Oleh: Hgr Dinandaru shobron
Pegiat rumah baca Tunas Aksara
Pamanukan
Ada keyakinan yang diam-diam hidup di banyak masyarakat Nusantara: bahwa tanah punya kehendaknya sendiri bukan kehendak magis atau klenik tetapi kehendak moral. Tanah semacam ini disebut tanah bertuah, tanah yang tidak memberi tempat bagi pemimpin yang melupakan rakyatnya. Tanah yang mana jika amanah dilukai akan melakukan koreksinya sendiri.
Indonesia adalah salah satu tanah itu dan Subang, sebagai satu fragmen kecil dari tubuh Nusantara, memperlihatkan pola yang sama.
Ada tanah yang jinak: siapa pun bisa memimpinnya tanpa banyak gejolak.
Ada tanah yang keras kepala: konflik mudah muncul di mana-mana.
Namun ada pula tanah yang bertindak sebagai penimbang moral.
Tanah bertuah bukanlah tanah yang memberi keberuntungan pada siapa saja yang datang. Ia justru menguji siapa pun yang berdiri sebagai pemimpin. Ia mengingat dalam cara yang mungkin sulit dijelaskan, siapa yang menjaga rakyat dan siapa yang mengabaikannya. Ketika seorang pemimpin berbelok dari amanah, tanah tidak tinggal diam. Ia akan menegur.
Tegurannya tidak selalu terlihat dalam bentuk bencana atau kejadian besar kadang dalam bentuk keresahan yang merembes pelan dari warung kopi ke ruang kantor. Kadang berupa masalah hukum yang tiba-tiba menemukan jalannya, kadang berupa gerakan rakyat yang mengalir diam-diam lalu menguat menjadi tekanan politik.
Ia seperti bumi yang berbisik, “Jabatan bukan takhta,kuasa bukan kemegahan,amanah harus dijaga.” kemudian ketika bisikan itu diabaikan, langkah pemimpin perlahan menjadi berat.
Sejarah Indonesia sudah berkali-kali menunjukkan bahwa tanah ini tak pernah membiarkan pemimpinnya melupakan rakyat. Ada masa ketika seorang pemimpin dianggap begitu kuat, seolah tak ada yang mampu meruntuhkannya. Namun ketika jarak antara penguasa dan rakyat melebar, tanah ini bergerak melalui tangan rakyatnya sendiri.
Pemimpin itu akhirnya turun oleh desakan dari bawah bukan oleh kekuatan senjata, melainkan oleh energi moral yang memuncak. Peristiwa itu bukan sekadar bab politik, melainkan tanda bahwa Indonesia tidak cocok dengan pemimpin yang menutup telinga.
Tanah Nusantara seperti berkata: ketika rakyat disakiti, kekuasaan tidak akan langgeng.
Subang adalah contoh kecil dari pola besar itu. Dalam sejarah kabupaten ini, beberapa kali kursi pemimpinnya bergeser sebelum waktunya. Ada saja sebab yang muncul: kasus hukum, konflik politik, atau masalah integritas. Dari luar, itu tampak seperti dinamika biasa namun bagi masyarakat yang memperhatikan akar sosialnya, itu lebih dari sekadar kebetulan.
Subang adalah tanah yang sensitif terhadap amanah,ketika pemimpin tidak memuliakan rakyatnya, tanah seolah menolak dan ketika rakyat dijadikan beban bukan tujuan, bumi seakan tidak memberi restu.
Maka jabatan pun tidak menjadi tempat yang nyaman. Ada saja arus sosial yang bergerak pelan lalu menggoyahkan bangunan kekuasaan itu. Ada saja pintu hukum atau politik yang tiba-tiba terbuka, menciptakan ketidakseimbangan yang sulit diredam.
Subang seperti mengatakan: “Kepemimpinan adalah cermin. Apabila kau menodainya, cermin itu akan memecahkanmu.”
Mengapa Tanah Bertuah Menolak Pemimpin Lalai? Mungkinkah tanah benar-benar “menolak” pemimpin?
Jawabannya bukan soal mistik, melainkan soal mekanisme sosial dan moral yang hidup di wilayah tersebut.
Rakyat memiliki ingatan panjang tentang siapa yang pernah menjaga mereka, dan siapa yang pernah mengambil hak mereka. Ingatan itu menetap dalam budaya, percakapan, pengalaman, dan nilai-nilai masyarakat. Ketika pemimpin muncul dengan sikap yang tidak selaras, ingatan itu langsung bekerja sebagai alarm moral.
Keadilan sosial punya cara unik untuk menyeimbangkan keadaan. Ketika ketidakadilan dibiarkan terlalu lama, ia mencari jalan untuk meledak. Dalam wilayah yang bertuah, hal ini terjadi lebih cepat: tekanan sosial menumpuk, ketidakpercayaan tumbuh, dan puncaknya adalah tumbangnya kekuasaan.
Setiap daerah punya ethos tersendiri. Indonesia yang plural, religius, dan penuh semangat gotong royong tidak cocok dengan pemimpin yang arogan. Subang yang hidup dari kerja keras, solidaritas, dan budaya keluarga tidak cocok dengan pemimpin yang merasa lebih tinggi dari rakyat.
Karena itulah, siapa pun yang duduk di kursi tertinggi tanpa memahami ethos tersebut, biasanya tidak bertahan lama.
Di tanah yang bertuah, syarat menjadi pemimpin bukan kekuatan finansial atau kemampuan politik semata yang dibutuhkan justru hal-hal sederhana tapi mendasar.
Pemimpin tanah bertuah mampu berjalan ke kampung tanpa protokol berlebih. Ia tidak butuh ditinggikan, karena dalam dirinya sudah cukup keyakinan bahwa jabatan bukan tempat untuk membesarkan ego.
Ia tahu bahwa inti kekuasaan adalah melindungi yang tak bersuara. Ia menempatkan rakyat kecil sebagai pusat kebijakan, bukan sebagai latar foto.
Tanah bertuah sangat alergi terhadap keserakahan, begitu pemimpin mulai mengumpulkan keuntungan pribadi maka tanah akan bergerak melalui jalur sosial, politik, atau hukum untuk mengganggunya.
Pemimpin seperti ini mungkin tidak populer di kalangan elite, tetapi selalu tertanam di hati rakyat.
Pada akhirnya, baik Indonesia maupun Subang memperlihatkan satu hal yang sama: tanah ini selalu memihak rakyat. Ia tidak membiarkan pemimpin berjalan terlalu jauh dari amanah. Ia memberi sinyal, menguji, lalu menentukan.
Pemimpin boleh merasa kuat, pemimpin boleh merasa tak tergantikan tapi selama tanah tidak merestui, kekuasaan itu tidak akan bertahan.
Sebaliknya, pemimpin yang memuliakan rakyat yang datang dengan hati bersih dan bekerja tanpa drama pasti akan didukung tanah itu sendiri. Ia mungkin tidak spektakuler, mungkin tidak viral, tetapi kehadirannya menenangkan. Tanah bertuah menyukai pemimpin demikian.
Tanah bertuah bukanlah tanah magis. Ia hanya tanah yang menegakkan keadilan dengan caranya sendiri. Ia menjaga keseimbangan antara rakyat dan pemimpin. Ketika keseimbangan itu terganggu, ia melakukan koreksi.
Indonesia telah membuktikan itu.
Subang pun telah merasakannya.
Pada tanah seperti ini, kekuasaan tidak bisa ditopang oleh uang, strategi politik, atau pencitraan. Kekuasaan hanya bisa bertahan jika ia selaras dengan rakyat karena pada akhirnya, tanah bertuah hanya meminta satu hal:
Muliakan rakyatmu, maka tanah akan memuliakanmu.Abaikan rakyatmu, maka tanah akan menyingkirkanmu.
Tanah akan selalu memilih dengan tepat.

