Indonesia punya moto iklan yang sederhana, membumi, dan terasa menenangkan: “Menyelesaikan masalah tanpa masalah.” Kalimat ini seolah berkata bahwa hidup memang berat, tapi jangan ditambah beban baru. Sayangnya, filosofi ini tampaknya tidak pernah singgah di Gedung Putih, terutama ketika Donald Trump kembali memegang kendali. Di sana, berlaku prinsip yang hampir kebalikannya: menyelesaikan masalah dengan masalah, asalkan masalahnya cukup besar, cukup jauh, dan tidak terjadi di halaman rumah sendiri.
Trump bukan politisi yang percaya pada kesabaran struktural. Ia tidak terkenal sebagai pemimpin yang senang membenahi fondasi, memperkuat institusi, atau menunggu hasil jangka panjang. Trump adalah tipe deal maker: cepat, keras, dan harus kelihatan menang. Maka, ketika ekonomi Amerika menghadapi tekanan seperti inflasi yang bandel, pasar tenaga kerja yang mulai dingin, defisit fiskal yang bikin dahi berkerut, solusinya bukanlah perbaikan sistemik yang rumit dan membosankan. Solusinya: guncang dunia luar.
Logikanya terdengar kasar tapi jujur:
“Kalau dapur kita panas, bikin dapur orang lain kebakaran. Nanti panas kita terasa wajar.”
Masalah ekonomi Amerika hari ini memang nyata. Harga hidup belum sepenuhnya jinak, lapangan kerja tidak lagi seramai dulu, dan luka politik domestik belum sembuh. Dalam kondisi seperti ini, pemimpin biasanya dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, berbenah ke dalam: reformasi pajak, penguatan industri, kompromi politik, semua ini perlu waktu, kesabaran, dan kemampuan menjelaskan hal rumit kepada publik. Kedua, menciptakan tekanan ke luar: tarif, ancaman, konflik terbatas, dan drama geopolitik yang bisa dijual sebagai “ketegasan”. Trump, tanpa ragu, memilih opsi kedua.
Bagi Trump, dunia bukan komunitas internasional, melainkan pasar loak geopolitik. Venezuela dilihat bukan sebagai negara dengan rakyat yang kompleks, tapi sebagai cadangan minyak raksasa yang “kurang dimanfaatkan”. Greenland bukan tanah dengan sejarah dan identitas sendiri, melainkan etalase mineral tanah jarang yang kebetulan belum dipajang rapi. Iran bukan sekadar rival politik, tapi tombol tekanan ekonomi yang bisa diputar sesuka hati. Bahkan sekutu Eropa pun diperlakukan seperti rekan bisnis yang terlalu manja dan perlu diingatkan siapa bosnya.
Dalam kerangka ini, geopolitik berubah menjadi zero-sum game. Kalau Amerika untung, orang lain harus rela rugi. Kalau ada yang keberatan, tinggal dinaikkan tarif atau diancam keluar dari permainan. Etika, stabilitas, dan diplomasi panjang? Itu urusan nanti. Yang penting, grafik dukungan pemilih hari ini terlihat bagus.
Trump tampaknya sangat percaya bahwa dunia akan tetap mengikuti permainan ini selamanya. Padahal, negara-negara lain bukan pion mati. Ketika ditekan, mereka belajar. Ketika diancam, mereka mencari jalan memutar. Ketika diperas, mereka membangun aliansi baru. Dunia pelan-pelan menyimpulkan satu hal sederhana: ketergantungan berlebihan pada Amerika adalah risiko strategis.
Ironi besarnya adalah ini: Amerika Serikat menjadi superpower bukan karena paling sering mengancam, tetapi karena dulu paling pandai menciptakan stabilitas. Sistem perdagangan global, aliansi militer, dan kepercayaan pasar dibangun agar dunia relatif tenang dan dalam ketenangan itu, Amerika tumbuh paling cepat. Trump datang dengan pendekatan sebaliknya: ketegangan sebagai bahan bakar politik.
Pendekatan ini memang punya daya tarik jangka pendek. Harga bensin bisa ditekan, industri tertentu bisa dilindungi, dan narasi “America First” terdengar gagah di podium kampanye. Tapi seperti minum kopi lima gelas sekaligus, efeknya cepat dan keras,lalu disusul gemetar. Tarif global berpotensi memicu inflasi balik, ketidakpastian membuat investor ragu, dan sekutu lama mulai menjaga jarak dengan senyum kaku.
Kalau Pegadaian menyelesaikan masalah orang dengan memberi ruang napas tanpa mempermalukan, Trump justru menyelesaikan masalah Amerika dengan membuat orang lain megap-megap. Pegadaian hidup dari kepercayaan jangka panjang. Trump hidup dari ketegangan jangka pendek. Bedanya, kepercayaan adalah aset yang tumbuh, sementara ketegangan adalah utang yang suatu hari harus dibayar.
Dalam banyak hal, kebijakan Trump mirip seseorang yang rumahnya bocor. Alih-alih menambal atap, ia mematikan lampu tetangga agar kebocoran itu tidak terlalu terlihat. Untuk sementara, rumahnya memang terasa lebih terang. Tapi hujan berikutnya tetap datang, dan tetangga yang kesal tidak lagi mau meminjamkan tangga.
Yang membuat pendekatan ini berbahaya bukan hanya dampaknya bagi dunia, tetapi juga bagi Amerika sendiri. Dunia yang terfragmentasi, saling curiga, dan penuh tarif adalah dunia yang mahal untuk semua orang,termasuk negara paling kuat sekalipun. Kekuatan militer dan ekonomi tidak selalu bisa menggantikan hilangnya kepercayaan.
Pada akhirnya, menyelesaikan masalah dengan masalah ala Trump adalah strategi yang terdengar perkasa, tapi rapuh. Ia bekerja selama dunia masih mau ikut bermain. Begitu dunia berhenti percaya, Amerika akan menemukan dirinya menang banyak pertarungan kecil, tapi kehilangan medan perang besar: stabilitas global.
Dan di situlah moto sederhana itu terasa relevan kembali. Masalah memang harus diselesaikan. Tapi kalau caranya adalah dengan menumpahkan masalah ke orang lain, jangan kaget kalau suatu hari masalah itu kembali dengan bunga, denda, dan jatuh tempo yang tidak bisa ditawar.
Pegadaian mungkin tidak menguasai geopolitik. Tapi dalam urusan hidup bersama, ia memahami satu hal yang sering diabaikan para penguasa besar: masalah yang diselesaikan dengan baik tidak meninggalkan dendam.
Trump, sayangnya, tampak lebih percaya pada kemenangan cepat daripada dunia yang tenang. Dan sejarah jarang berpihak pada mereka yang memilih ketegangan sebagai fondasi.
Nur Izzah Wahidiyah
Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan

