Nitikan.id – Dira duduk di depan laptopnya sejak pagi. Sebagai desainer lepas, secara teknis dia bebas mengatur waktu. Namun dalam beberapa minggu terakhir, layar putih di hadapannya masih saja kosong. Tidak ada sketsa, tidak ada konsep, hanya tab YouTube yang terus dibuka dan jendela chat yang sepi.
Pekerjaan rumah pun tertunda. Di sudut dapur tumpukan piring makin tinggi. Di pojok kamarnya dua kantong pakaian kotor menunggu diantar ke binatu. Dira tahu itu semua harus dilakukan. Tapi tidak ada dorongan dan dia merasa itu tidak urgen. Yang ada hanya satu kalimat yang terus terulang dalam kepalanya, “Nanti saja.”
Inilah fase pertama kebosanan. Penolakan terhadap hal-hal yang tidak menarik. Dalam psikologi, ini dikenal sebagai situational boredom. Ada aktivitas tapi tidak mau melakukannya karena otak tidak menganggapnya menarik atau memberi penghargaan emosional. Dopamin, zat kimia yang biasanya hadir saat tertarik atau termotivasi, tidak muncul saat memikirkan tumpukan cucian. Akhirnya aktivitas itu dianggap “tidak layak” untuk energi mental.
Yang menarik adalah penolakan ini tidak membawa Dira pada kegiatan lain yang lebih menyenangkan. Dia tidak menggambar, tidak membaca, tidak pergi keluar. Dia hanya membuka-buka media sosial, scrolling, lalu menutupnya kembali tanpa ada yang benar-benar menyentuh. Waktu berjalan tapi seperti tidak berisi. Inilah lapisan kedua kebosanan yang lebih sunyi dan mengakar, kekosongan eksistensial.
Psikolog Jerman Thomas Fuchs menyebut kondisi ini sebagai mental idleness alias pengangguran mental. Pikiran memiliki kapasitas untuk bekerja tapi tidak diarahkan ke mana pun. Akibatnya individu tidak hanya kehilangan gairah, tapi juga kehilangan struktur dalam dirinya. Otak menjadi mesin yang menyala tanpa tugas dan jiwa menjadi penumpang yang kehilangan peta.
Fenomena ini juga dikaji dalam riset oleh James Danckert dan John Eastwood pada tahun 2020, yang menyimpulkan bahwa kebosanan bukan cuma soal tidak adanya kegiatan, melainkan ketidakmampuan mengaitkan diri dengan makna dari kegiatan yang ada. Dalam banyak kasus, seperti pada Dira, kebosanan menjadi alarm psikologis bahwa seseorang sedang terlepas dari motivasi internal, hal ini disebut sebagai intrinsic goal disconnection.
Kepada terapis Dira mengaku merasa “kosong” walau hidupnya relatif baik. Tidak ada trauma besar atau tekanan akut. Namun justru dalam ketenangan itulah ia merasa hampa. Sang terapis bertanya, “Kapan terakhir kali kamu merasa benar-benar menikmati sesuatu?”
Dira diam lama. Mungkin sebulan lalu, saat tanpa sengaja membuat ilustrasi bunga dari noda kopi di meja kerjanya. Atau ketika dua tahun lalu, dia mengikuti workshop melukis di atas kain. “Tapi itu bukan pekerjaan,” kata Dira. Lalu sang terapis menjawab pelan, “Justru karena bukan pekerjaan kamu bisa benar-benar hadir di sana.”
Dari sinilah proses pemulihan Dira dimulai, bukan dengan dipaksa kembali produktif melainkan dengan memulihkan koneksi antara dirinya dan rasa ingin tahu yang sederhana. Dia mulai mengatur ulang hari-harinya bukan berdasarkan apa yang harus dikerjakan tapi apa yang bisa memberinya energi batin. Kadang jalan kaki pagi tanpa tujuan. Kadang mencoba membuat gambar digital tanpa klien. Dia mulai menerima kebosanan sebagai ruang hening yang perlu didengarkan, bukan musuh yang harus dihindari.
Kisah Dira bukanlah kisah luar biasa. Dia adalah gambaran umum banyak orang di era modern yang hidup dalam tekanan produktivitas tapi kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri. Dira diajarkan untuk sibuk tetapi tidak diajarkan untuk merasakan. Dira didorong untuk terus bergerak tapi tidak dibekali kompas untuk tahu ke mana dan mengapa.
Kebosanan dua lapis, penolakan dan kekosongan, adalah pengalaman yang menyatukan jutaan orang dalam satu benang halus yang nyaris tak terlihat. Ia bisa menjelma seperti rasa malas, bisa juga menjelma seperti frustasi diam-diam. Solusinya adalah berani duduk berdampingan bersama kebosanan itu, dan hasilnya akan menemukan sesuatu yang tak terlihat oleh mata, bahwa di balik rasa hampa itu tersimpan benih pertanyaan yang jujur, “Apa yang sungguh membuatku hidup?”
Dan dari sanalah, kehidupan yang lebih bermakna bisa mulai tumbuh kembali dengan perlahan.
*****

