Nitikan.id – 1 Syawal 1444 H tahun ini bertepatan dengan peringatan Hari Bumi Internasional.
Hari Bumi diperingati pada 22 April secara internasional. Hari Bumi dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet yang ditinggali manusia ini yaitu bumi.
Tanggal 1 Syawal selalu disambut gembira oleh seluruh umat Islam. Setelah sebulan lamanya melaksanakan ibadah puasa.
Ibadah puasa merupakan sarana yang diberikan oleh Allah agar manusia mampu mempertahankan kefitrahannya itu.
Ibadah puasa mengajarkan kepada kita agar menghilangkan atau meminimalisasi nafsu-nafsu kemanusiaan dan meneladani sifat-sifat keilahian/ketuhanan.
Ibadah puasa pun mengisyaratkan agar manusia senantiasa agar dapat melakukan yang terbaik, ikhlas, jujur dan nilai-nilai kebaikan lainnya.
Jika manusia mampu melakukan pesan-pesan moral ibadah puasa itu dalam kehidupannya, maka layaklah ia berada dalam kefitrahannya dan mendapatkan predikat muttaqin
Setelah menahan diri dari hal-hal yang dilarang serta memperbanyak ibadah, tibalah saatnya merayakan hari Idul Fitri.
Idul Fitri, secara harfiah berarti kembali ke fitrah. , pada momen Idul Fitri ini, setiap umat Islam diharapkan bisa kembali ke fithrahnya yang suci. Untuk mendapat kesucian laiknya bayi yang belum berdosa.
Dosa kepada Allah dapat terhapuskan melalui tobat dan ibadah selama Ramadhan, tetapi dosa kepada sesama manusia tak akan terhapuskan sebelum terjadi pemaafan.
Karena itu, dalam tradisi umat Islam dianjurkan bersilaturrahim satu sama lain untuk bermaaf-maafan.
Bagi umat Islam, keinginan kembali ke fitrah ini berada pada lapis terdalam nurani manusia sebagai konsekuensi dari ikrar primordialnya di hadapan Allah.
Dijelaskan dalam Al-Qur’an, ketika cikal bakal manusia masih berada di alam ruh, Allah bertanya, “Bukankah aku ini Tuhanmu?” Manusia menjawab, “Betul, kami bersaksi” (QS al-A’raf: 172).
Peristiwa ikrar dalam proses penciptaan itulah yang kemudian membuat manusia memiliki potensi hanif, yakni sikap cenderung untuk beriman, sikap yang condong pada kebenaran dan keadilan.
Fitrah manusia, selain bertalian dengan ikrar primordialnya, juga terkait dengan tujuan penciptaannya. Allah mendesain manusia lebih dari sekadar sebagai hamba, karena di dalam diri manusia melekat pula status sebagai khalifah.
Sebelum Adam diciptakan menjadi manusia pertama, terlebih dahulu Allah menginformasikan kepada para malaikat bahwa tak lama lagi akan ada khalifah di muka bumi (QS al-Baqarah: 30).
Khalifah Menjaga Keseimbangan Alam
Makna khalifah di muka bumi, menurut Abdullah ibn Abbas, seorang penafsir Al-Qur’an terkemuka periode Sahabat, adalah wakil Allah di dunia.
Sebagai wakil Allah, manusia bertanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan bumi dan segala isinya.
Bumi harus dikelola sebaik mungkin untuk keberlangsungan kehidupan seluruh makhluk, terutama umat manusia itu sendiri.
Sebagai khalifah, manusia dibekali akal budi dan hawa nafsu. Akal budi membimbing manusia untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan iman.
Capaian ilmu dan iman itulah yang kemudian membuat manusia mampu membedakan baik dan buruk serta benar dan salah, yang pada gilirannya menentukan tingkat kematangan spiritualnya.
Di sisi lain, hawa nafsu mendorong manusia untuk mencari kesenangan-kesenangan duniawi. Yang pada kahirnya akan mengakibatkan kerusakan di bumi.
Sebagaimana makna asal katanya, khalifah di sini dipahami sebagai wakil Tuhan untuk mengurus, mengelola, mengayomi, memakmurkan, dan memanfaatkan segala isi yang ada di muka bumi.
Di samping itu, fungsi kekhalifahan ini juga menegaskan secara meyakinkan akan terbentuknya tatanan pranata sosial yang adil, demokratis, setara, dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam Islam, kedua fungsi di atas harus dapat disinergikan secara seimbang. Tuntutan kehambaan harus dapat diwujudkan secara seimbang dengan tuntutan kekhalifahan.
Tidak dianggap sebagai orang yang baik (insan kamil) jika ia hanya mampu menjalankan fungsi-fungsi kehambaannya, sementara fungsi lingkungan-sosial-kemanusiaan terbengkalai.
Demikian juga sebaliknya, bukanlah orang yang baik jika ia hanya mementingkan tugas-tugas kekhalifahan sementara tugas kehambaannya tidak diaktualisasikan.
Dengan demikian, fitrah manusia adalah menjalankan tugas-tugasnya dengan sukses baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifah di muka bumi secara seimbang.
Oleh karena itu, saatnya kita berbenah diri. Di momen yang langka ini. Momen dimana manusia kembali ke fitrahnya sebagai khalifah di hari raya Idul Fitri, bertepatan dengan peringatan hari bumi.
Mari kita rawat bumi ini agar tetap senantiasa lestari sebagai warisan untuk anak cucu kita.
Pada akhirnya, semua yang dilakukan kita umat manusia sebagai khalifah di bumi akan kembali kepada kita sendiri. Jika kita mampu mengelola bumi ini dengan baik maka keseimbangan ekosistem tentu akan baik. Namun jika sebaliknya, maka kita juga akan menerima akibat dari yang kita perbuat. Wallahu a’lam bishshawab

