Oleh: Nurizzah Wahidah
Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan
Kalau Donald Trump bisa mimpi buruk di siang bolong kemungkinan besar tokoh yang muncul disitu bukan Biden, bukan Obama, tapi… Zohran Mamdani. Ya, betul. Seorang pria muda, kurus,anak imigran asal Uganda keturunan India, beragama islam, mendukung kemerdekaan Palestina dan anti kapitalisme yang kini melaju kencang jadi calon wali kota New York City. Bisa dibayangkan betapa semrawutnya mimpi Trump ketika Zohran bicara di panggung sambil mengutip perjuangan para supir taksi.
Trump dan Zohran adalah dua kutub bumi yang bahkan nggak bisa saling tatap tanpa menyebabkan gempa ideologis kalau Trump itu setara Big Mac yang penuh lemak, mewah dan sering muncul diiklan sedangkan Zohran itu kayak warteg vegan di Queens: sederhana, lokal tapi bikin kenyang pikiran.
Zohran adalah seorang demokrat sosialis yang mana di Amerika Serikat, menyebut “sosialis” saja kadang bisa bikin orang tua langsung peluk salib dan baca Pledge of Allegiance tapi Zohran justru mendeklarasikan: semua warga butuh rumah layak, bus gratis dan layanan kesehatan terjangkau. Trump yang cinta pasar bebas dan pemotongan pajak miliarder tentu melihat Zohran ini kayak anak muda yang kepeleset buku Karl Marx dan jatuh cinta.
Bagi Trump, sosialisme itu momok sedangkan untuk Zohran justru kapitalisme tanpa kendali yang menakutkan.Zohran bukan lahir dari dinasti real estate kaya. Ia lahir di Uganda dari ayah seorang profesor dan ibu seorang sutradara film internasional. Ia Muslim. Ia imigran. Ia pernah ngerap divideo klip bareng nenek-nenekan.
Pendeknya, dia semua hal yang bikin Trump dan fans MAGA mendadak alergi.
Trump yang sering ngecap “Muslim ban” mungkin heran: kok ada anak muda muslim yang pintar, populer, dan punya rencana anggaran kota? Ini kan bukan script Fox News! Zohran adalah bukti bahwa anak imigran bisa tidak hanya berbaur, tapi bersinar bahkan melampaui batas stereotip yang sudah dibentuk Trump dan gengnya.
Zohran adalah pendukung vokal Palestina dan gerakan BDS (Boycott, Divestment, Sanctions). Dia bahkan pernah bilang bahwa jika Benjamin Netanyahu (PM Israel) masuk ke New York, ia harus ditahan atas kejahatan perang. Wah! Buat Trump yang sangat mesra dengan Netanyahu, ini seperti denger anak tetangga nyuruh ayah angkatnya masuk penjara.
Zohran mungkin satu-satunya politisi AS yang bisa bilang: “Saya Muslim, saya mendukung Palestina dan saya ingin membela warga New York dari kejahatan ekonomi dan gentrifikasi.” Kombinasi ini sudah cukup untuk bikin para punggawa sayap kanan bingung: “Kok dia masih hidup sih di politik Amerika?”
Zohran ingin bus gratis,toko sembako kota,penitipan anak gratis,pajak orang kaya. Semua hal yang kalau disebut Trump, mungkin akan disensor sebagai “komunisme”. tapi bagi warga biasa, itu impian.
Bayangkan: kamu tinggal di New York, harga sewa kayak bayar kos di surga naik kereta kayak masuk oven dan Zohran datang bilang, “Tenang, kita bisa bikin hidup kamu waras kembali.” Pasti langsung jatuh hati,kecuali kamu punya saham di Amazon atau kamu… ya, Trump.
Zohran baru 33 tahun tapi jangan remehkan semangatnya kalau Trump senangnya pamer jet pribadi, Zohran justru jalan kaki ke panggung debat sambil menyapa warga satu per satu. Kalau Trump sibuk ngomel di Twitter, Zohran sibuk debat soal keadilan sewa dengan warga lokal di perpustakaan umum.
Perbandingannya Trump kaya sinetron prime time penuh drama dan efek suara “jeng jeng jeng” , sedangkan Zohran ibarat Film indie yang menang festival tapi kadang nggak tayang di bioskop.
Zohran Mamdani mungkin bikin Trump nggak bisa tidur siang tapi buat warga New York yang bosan sama drama elit dan politik uang, dia adalah napas baru. Zohran bukan sempurna tapi jujur, bukan mainstream tapi nyambung ke akar rumput dan yang paling penting: ia tidak takut jadi dirinya sendiri, bahkan saat dunia politik mencoba memaksanya menjadi “aman dan netral”.
Mungkin itu sebabnya Trump gusar karena di balik raut kurus dan gaya rapi Zohran, ada sesuatu yang lebih menakutkan daripada rudal yakni ide yang tidak bisa dibeli.

