Tagar ini sudah lama membahana di media sosial sejak Desember 2024 dan semakin tedengar kencang hari hari ini.
Tagar ini dimaksudkan untuk kabur dari Indonesia atas kekesalan publik pada kondisi tanah air belakangan. Atas rasa frustasi pada semua hal di Indonesia.
Di #KabuarAjaDulu, Nitizen berbagi pengalaman dan Info beasiswa Study LN, lowongan pekerjaan LN, sampai benar benar pindah kewarganegaraan.
Di beberapa Negara memang ramai menawarkan Kewarganegaraan untuk mengatasi masalah Populasi.
Di Spanyol misalnya, bagi yang mau pindah kesana akan mendapat Gaji Bulanan 2.5 – 5 Jt rupiah.
Di Swiss, pemerintah menawarkan 800 Jt – 1 Milyar rupiah untuk modal awal hidup di Pegunungan Alpen.
Terdekat, Australia, menawarkan 60 Jt rupiah bagi yang mau pindah kesana.
Yunani, akan memberikan tanah, rumah, uang bulanan selama 3 tahun pertama dan pekerjaan tetap bagi siapa saja yang mau menetap disana.
Ramai sekali tagar #KaburAjaDulu. Bisa serius, bisa untuk lucu lucuan.
Tapi faktanya, sejak awal 2025 situs beasiswa LN dan pencari pekerjaan ke LN membludak.
Nyatanya, Dirjen Imigrasi Kementrian Hukum melaporkan sudah ada 4000 lebih WNI yang telah menyatakan pindah Kewarganegaraan menjadi WN Singapura, sepanjang Tahun 2019-2022.
Empat Ribu orang pindah Kewarganegaan!. Bukan angka yang main main untuk Indonesia sejak kita Merdeka 1945.
Pemerintah belum mengeluarkan data terbaru 2023-2024, tapi disinyalir jumlahnya melebihi dari periode sebelumnya.
Memang belum sampai eksodus besar besaran seperti Rohingya di Myanmar, misalnya. Tapi setidaknya ini jadi warning buat Negara.
Kegagalan negara dalam konteks ini tercermin dari ketidakmampuannya menciptakan stabilitas politik, kepastian hukum, serta jaminan keamanan dan kesejahteraan bagi warganya.
Ketika individu atau kelompok merasa bahwa hak-hak dasar mereka terancam, baik akibat kebijakan yang represif, ketidakadilan hukum, maupun ketidakstabilan ekonomi, mereka mulai kehilangan kepercayaan terhadap negara sebagai entitas yang seharusnya melindungi dan memfasilitasi kehidupan yang lebih baik.
Fenomena perpindahan warga negara ke luar negeri bukan sekadar pilihan individu, tetapi sebuah sinyal kegagalan struktural yang menunjukkan ketidakefektifan institusi negara dalam memenuhi harapan masyarakatnya.
Negara yang gagal mengelola perbedaan politik dengan bijak, membiarkan hukum dijalankan secara tebang pilih, serta mengabaikan kesejahteraan dan kebebasan rakyatnya, pada akhirnya hanya akan kehilangan sumber daya manusia terbaiknya yang memilih mencari perlindungan dan peluang di tempat lain.
Ini bukan sekadar eksodus dan atau migrasi, tetapi cerminan dari hilangnya kepercayaan terhadap kemampuan negara dalam menjalankan fungsinya sebagai pelindung dan pemelihara tatanan sosial yang adil dan berkelanjutan.
Yogyakarta
11 Februari 2025
Teguh Santoso/Sekjen Gerakan Anak Bangsa (Gerbang)

