Nitikan.id – Perjalanan hidup tidak selamanya berjalan lurus. Kadang berbelok, berhenti, atau mundur sedikit. Kadang karena ragu, kadang karena terlalu yakin. Di situlah cara berpikir memainkan perannya.
Di sini, kita akan coba mendiskusikan tiga spektrum berpikir yang sering dilakukan. Rasional, irasional, dan satu wilayah abu-abu yang jarang dibicarakan, tetapi justru paling sering dipraktikkan dalam kehidupan nyata, yaitu berpikir taktis-pragmatis.
Rasional adalah cara berpikir yang rapi. Mengacu pada sebab-akibat, pada data dan logika. Segala sesuatunya harus masuk akal. Yang tidak bisa dijelaskan? Abaikan. Yang tidak konsisten? Tolak. Rasionalitas mengajarkan bahwa kebenaran harus bisa dihitung, dipetakan, dan disimpulkan.
Namun kelemahan rasionalitas ialah sering terlambat menghadapi dunia yang bergerak lebih cepat daripada tabel dan rumus. Saat perhitungan telah selesai, situasi sudah berubah. Rasionalitas juga sering lupa bahwa manusia bukan mesin. Ada emosi, ketakutan, gengsi, dan kepentingan yang tidak selalu bisa dirumuskan.
Selanjutnya yaitu Irasional. Berkelindan dengan rasa, keyakinan, naluri, amarah, cinta, dendam, dan harapan. Yang penting terasa benar dan menyentuh hati itu yang akan dipilih. Irasionalitas pun sering tampak berani, heroik, bahkan romantis.
Tetapi irasionalitas juga mudah rapuh. Ia impulsif dan mudah terbakar, serta mudah pula padam. Keputusan sering diambil saat emosi memuncak, tanpa menghitung dampak jangka panjang. Banyak kerusakan besar akibat dari niat yang terasa paling tulus.
Di antara keduanya, ada spektrum ketiga yang jarang disanjung, tetapi sering menentukan hasil akhir, yaitu berpikir taktis-pragmatis.
Tidak berdasar dari ‘apa yang seharusnya benar’, juga tidak dari ‘apa yang terasa benar’, namun beranjak dari satu pertanyaan sederhana. Apa yang dibutuhkan saat ini?
Berpikir taktis-pragmatis tidak mengesampingkan rasionalitas, tapi juga tidak jugs tunduk sepenuhnya. Menggunakan data, namun data yang berdenyut, dan bukan angka yang beku. Memantau situasi, ritme sosial, arah angin, dan bahasa tubuh zaman, serta peka pada momentum.
Cara berpikir ini tidak impulsif, tidak tergesa-gesa bereaksi. Namun menunggu, mengamati, menghitung konsekuensi. Bukan karena takut menghadapi, tapi karena sadar bahwa tindakan yang terlalu cepat sering hanya memuaskan ego, bukan menyelesaikan masalah.
Berpikir taktis-pragmatis juga tidak terikat pada moral ideal yang kaku. Ia tidak bertanya, “Ini benar secara teoritis?” atau “Ini tulus secara emosional?” melainkan, “Jika ini dilakukan sekarang, apa akibatnya? Siapa yang terdampak? Apakah situasi siap?”
Prinsipnya sederhana, yaitu aksi, reaksi, rekalibrasi.
Melangkah satu langkah, lalu melihat apa yang terjadi. Jika reaksi berubah maka strategi pun ikut berubah. Tidak perlu malu untuk mengoreksi diri. Tidak gengsi untuk mengubah arah. Adaptif, bukan karena plin-plan tapi karena sadar bahwa realitas selalu bergerak.
Dalam sejarah sosial, politik, bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kemenangan jarang diraih oleh mereka yang paling rasional atau paling bersemangat. Kemenangan justru sering diraih oleh mereka yang tahu kapan harus diam, kapan bicara, kapan bergerak, dan kapan menunggu.
Berpikir taktis-pragmatis tidak mencari pembenaran moral di awal, namun mencari efektivitas proses dan hasil. Pembenaran bisa diatur belakangan ketika hasil sudah terlihat. Itulah sebabnya cara berpikir ini sering disalahpahami sebagai oportunistik, padahal konteksnya lebih kepada kecerdasan situasional. Seperti yang dilakukan Medici.
Perubahan besar jarang lahir dari ledakan emosi atau proposi sempurna. Perubahan itu lahir dari amplifikasi yang tepat waktu, dorongan kecil yang dilakukan saat sistem sudah retak, saat masyarakat siap, saat risiko bisa ditanggung.
Mungkin cara berpikir ini tidak tampak mulia, tidak heroik dan tidak memikat, namun sering berhasil. Senyap, perlahan, namun presisi.

