SURABAYA, Nitikan.id — Polemik yang melibatkan atlet Muay Thai asal Kota Bekasi, Sarah Avilia, kembali mendapatkan perhatian dari dunia olahraga, khususnya di kalangan pengurus organisasi Muay Thai. Setelah kontroversi terkait perlakuan yang dirasakannya dan proses mutasi yang tak sesuai prosedur, kini Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) Muay Thai Jawa Timur, Baso Juherman, turut angkat bicara.
Baso mengecam tindakan yang dilakukan oleh Sarah yang dianggap telah mencoreng nama baik Pengurus Besar (PB) Muay Thai Indonesia, baik di tingkat provinsi maupun nasional. Menurutnya, sikap yang ditunjukkan oleh Sarah menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap pembinaan yang telah diberikan selama ini.
“Sarah memiliki kualitas sebagai atlet, itu tidak bisa dipungkiri. Namun, jika dia tidak memiliki attitude yang baik, apa gunanya kita mempertahankan atlet seperti itu? Lebih baik kita mencari penggantinya yang mau mengikuti aturan dan tata tertib yang berlaku dalam organisasi ini,” ujar Baso Juherman dalam keterangan tertulisnya pada Rabu (6/8).
Tanggapan Soal Peran Orang Tua Sarah
Baso juga menyoroti peran orang tua Sarah dalam situasi ini. Ia menilai bahwa bukannya memberikan dukungan positif, orang tua Sarah justru memperkeruh suasana yang sudah terlanjur tegang.
“Seharusnya orang tua itu menjadi pendukung utama anaknya dalam karier, terutama dalam hal menjaga sikap dan etika. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Orang tua Sarah bukannya membantu menyelesaikan masalah, malah ikut campur dan memperkeruh suasana. Ini sangat disayangkan,” tambahnya.
Dukung Langkah Hukum yang Diambil Kang Evi
Dalam kesempatan yang sama, Baso juga menyatakan dukungannya terhadap langkah yang diambil oleh Ketua Pengprov Muay Thai Jawa Barat, Rahyang Mandalajati Evi Silviadi Sanggabuana (Kang Evi), yang berencana menempuh jalur hukum terkait pemberitaan yang dianggap mencemarkan nama baik organisasi.
“Langkah Kang Evi untuk mengambil jalur hukum sudah sangat tepat. Ini bukan hanya soal masalah pribadi, tetapi soal menjaga kredibilitas dan moral dalam organisasi. Hal ini bisa memberikan pelajaran bagi atlet lainnya bahwa kita harus menghargai proses dan aturan yang ada,” ujar Baso, yang juga mengingatkan bahwa PB Muay Thai harus tetap teguh dalam menjaga integritas organisasi.
Meningkatkan Pembinaan dan Etika Atlet
Baso menambahkan bahwa dalam olahraga, tidak hanya kemampuan teknis yang dibutuhkan, tetapi juga sikap yang baik dan etika yang benar. Tanpa itu, kesuksesan yang diraih akan terasa hampa dan bisa merusak citra organisasi serta menghambat perkembangan olahraga itu sendiri.
“Muay Thai adalah olahraga yang mengedepankan kedisiplinan dan rasa hormat, baik antara atlet maupun dengan pembina. Tanpa hal tersebut, kita hanya akan menciptakan masalah dan keretakan dalam organisasi,” tutupnya.

