sendiri.
Dalam lagu itu, kemarahan dinyanyikan dan harapan dijeritkan dengan pena bertinta api. Nah, di Ramadhan, kemarahan juga ada, tapi diminta cuti sementara. Kita belajar bahwa marah bisa jadi energi, tapi kalau dilepas tanpa rem hasilnya cuma status Facebook yang bikin keluarga besar ribut. Puasa mengajarkan kita mengelola api, bukan memadamkannya.
Api tetap menyala, tapi untuk menerangi, bukan membakar grup WhatsApp RT.
Ada bagian lirik yang menggambarkan jurang memanggil dan dingin memeluk. Kalau diterjemahkan ke bahasa anak kos, itu momen ketika saldo tinggal tiga digit dan tanggal gajian masih seminggu lagi. Rasanya ingin rebahan saja dan menyalahkan takdir. Tapi tokoh dalam lagu itu memilih berjalan terus. Karena berhenti berarti selesai.
Puasa juga begitu. Menjelang pukul empat sore, tenggorokan terasa seperti gurun Sahara versi low budget. Kepala sedikit pening. Bau gorengan dari warung depan rumah terasa seperti ujian nasional. Tapi kita bertahan. Kita belajar bahwa tidak semua keinginan harus segera dituruti.
Ternyata manusia bisa hidup tanpa ngemil tiap dua jam. Sebuah penemuan ilmiah yang mungkin mengejutkan generasi rebahan.
Ketika lirik menyebut jantung masih berdetak dan asa belum mati, itu terdengar sederhana tapi dalam. Selama masih hidup, masih ada kesempatan memperbaiki diri. Ramadhan membawa pesan serupa. Selama kita masih diberi waktu, masih ada ruang untuk menata ulang niat, memperbaiki sikap, dan ini penting mengurangi komentar nyinyir di kolom berita.
Bagian akhir lagu berbicara tentang luka yang menebal hingga tak lagi terasa nyeri. Pengalaman pahit membuat kita lebih kuat. Dalam puasa, kita juga mengalami versi mininya. Hari pertama berat. Hari kedua masih drama. Hari ketiga mulai terbiasa. Lama-lama tubuh dan hati belajar ritme baru.
Ternyata yang berat itu bukan laparnya, tapi kebiasaan kita yang sulit diatur.
Yang paling menyenangkan dari lagu itu adalah gagasan bahwa lelah bukan pemagar jalan. Lelah justru jadi cerita, jadi ilmu. Ramadhan pun begitu. Lapar bukan tujuan akhir. Ia hanya alat untuk menumbuhkan empati. Supaya kita ingat bahwa di luar sana ada orang yang tidak perlu menunggu magrib untuk merasakan kekurangan.
Di tengah kebisingan politik yang kadang terasa seperti lomba debat tanpa moderator, suara seperti Romi mengingatkan bahwa perubahan tidak selalu datang dari panggung besar. Kadang ia lahir dari kamar sempit, dari gitar tua, dari lirik yang ditulis dengan jujur.
Sama seperti puasa yang mana perubahan tidak diumumkan lewat konferensi pers, tapi terjadi diam-diam di dalam diri.
Pada akhirnya, “pena bertinta api” dan Ramadhan sama-sama mengajarkan satu hal penting yakni keteguhan. Yang satu menyalakan kesadaran lewat kata-kata, yang lain menyalakan disiplin lewat pengendalian diri. Keduanya mengajak kita berjalan terus, meski tanpa alas kaki dan sambil menahan haus.
Dan mungkin, setelah sebulan berpuasa dan sesekali mendengarkan lagu-lagu yang jujur, kita akan sadar bahwa dunia memang berisik, tapi hati tidak harus ikut ribut.
Api itu ada. Tinggal kita mau memakainya untuk menerangi jalan, atau sekadar untuk membakar timeline.
Hegar Dinandaru Shobron
Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan

