Oleh: Nur Izza Wahidah
(Pegiat Rumah Baca Tunas Aksara Pamanukan)
Pagi ini hari minggu pertama di bulan Agustus, usai lari-lari kecil Abunawas duduk di bangku semen pinggir alun-alun. Sarung dilipat setengah betis, kaus oblong bertuliskan “Ngopi, Ngopi, Biar Nggak Mati Rasa”, dan sandal jepit warisan zaman kuliah. Ia bukan tokoh dongeng dari Baghdad, bukan juga nabi atau pendekar. Ia hanya pernah jadi guru PPKn yang sudah pensiun dini karena katanya “terlalu jujur saat mengoreksi negara”.
Sementara itu didepannya, Mak Ijah sibuk menuang adonan serabi ke wajan tanah liat. Api kayu menyala semangat dibarengi asap tipis menari di udara seperti bendera usang yang berkibar setengah hati. Satu demi satu serabi menghitam di pinggirnya alias gosong.
“Mak, gosong lagi,” celetuk Abunawas, nyengir.
Mak Ijah menoleh cepat. “Emang sengaja,serabi gosong itu ibarat rakyat kecil, Bang. Kena panas terus tapi nggak pernah dianggap mateng. Mentah aja terus di mata penguasa.”
Abunawas tertawa “Berarti kalau ada yang mateng itu pejabat ya, Mak?”
Mak Ijah mengangkat alis, lalu tertawa juga. “Mateng karena duduknya deket kompor kekuasaan!”
Mereka berdua tertawa. Lucu, pahit, dan penuh gula merah yang sudah karam di dasar wajan.
Beberapa meter dari warung serabi Mak Ijah, berkibar dua bendera di depan kios kelontong. Satu Merah Putih sedangkan yang lain… tengkorak dengan topi jerami. Jolly Roger,bendera kru bajak laut Topi Jerami. Milik Luffy.
“Itu anak-anak nongkrong depan sana yang pasang, Bang,” kata Mak Ijah sambil menunjuk. “Mereka bilang: ‘Kami cinta Merah Putih, tapi kecewa sama isinya’.”
Abunawas memicingkan mata. “Bendera bajak laut di bulan Agustus? Simbol perlawanan?” gumamnya.
Mak Ijah mengangguk pelan. “Zaman dulu orang perang bawa bambu runcing,sekarang anak-anak ngibarin lambang Luffy karena katanya Merah Putih nggak mewakili suara mereka lagi. Lucu ya, Bang, mereka gak benci negara… mereka cuma kecewa.”
Abunawas berdiri,melihat bendera One Piece berkibar di bawah Merah Putih.
“Dulu aku ngajarin soal lambang negara,tentang Garuda,tentang Bhinneka,tentang merah yang berani, putih yang suci tapi kok rasanya sekarang… banyak yang kehilangan rasa itu ya, Mak?”
Mak Ijah mengaduk adonan lagi. “Karena kenyataannya yang berani malah dibungkam yang suci malah dikorupsi. Rakyat liat itu, Bang. Mereka diem, tapi hatinya panas.”
Abunawas mengangguk,diam-diam ia merasakan hangat dari serabi gosong tadi menjalar ke dadanya.
Tiba-tiba, dua anak muda datang. Satu rambutnya dicat biru laut, satunya lagi pakai kaus bertuliskan “Nakama Lebih Penting dari Negara”. Mereka duduk, mesan dua serabi gosong dan teh tawar.
“Pak, Bu, kami bukan pengkhianat ya. Cuma mau ngasih isyarat kalau negeri ini udah kebanyakan aktor tapi minim pahlawan,” kata si rambut biru.
Abunawas tersenyum. “Kalian fans One Piece?”
“Banget, Pak! Luffy itu kayak panutan. Bukan karena dia kuat tapi karena dia gak bisa diem kalau temennya ditindas.”
Mak Ijah tertawa pelan. “Jadi kalian berharap Indonesia punya pemimpin kayak Luffy?”
“Bukan cuma pemimpin, Bu. Kami pengen negeri ini dipimpin sama orang yang gak takut nolak kekuasaan kalau itu nindas yang setia sama rakyatnya, bukan sama istana.”
Obrolan pun melebar.
Mereka bicara soal pajak yang naik tapi jalan tetap bolong. Tentang petani yang panen padi tapi harga jatuh,tentang nelayan yang kalah bersaing sama kapal asing,tentang berita yang bisa dibeli dan suara rakyat yang dipinjam tiap lima tahun sekali kemudian dilupakan.
Mak Ijah menyela, “Luffy itu gak pernah nyalon tapi rakyat di dunia anime percaya dia bakal nyelamatin dunia tapi kalo di sini… orang nyalon aja udah kaya sinetron. Banyak drama, sedikit solusi.”
Anak-anak muda itu tertawa getir. “Mak Ijah, harusnya jadi Menteri Serabi dan Humor Nasional.”
“Waduh, nanti saya disuruh bikin serabi buat kabinet dong. Bisa kelamaan mateng malah gosong lagi,” timpal Mak Ijah.
Abunawas berdiri. Pandangannya menyapu langit yang mulai mendung. Ia berpikir, mungkin benar: Merah Putih itu sakral tapi sakralnya jangan cuma dipakai buat seremoni. Jangan sampai rakyat lebih percaya simbol bajak laut dibanding simbol negara sendiri.
Bendera Luffy bukan tandingan Merah Putih tapi ia jadi alarm untuk penguasa bahwa ada yang salah jika rakyat lebih merasa terwakili oleh bajak laut fiksi dibanding pejabat nyata.
Menjelang siang makin banyak anak muda datang,beberapa bawa kaus “We Are Nakama”, lainnya bawa poster: “Rakyat Bukan Musuh Negara.”
Mak Ijah tetap tenang serabinya terus gosong tapi tetap laku.
“Bang, tahu gak kenapa serabi gosongku tetap dibeli?” tanya Mak Ijah.
“Kenapa, Mak?”
“Karena mereka tahu, gosong bukan berarti gagal. Ada kala , justru gosong itu tanda pernah kena api perjuangan.”
Abunawas terdiam,serabi gosong. Bendera bajak laut, anak-anak muda yang kecewa tapi tetap berharap dan Mak Ijah yang dengan api kecilnya menjaga warung kecil seperti ibu pertiwi yang tetap memasak harapan meski dapurnya selalu digasak harga naik dan janji palsu.
Merdeka,pikir Abunawas mungkin hari ini bukan tentang parade tapi tentang siapa yang masih mau bertahan walau semuanya terasa gosong.
Pada jaman ini, simbol bisa bicara lebih nyaring dari pidato pejabat. Bendera Jolly Roger tak menggantikan merah putih tapi ia menyuarakan hal yang tak bisa diucap: kecewa, muak tapi juga cinta.
Cinta yang masih bertahan meski rasanya terus-menerus digosongkan dan serabi Mak Ijah jadi bukti bahwa gosong itu bukan akhir tapi permulaan rasa yang lebih dalam.

