Pandeglang, Nitikan.id– Badak bercula satu, yang dikenal sebagai badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), merupakan salah satu spesies mamalia paling langka di dunia. Satwa endemik Indonesia ini kini hanya ditemukan di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, dan menjadi simbol penting dalam konservasi keanekaragaman hayati. Meski berbagai upaya dilakukan, spesies ini masih menghadapi ancaman serius yang mengancam kelangsungan hidupnya.
Profil Badak Bercula Satu
Badak Jawa adalah satu dari lima spesies badak yang tersisa di dunia, bersama badak putih, badak hitam, badak India, dan badak Sumatra. Ciri khas badak Jawa adalah tubuhnya yang lebih kecil dibandingkan badak India, dengan panjang sekitar 3,1–3,2 meter, tinggi 1,4–1,7 meter, dan berat 900–2.300 kilogram.
Berbeda dari spesies lain, badak Jawa jantan memiliki cula tunggal kecil berukuran kurang dari 25 cm, sedangkan betina umumnya tidak bercula. Habitat favorit mereka adalah hutan hujan dataran rendah, rawa, dan kubangan lumpur. Selain itu, mereka adalah hewan herbivora yang memakan pucuk daun, ranting, kulit kayu, dan semak.
Status Populasi: Kritis
Menurut data terbaru dari Taman Nasional Ujung Kulon dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), populasi badak Jawa pada 2024 diperkirakan hanya sekitar 81 individu. Walaupun ada sedikit peningkatan dibandingkan dekade sebelumnya, status badak Jawa tetap dikategorikan Critically Endangered oleh IUCN dan terdaftar di Apendiks I CITES.
Ujung Kulon kini menjadi satu-satunya habitat alami badak Jawa di dunia setelah populasi di Vietnam dinyatakan punah pada 2011. Kabar baiknya, dua kelahiran anak badak tercatat pada 2023 melalui kamera pengawas, memberikan harapan baru bagi kelangsungan spesies ini.
Ancaman Terhadap Kelangsungan Hidup Badak Jawa
Badak bercula satu menghadapi berbagai ancaman serius, di antaranya:
- Perburuan Liar: Meskipun culanya kecil, permintaan untuk pengobatan tradisional tetap tinggi. Dugaan kematian 26 badak akibat perburuan liar dilaporkan pada 2021.
- Kehilangan Habitat: Invasi tanaman langkap (Arenga obtusifolia) dan kompetisi dengan banteng mengurangi sumber makanan badak.
- Bencana Alam: Lokasi Ujung Kulon yang dekat laut membuat populasi rentan terhadap tsunami dan banjir.
- Reproduksi Lambat: Masa kehamilan badak Jawa mencapai 15–16 bulan dan hanya melahirkan satu anak setiap 4–5 tahun.
Upaya Konservasi Badak Bercula Satu
Berbagai strategi konservasi telah dilakukan untuk melindungi badak Jawa, meliputi:
- Pemantauan Ketat: Menggunakan kamera jebak dan patroli harian untuk memantau populasi dan mencegah perburuan liar.
- Pengelolaan Habitat: Pengendalian tanaman invasif dan pembukaan lahan pakan untuk memastikan ketersediaan makanan alami.
- Ekspansi Habitat: Rencana pemindahan sebagian populasi ke Taman Nasional Gunung Halimun-Salak untuk mengurangi risiko bencana lokal.
- Penegakan Hukum: Penyerahan 202 senjata rakitan dari masyarakat sekitar Ujung Kulon pada 2021 menunjukkan kemajuan dalam upaya perlindungan.
- Dukungan Swasta: PT Pertamina Energy Terminal dan penetapan Ujung Kulon sebagai Geopark UNESCO turut meningkatkan perhatian global terhadap pelestarian kawasan ini.
Tantangan dan Harapan
Meskipun upaya konservasi menunjukkan hasil positif seperti stabilnya populasi dan kelahiran anak badak, tantangan besar tetap ada. Ancaman inbreeding, lambatnya reproduksi, dan potensi bencana alam memerlukan pendekatan konservasi yang inovatif dan berkelanjutan.
Al Muktabar, Penjabat Gubernur Banten, menegaskan, “Bacuya [maskot badak Jawa] harus menjadi simbol kolaborasi semua pihak untuk melestarikan satwa ini.”
Dengan kolaborasi erat antara pemerintah, organisasi internasional, sektor swasta, dan masyarakat, ada harapan untuk menghindarkan badak bercula satu dari kepunahan. Setiap kelahiran anak badak membawa sinar optimisme bahwa spesies ini masih memiliki peluang untuk bertahan di masa depan.

