Nitikan.id – Kopi dalam banyak kisah manusia modern telah menjadi simbol perjuangan melawan penjajahan yang bernama ngantuk. Teman setia para pelajar yang begadang dan sahabat para pekerja malam yang mengejar tenggat.
Kopi meskipun yang paling pahit dan paling kental tidak pernah benar-benar mampu menahan kantuk yang datang perlahan seperti kabut yang jatuh di pagi hari ini. Bukan karena kopi kehilangan kandungan kafeinnya atau karena tubuhku telah menjadi kebal terhadap stimulan. Ini adalah soal hubungan yang lebih dalam, lebih psikologis, antara huruf-huruf di layar atau buku, serta keinginan untuk tidur yang menyeruak seperti panggilan dari masa remaja.
Fenomena ini terlihat sepele namun justru menyimpan kompleksitas yang menarik untuk diurai secara ilmiah dan populer. Mengapa seseorang yang sehat dengan cukup tidur dan tubuh segar bisa tiba-tiba dilanda kantuk hanya karena mulai membaca atau menulis? Apakah karena teks itu membosankan? Apakah karena aktivitas membaca menurunkan level adrenalin dan mengundang relaksasi? Ataukah karena sistem otak kita telah membentuk hubungan bawah sadar bahwa huruf adalah isyarat untuk tidur, seperti lagu nina bobo bagi bayi?
Pertama-tama, mari kita telaah dari sisi neurologi. Menurut Knyazev, G. G. (Motivation, emotion, and their inhibitory control mirrored in brain oscillations), membaca adalah aktivitas kompleks yang melibatkan beberapa bagian otak yaitu visual cortex untuk mengenali bentuk huruf dan Broca’s area dan Wernicke’s area untuk memahami dan membentuk bahasa, serta hippocampus yang bekerja untuk menyimpan informasi baru ke dalam memori jangka panjang. Aktivitas ini terutama bila dilakukan berulang dengan intensitas rendah dan dalam suasana hening justru memicu kondisi otak yang mirip dengan keadaan menjelang tidur.
Dalam penelitian EEG, ditemukan bahwa saat seseorang membaca dengan suasana santai, gelombang otaknya bergeser dari beta (konsentrasi tinggi) ke alfa lalu ke theta, dua pola yang umum saat relaksasi dan tahap awal tidur.
Sementara itu kopi yang mengandung kafein tinggi bekerja dengan menghambat adenosin, senyawa di otak yang bertugas memberi sinyal bahwa tubuh lelah. Kafein bersifat antagonis terhadap reseptor adenosin A1 dan A2A, sehingga meningkatkan kewaspadaan menutut Fredholm, B. B. (Actions of caffeine in the brain with special reference to factors that contribute to its widespread use).
Ketika seseorang membaca dalam suasana sunyi, monoton, dan tidak merangsang emosi secara intens maka tubuh bisa masuk ke mode parasimpatik atau tekanan darah menurun, detak jantung melambat dan kantuk pun muncul meski kafein masih berkeliaran di sistem saraf. Paradoks, bukan? Tubuh ingin terjaga tapi aktivitas yang dilakukan tidak cukup menggairahkan untuk menyalakan sistem siaga (arousal system).
Banyak yg mengalami hal seperti ini dan mungkin Nitikers juga kerap mengalami hal serupa. Seringkali saat duduk di meja kerja, membuka buku referensi atau naskah novel yang perlu disunting, tubuh seperti menafsirkan huruf demi huruf sebagai isyarat tidur. Bahkan semakin berat topik yang dibaca, misalnya tentang fisika kuantum atau UU Penyitaan Aset, kelopak mata ini semakin cepat ingin menutup. Ini bukan hanya soal niat atau komitmen melainkan respons biologis yang butuh kerja extra untuk mencegshnya.
Faktor kedua yang memperkuat fenomena ini adalah psikologi kebiasaan, (Pavlov, Conditioned Reflexes). Banyak dari kita sejak kecil diajak tidur dengan dibacakan cerita. Di kemudian hari ketika kita dewasa dan mulai membaca bukan untuk tidur, tapi untuk belajar atau bekerja, asosiasi itu tetap melekat dalam otak bawah sadar. Teori classical conditioning menjelaskan bahwa stimulus yang sering diasosiasikan dengan tidur dapat terus memicu reaksi serupa meskipun konteksnya berubah.
Kopi hanya menjadi semacam ritual simbolik. Menyiapkan kopi hitam sedikit gula, menuangnya ke cangkir keramik yang somplak sedikit di pinggirnya lalu duduk di kursi dekat jendela. Buka layar laptop, klik file teks, dan mulai membaca. Lima menit pertama masih sadar. Sepuluh menit berikutnya mulai duduk selonjor lalu mulai menguap. Dua puluh menit kemudian posisi duduk mulai berubah dan kepala pun menunduk tanpa izin. Ini pola yang terjadi berulang. Anehnya, bila kegiatan diganti dengan menonton film, bermain gim, atau berdiskusi dengan si bungsu yang mengajak main, rasa kantuk tidak datang. Artinya, huruflah yang menjadi pemicu utama bukan monotonnya aktivitas.
Apakah ada solusinya? Secara teoretis tentu ada. Pertama, memilih posisi membaca, jangan di kursi malas atau di tempat tidur. Kedua, gunakan teknik membaca aktif seperti mencatat, bertanya, dan berdiskusi. Ketiga, atur waktu membaca pada jam tubuh paling waspada menurut rutinitas. Keempat, gunakan pencahayaan yang terang dan hindari suasana terlalu nyaman. Namun dalam prakteknya semua tips ini sering kali ambyar di hadapan satu kekuatan besar yaitu kantuk yang datang dari dalam hati (Czeisler, C. A., Stability, precision, and near-24-hour period of the human circadian pacemaker).
Mungkin Nitikers pernah pernah mencoba berbagai strategi. Membaca sambil berdiri, sambil mengunyah permen, sambil mendengarkan musik klasik atau sambil makan seblak pedas. Namun tetap saja ketika huruf demi huruf muncul di layar dan paragraf panjang mulai mendesak retina untuk fokus, mata seperti kehilangan energi untuk bertahan. Ini bukan soal malas tapi tentang bagaimana tubuh dan pikiran bekerja sama menciptakan kondisi menyerupai tidur meski di tengah upaya keras untuk tetap bangun. Untuk kasus sambil makan seblak pedas mungkin efeknya bukan fokus membaca ya Nitikers…
Ada pula teori menarik dari sisi ergonomi kognitif. Aktivitas membaca memerlukan kerja fokus mikro yang konstan. Artinya mata dan otak harus terus menyinkronkan informasi dalam rentang sempit tanpa variasi gerakan atau perubahan fokus. Hal ini berbeda dengan menonton dimana gambar dan suara terus berubah dan menarik perhatian. Jadi tubuh merespons membaca seperti halnya ia merespons kegiatan meditasi, rileks, hening, dan akhirnya… pulas. (Smallwood & Schooler, The science of mind wandering: Empirically navigating the stream of consciousness).
Menurut Sweller, J. dalam bukunya Cognitive load during problem solving: Effects on learning, dalam ranah psikologi eksperimental ada istilah yang disebut cognitive load yaitu beban kognitif yang dirasakan seseorang saat melakukan tugas mental. Bila bacaan yang dimuthola’ah terlalu berat, dan pembaca tidak memiliki cukup pengetahuan yang melatarinya maka terjadi kelelahan kognitif yang cepat. Ini bisa memicu keinginan tubuh untuk berhenti sejenak yang dimanifestasikan sebagai kantuk. Jadi, mungkin bukan kopi yang gagal tapi otak yang kalah oleh beban informasi yang melampaui kapasitas jangka pendek.
Di sisi lain, bila materi bacaan terlalu ringan dan berulang maka otak menganggapnya sebagai stimulus yang bisa diabaikan, sehingga datanglah efek boredom-induced sleepiness yaitu ngantuk karena kebosanan. Dalam dua kondisi ekstrem ini ,terlalu sulit dan terlalu mudah, membaca selalu mengarah ke satu muara yaitu mengantuk.
Mungkin memang tidak semua orang terjaga karena kopi. Mungkin juga kafein hanya mengaktifkan separuh sistem siaga, sementara separuh lainnya telah terprogram untuk menyerah ketika berhadapan dengan deretan huruf. Maka sebaiknya jangan terlalu berharap pada kopi. Cobalah atur waktu kerja berdasarkan jam tubuh, membaca dengan diselingi aktivitas ringan. Satu hal penting bahwa tubuh memiliki cara bijaknya sendiri untuk menjaga keseimbangan antara produktivitas dan istirahat.
Pagi ini, seperti biasa secara simbolik, aku menyeduh kopi pahit dengan sedikit gula, menatap layar, dan bersiap menata huruf demi huruf. Bukan untuk terjaga tapi untuk mendamaikan segelas kopi dan huruf-huruf yang ku ketik.
*****

