Masih ada dan banyak orang Indonesia yang punya akal dan nurani, yang berani menentang kezaliman.
Munir, pejuang Hak asasi Manusia. Memperjuangkan banyak kasus, termasuk hilangnya 24 aktifis dan mahasiswa di Jakarta pada era reformasi 1998.
Munir dibunuh pada 7 September 2004. Dan sampai sekarang tak pernah terkuak siapa dalangnya.
Ada Abi Kusno Nachran. Bang Ono ini satu satunya senator yang pernah saya kagumi. Anggota DPD RI Tahun 2004. Ia kerap melawan penebangan pohon ilegal di Hutan Kalimantan. Ia, sendirian, pernah menggagalkan kapal China yang membawa kayu dari hutan Kalimantan.
Tahun 2001 ia diserang oleh kaki tangan bos penebang kayu, dengan 17 luka tusukan, kehilangan 4 jari di tangan kirinya.
Bang Ono menerima ancaman pembunuhan berupa kotak berisi kain kafan. Beberapa hari kemudian, dia meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas yang misterius, pada Juli 2006.
Banyak, banyak sekali cerita serupa itu.
Tapi, membunuh tokoh kritis akan selalu memunculkan 1000 tokoh kritis lainnya. Kebenaran akan selalu melahirkan 1000 kebenaran baru : “Mati Satu Tumbuh Seribu”.
Tapi menurut saya, yang paling mengerikan dari pembunuhan itu adalah falsafah Jawa :
“Wong Jowo Yen Dipangku Mati”
Orang Jawa jika dipangku (dimanja, dimuliakan) akan mati. Ini bukan soal Jawa. Falasah ini berlaku untuk siapapun.
Fahri Hamzah, mati karena dipangku. Budiman Sujatmiko, mati karena dipangku. Siapapun, yang tadinya kayak Macan, menjadi kerupuk kena air, amesh, Karena dipangku kekuasaan
Saya sedang ngomong soal Pak Kholid.
Nelayan yang luarbiasa cerdas. Public Speakingnya melebihi Menteri, bahkan apalagi Wakil Presiden.
Pak Khalid adalah suara rakyat yang tulus, seorang pejuang kebenaran yang berdiri kokoh melawan kezaliman. Ia berbicara bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk mereka yang terpinggirkan, untuk mereka yang keadilan seringkali hanya menjadi bayangan. Dalam kesederhanaannya, ia telah menyentuh hati banyak orang.
Namun, di tengah popularitas yang mulai tumbuh, rakyat harus waspada.
Undangan dari televisi, podcast, wartawan, dan media lainnya datang bertubi-tubi. Sorotan kamera dan kilauan lampu studio seolah ingin menjadikannya selebritis, bukan penjaga kebenaran. Kita tidak boleh membiarkan hal itu terjadi.
JANGAN SAMPAI PAK KHOLID DIPANGKU.
Pak Khalid bukanlah tontonan. Ia adalah milik rakyat, bukan alat bagi media untuk mendulang perhatian atau bagi penguasa untuk mengalihkan isu.
Jangan sampai Pak Kholid terperangkap dalam gemerlap panggung atau berubah menjadi bagian dari sistem yang justru selama ini ia lawan.
Kita harus menjaganya tetap menjadi simbol perjuangan, bukan sosok yang hanya menambah deretan nama di kursi kekuasaan.
Jangan sampai ia menjadi staf ahli pejabat, terikat oleh birokrasi dan aturan yang bisa melemahkan suaranya.
Jangan sampai Pak Kholid masuk Senayan, sarang para Iblis Bermukim. Pak Khalid harus tetap bebas – bebas untuk berbicara, bebas untuk berpihak pada kebenaran, tanpa kepentingan atau tekanan dari siapa pun.
Jangan sampai Pak Kholid dijebak jadi bintang Iklan: Rosa!. Rosa!. Apalagi jadi pemain Sinetron. Jadi pengamat politik.
Rakyat harus menjadi pelindungnya, menjaga agar ia tetap hidup dalam perjuangan yang murni. Sebab, jika Pak Khalid berubah, kita kehilangan harapan.
Rakyat sedang krisis tokoh Hero. Jangan ambil Pak Kholid dari Rakyat !.
“`Mari bersama menjaga Pak Khalid tetap menjadi apa adanya: sederhana, lugu, sesekali salah ngomong, tulus, cerdas, dan teguh melawan kezaliman serta tetap jadi Nelayan !.“`
Yogyakarta
26 Januari 2025
*Teguh Santoso/Sekjen Gerbang*

