Nitikan.id – Pernah dengar cerita soal pesawat tempur dan lubang peluru dari Perang Dunia II? Kalau belum, duduk dulu sebentar dan baca baik-baik. Kalau sudah, mari kita ulangi dengan cara yang lebih menyebalkan seperti statistik itu sendiri.
Waktu itu saat PD II, para teknisi militer pusing tujuh keliling. Mereka ingin tahu bagaimana caranya membuat pesawat tempur lebih tahan banting di medan perang. Maka dikumpulkanlah data pesawat-pesawat yang berhasil pulang, diperiksa dengan cermat. Dicatat bagian mana saja yang paling banyak berlubang karena peluru musuh. Ternyata, sebagian besar di sayap, ekor, dan badan luar.
Sederhana saja pikirannya: “Tambahkan pelindung di situ!”
Lugas, logis, dan keliru.
Lalu datanglah Abraham Wald, seorang ahli statistik yang (mungkin) tidak punya seragam militer, tapi punya akal yang jauh lebih tajam dari bayonet. Dia bilang, “Kalian hanya melihat pesawat yang berhasil pulang. Artinya, lubang-lubang itu tidak mematikan. Justru yang tidak kalian lihat, yang tidak pulang, kemungkinan besar terkena peluru di bagian vital, mesin, tangki bahan bakar, atau kokpit.”
Dan semua orang terdiam. Mereka baru sadar data yang mereka pegang bukanlah kebenaran mutlak, melainkan potongan kecil dari kenyataan yang lebih besar.
Inilah yang sekarang kita kenal sebagai survivorship bias, kecenderungan melihat dan menyimpulkan sesuatu hanya dari yang selamat, yang berhasil, yang muncul ke permukaan. Sementara yang gagal, tenggelam, patah di tengah jalan tidak pernah masuk ke grafik presentasi.
Lihat YouTuber sukses, dengan studio estetik dan 3 juta subscriber, lalu bilang: “Tinggal bikin konten doang.” Padahal yang tak terlihat puluhan ribu kreator lain yang setiap malam upload video, ngedit sendiri, promosi sendiri, dan akhirnya menyerah sendiri.
Atau lihat startup yang jadi unicorn. Diberitakan di mana-mana, seolah semua anak muda tinggal bikin aplikasi dan investor akan datang seperti jelangkung. Padahal di balik satu unicorn, ada ratusan bangkai startup yang mati tanpa upacara penguburan.
Bisnis kopi literan saat pandemi. Waktu itu, seolah semua orang beralih profesi jadi barista. Kopi dikemas dalam botol, dijual via Instagram, dan meledak. Tapi setelah itu? Banyak yang rontok. Karena ternyata kopi bukan cuma soal rasa, tapi logistik, branding, ketahanan shelf life, sampai urusan pengiriman. Yang bertahan adalah yang punya keunggulan tersembunyi. Entah di modal, jaringan, atau kesabaran ekstra.
Yang tidak bertahan? Tidak pernah masuk berita.
Begitulah statistik bekerja. Ia tidak jahat, hanya saja perlu penyeimbang. Dan sering kali, kita terlalu malas untuk melihat apa yang tidak ditunjukkan oleh angka-angka itu.
Kita lebih suka cerita sukses. Lebih mudah dicerna, lebih menyenangkan. Tapi kebenaran yang lengkap sering kali tersembunyi di antara mereka yang tidak berhasil.
Jadi, lain kali saat ada grafik yang tampak meyakinkan, atau angka-angka yang membuat kita merasa tergoda, berhentilah sebentar.
Tanyakan satu hal “Apa yang tidak terlihat di sini?
*****

