SUBANG , Nitikan.id – Petani di wilayah Pantura Kabupaten Subang, khususnya di Kecamatan Pamanukan dan Kecamatan Legonkulon, berharap pemerintah segera melakukan normalisasi saluran sekunder (SS) Pangarengan. Kondisi saluran yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi tanah dinilai menghambat distribusi air untuk mengairi lahan pertanian.
Areal pertanian yang terdampak meliputi empat desa, yakni Desa Pamanukan Sebrang di Kecamatan Pamanukan serta Desa Karangmulya, Desa Bobos, dan Desa Pangarengan di Kecamatan Legonkulon. Total luas lahan garapan petani di wilayah tersebut mencapai sekitar 1.000 hektare.
Sejak 2022, para petani di kawasan tersebut mengaku hanya mengandalkan air Sungai Cipunagara untuk memenuhi kebutuhan pengairan setiap musim tanam padi. Untuk mengatasi keterbatasan pasokan air, petani terpaksa menggunakan pompanisasi agar lahan mereka tetap mendapatkan air.

Kondisi tersebut terjadi karena saluran SS Pangarengan mengalami pendangkalan dan penyempitan akibat sedimentasi tanah. Akibatnya, distribusi air menuju lahan pertanian menjadi tidak optimal sehingga petani harus mengeluarkan tenaga dan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan pengairan.
Ade Sanusi, salah seorang petani dari Desa Pamanukan Sebrang, mengatakan bahwa normalisasi saluran SS Pangarengan menjadi kebutuhan mendesak bagi petani di wilayah Pantura Subang.
Menurutnya, normalisasi perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari bagian hulu hingga hilir, agar kapasitas saluran kembali optimal dan distribusi air ke areal persawahan dapat berjalan lebih baik.
“Kami sangat berharap pemerintah bisa melakukan normalisasi sepanjang saluran SS Pangarengan, dari hulu sampai hilir. Kondisi saluran yang dangkal dan menyempit akibat sedimentasi membuat kami kesulitan mendapatkan air untuk mengairi sawah,” ujar Ade Sanusi. Saat dijumpai nitikan.id pada kamis ( 8/10/2026).
Selain normalisasi saluran, petani juga berharap pemerintah membangun bendungan karet di bagian hilir Sungai Cipunagara. Infrastruktur tersebut dinilai penting untuk menjaga ketersediaan air tawar bagi kebutuhan pertanian, terutama ketika terjadi perubahan kondisi aliran sungai akibat masuknya air laut.
Ade berharap pembangunan bendungan karet dapat membantu menjaga agar air Sungai Cipunagara tetap dapat dimanfaatkan untuk mengairi persawahan, sehingga petani tidak terus-menerus bergantung pada pompanisasi setiap musim tanam.
Bagi petani di empat desa tersebut, ketersediaan air merupakan faktor penting dalam menjaga keberlangsungan produksi padi. Dengan luas lahan garapan yang mencapai sekitar 1.000 hektare, perbaikan infrastruktur pengairan diharapkan mampu memberikan manfaat bagi banyak petani sekaligus mendukung produktivitas pertanian di wilayah Pantura Subang.
Para petani berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait segera menindaklanjuti aspirasi tersebut melalui kajian teknis dan langkah konkret. Normalisasi saluran SS Pangarengan serta pembangunan bendungan karet di hilir Sungai Cipunagara diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem irigasi dan menjaga keberlanjutan pertanian di kawasan tersebut.(red).

