Nitikan.id – Saat ini, tidak sedikit anak muda yang menggantungkan harapan atau cita-citanya untuk menjadi orang sukses, terutama di dalam dunia bisnis.
Merintis karir sebagai pengusaha tentunya tidak mudah. Selain harus banyak belajar dan konsisten, namun memulainya membutuhkan uang modal yang besar.
Hal tersebut tidak dengan yang dilakukan Yura Anggidia Aryatin (20), perempuan sekaligus pelaku usaha mikro kecil menengah (umkm) asal Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Yura memulai usahanya hanya bermodalkan Rp250 Ribu Rupiah, tetapi mampu meraup penghasilan jutaan rupiah setiap minggunya.
Usaha yang sedang dijalankannya yaitu makanan ringan bakso goreng atau terkenal dengan sebutan basreng.
Sebelum sukses berjualan basreng, Yura sempat memulai usahanya dengan memproduksi dan menjual stuff roti.
”Kalo awal ngerintis usaha sendiri itu belum lama sih, di bulan April 2020 jualan stuff roti,” ujar Yura saat diwawancarai melalui pesan WhatsApp pada Rabu, 23 November 2022.
Lanjutnya, Yura mengatakan omset dari stuff roti kurang lebih mencapai dua jutaan dari jumlah penjualan 100 box.
Berselang satu tahun, Yura memutuskan untuk mengganti produk jualannya dari stuff roti menjadi basreng.

Tak disangka, basreng ternyata banyak diminati dan keuntungannya jauh lebih besar dari usaha sebelumnya.
Menurutnya, keuntungan paling kecil kisaran dua sampai tiga juta dan besarnya bisa mencapai empat hinga lima juta selama sebulan setiap dua kali PO.
”Itupun kebantu sama yang sering saya kirim ke (satu ) kantin pabrik daerah cikarang,” katanya.
Harga yang dijualnya per 100 gram seharga Rp10 ribu rupiah. Semisal dalam sebulan menghabiskan 500 pcs, maka keuntungan yang didapat mecapai lima juta.
Saat ini, Yura sudah memiliki 7 reseller dari berbagai daerah, kususnya di cileungsi dan cikarang.
Selain basreng, Yura juga sedang menjalankan berbagai bisnis lain seperti usaha pakaian thrifting atau dikenal dengan baju bekas branded luar negeri yang masih bagus dan layak pakai.
Kemudian kripik kaca dan kripik lumpia dengan berbagai varian rasa.***
***Tulisan ini merupakan kiriman dari Widi Johansyah, Mahasiswa Paramadina Jakarta

