Nitikan.id – Siapa yang tak suka yang gratis-gratis? Sepertinya mayoritas orang suka yang gratis. Bagaimana dengan makan siang gratis? Saya sepertinya akan mencoba ikut antri kalau negara menjamin setiap hari ada nasi kotak hangat tanpa harus kerja. Namun, coba pikir 12 langkah lebih jauh, dan tanya lagi siapa yang sebenarnya membayar ini semua?
Jawabannya bukan Presiden, bukan Menteri, bahkan bukan tim kampanye yang penuh semangat meneriakkan “visi-misi”. Yang membayar adalah rakyat, para pembayar pajak. Dan jika pajak tak cukup? Tenang, negara bisa berutang. Artinya anak-anak yang sekarang disuapi makan gratis akan tumbuh untuk membayar utangnya sendiri, plus bunganya. Extraordinary, bukan? Atas nama cinta anak-anak, kita justru menjerat leher mereka sejak dini. Program yang Meng(g)emaskan.
Tapi jangan buru-buru sinis. Katanya ini semua demi nutrisi, demi mengatasi stunting. Kenapa tidak dengan cara sederhana saja? Misalnya… (tak perlu contoh kongkrit, karena banyak contok sekolah tertentu yang pesan makan katering dan berhasil). Ah ya, itu tak se-fotogenik dengan piring nasi dan anak kecil tersenyum. Tak bisa dijual ke media. Tak cukup seksi untuk unggahan Instagram kementerian.
Dan soal efisiensi? Mari tertawa bersama. Ini negara di mana pengadaan seragam saja bisa bengkak miliaran, apalagi makanan. Siapkan diri menyaksikan lelang pengadaan katering bernilai triliunan, kontrak siluman, dan kualitas makanan yang entah layak makan atau layak lempar.
Belum lagi kasus keracunan karena makan gratis. Bentuk tim investigasi, lantas dilupakan sebulan kemudian. Siklus klasik.
Never ever think about anything else when you should be thinking about the power of incentives. Bantuan yang terlalu besar dan tanpa syarat akan menciptakan pola pikir ketergantungan. Keluarga yang tadinya berusaha membekali anaknya kini akan berpikir: “Ah, tak perlu. Kan negara kasih makan.” Sekolah? “Tak perlu repot soal kantin sehat, toh semua dari pusat.” Pemerintah daerah? “Biarkan pusat yang atur, kita tinggal ikut sesi foto”. Semua berhenti berpikir. Semua menunggu dikirimi nasi.
Apa hasil akhirnya? Kita tidak sedang menciptakan generasi sehat, tapi generasi disuapi (investasi untuk pemilu berikutnya). Generasi yang menunggu, bukannya membangun. Dan jangan kaget bila ke depan ada permintaan lanjutan, sahur gratis.
Kita tahu, bukan makan gratis yang bermasalah. Tapi cara populis yang menyertainya. “If you want to guarantee misery, think in the short term”. Kita bisa bantu anak-anak tanpa mengorbankan akal sehat fiskal. Kita bisa beri nutrisi tanpa menciptakan industri nasi kotak oligarki. Tapi itu butuh kerja keras, desain sistem yang cerdas, dan tentu saja keberanian melawan godaan popularitas. Tapi ya begitulah logika politik.
It’s not supposed to be easy. Anyone who finds it easy is stupid.
*****

