Nitikan.id – Di sebuah lereng gunung pada ketinggian hampir seribu lima ratus meter di atas permukaan laut, saya duduk bersama tiga orang sahabat, meringkuk dalam dingin dan kabut yang menelan lembah. Tak ada sinyal, tak ada papan petunjuk, hanya suara nafas tersengal dan langkah kami sendiri yang tersisa di antara kabut. Peta di tangan bergetar karena angin. Kompas masih setia menunjuk arah utaranya. Seorang teman berkata lirih, “Resection. Orientasi medan”.
Resection adalah teknik dalam navigasi peta untuk menentukan posisi kita saat ini. Kita mengamati dua atau tiga titik pasti di sekitar, seperti puncak, menara, atau tebing, lalu kita tarik garis arah (azimut) dari ketiganya ke arah kita. Titik potong dari tiga garis itu adalah kita. Di situlah kita berdiri. Di situlah kita sebenarnya berada.
Teknik sederhana ini mengajarkan satu hal, kita tak bisa tahu ke mana harus berjalan jika kita belum tahu kita sedang di mana.
Begitu pula dalam hidup. Berapa banyak orang yang berjalan tergesa-gesa, mengejar sesuatu yang samar, hanya karena takut dianggap diam. Mereka berpindah pekerjaan, membeli barang, atau memulai usaha baru bukan karena sadar, tapi karena takut tidak bergerak.
Padahal, seperti kata entah siapa, “Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.” Kita harus melihat ke belakang, ke tiga titik masa lalu yang pasti, pengalaman yang membentuk kita, luka yang mengajarkan ketabahan, dan orang-orang yang pernah menjadi cahaya untuk mengetahui, “Aku sebenarnya ada di mana sekarang?”
Seperti resection, hidup butuh kejujuran. Dan kejujuran paling menyakitkan bukan kepada orang lain, tapi kepada diri sendiri, bahwa aku belum sampai, dan aku bahkan belum tahu aku ada di mana.
Jika resection adalah soal “di mana aku sekarang”, maka intersection adalah “ke mana aku akan menuju.” Dalam ilmu medan, intersection digunakan untuk menentukan posisi suatu objek jauh di depan dengan cara mengamati dari dua titik berbeda dan menyilangkan arah pandang.
Dalam hidup, intersection hadir dalam bentuk pilihan-pilihan yang tampaknya bertabrakan, antara idealisme dan realitas, antara keluarga dan ambisi, antara cinta dan cita.
Namun intersection tidak memaksa kita memilih satu. Ia mengajarkan bahwa dua arah bisa berpotongan di satu titik. Seperti kutipan “Somewhere beyond right and wrong, there is a field. I’ll meet you there.”
Saya pernah bertemu seorang ayah yang bekerja sebagai buruh serabutan, namun setiap malam belajar membuat animasi di gadget jadul demi cita-cita anaknya. Ia berkata, “Saya ingin tetap jadi bapak yang hadir, tapi juga jadi manusia yang hidup dari mimpi.” Ia sedang berada di titik intersection antara cinta dan harapan. Ia menyilangkan dua garis hidup dan menemukan makna.
Mendaki gunung sering kali demi puncak. Tapi mereka yang cukup sering naik gunung akan tahu bahwa kadang yang paling indah justru ada sebelum puncak. Kabut di lembah, aroma lumut basah, tawa di tengah lelah, air terjun yang nenderu, atau kepanikan saat tenda bocor diterpa badai.
Puncak hanyalah satu titik. Tapi arah itulah kehidupan.
Resection mengajarkan kita mengenal posisi diri. Intersection mengajarkan kita membangun tujuan dari arah yang mungkin tampak saling berseberangan.
Dan keduanya mengajarkan, seperti quote “He who knows others is wise; he who knows himself is enlightened.”
Di tengah kabut gunung tak semua bisa diselesaikan dengan bergerak. Kadang kita harus diam, membuka peta, menenangkan diri, dan jujur terhadap tanda-tanda di sekitar kita. Sebab hidup bukan hanya tentang berjalan cepat, tapi tentang berjalan tepat.
Tokoh sufi dari Anatolia saat ditanya mengapa dia tidak terburu-buru seperti orang lain? Ia menjawab, “Aku lebih memilih tahu aku mau ke mana sebelum terlalu jauh berjalan ke tempat yang salah.”
Begitulah, dalam resection dan intersection, kita belajar bahwa arah datang dari kejelasan hati, bukan hanya dari kompas di tangan.
Di titik resection, kita belajar rendah hati, bahwa kita tak selamanya tahu arah. Di titik intersection, kita belajar harapan, bahwa dua arah bisa bertemu dan menjadi satu.
Dan di antaranya kita belajar bahwa Tuhan kerap bekerja lewat persilangan. Persilangan nasib, persilangan jalan, bahkan persilangan doa yang tak pernah selesai di-upload. Dan di situlah kita tidak hanya menemukan arah, tapi juga menemukan diri kita yang sesungguhnya.
*****

