Nitikan.id — Dalam memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-79, sosok Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso kembali mengemuka sebagai ikon keteladanan dan simbol integritas di tubuh Kepolisian Republik Indonesia.
Lahir di Pekalongan pada 14 Oktober 1921, Hoegeng dikenal luas bukan hanya karena karier cemerlangnya di kepolisian, tetapi terutama karena kejujuran dan keberaniannya dalam melawan korupsi serta praktik-praktik tidak etis di institusi yang ia pimpin. Ia menjabat sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) pada periode 1968–1971 di masa pemerintahan Presiden Soeharto.
Keteguhan hati Hoegeng dalam menjaga marwah institusi tercermin dalam berbagai tindakannya. Ia berani membongkar kasus penyelundupan besar-besaran, menghentikan perlakuan istimewa terhadap pejabat, dan bahkan menolak segala bentuk suap serta tekanan politik — sebuah sikap yang dianggap langka, bahkan hingga hari ini.
Tak heran, Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah melontarkan sebuah anekdot terkenal yang melekat dalam ingatan publik hingga kini:
“Di Indonesia ini, hanya ada tiga polisi yang jujur: Polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng.”
Pernyataan itu bukan saja mengundang senyum, tetapi juga menjadi kritik tajam dan sindiran halus terhadap kondisi integritas penegak hukum di Indonesia, serta penghormatan tulus terhadap Hoegeng yang dikenal tak bisa dibeli.
Hoegeng menjalani hidup dengan sederhana. Meski pernah menduduki jabatan strategis, ia dan keluarganya hidup bersahaja, bahkan sempat kesulitan finansial setelah pensiun. Namun, ia tak pernah menyesal.
“Lebih baik kehilangan jabatan daripada kehilangan harga diri,” begitu kira-kira prinsip yang ia pegang teguh.
Kini, di usia Bhayangkara yang ke-79, nilai-nilai kejujuran, keberanian, dan integritas yang diwariskan oleh Hoegeng kembali menjadi refleksi penting dalam upaya reformasi Polri. Di tengah tuntutan publik akan transparansi dan profesionalisme, teladan Hoegeng menjadi mercusuar harapan.
Kepolisian Republik Indonesia, dalam momentum peringatan ini, menyatakan komitmennya untuk terus membangun institusi yang bersih, humanis, dan berpihak pada keadilan.
Semangat Hoegeng tak hanya hidup dalam buku sejarah, tetapi juga di hati jutaan rakyat yang masih percaya bahwa polisi bisa, dan menjadi pelindung serta pengayom yang benar-benar dipercaya.

