Nitikan.id – Jatuh cinta dapat mendatangkan keajaiban pada pikiran, hati dan jiwa. Tapi ada organ lain yang sangat terpengaruh ketika kita jatuh cinta, yakni otak. Saat seseorang jatuh cinta, beberapa bagian otak diaktifkan dan yang lainnya dimatikan. Hal ini tentunya memengaruhi cara kerja otak.
Pada tahun 2005, antropolog biologi, Helen Fisher memimpin penelitian yang menerbitkan sebuah studi yang menyertakan gambar fungsional MRI (fMRI) dari otak manusia yang sedang jatuh cinta.
Tim Fisher menganalisis 2.500 pindaian otak mahasiswa yang melihat foto seseorang yang spesial bagi mereka dan membandingkan pindaian tersebut dengan pindaian lain yang diambil saat mahasiswa melihat foto teman mereka.
Dilansir dari Harvard Medical School, berikut adalah hasil studi tersebut:
1. Otak menjadi aktif di daerah yang kaya akan dopamin
Saat melihat foto orang yang dicintai, otak peserta menjadi aktif di daerah yang kaya akan dopamin, yang disebut neurotransmitter perasaan-baik.
Dua wilayah otak yang menunjukkan aktivitas dalam pemindaian fMRI adalah nukleus berekor, wilayah yang terkait dengan deteksi hadiah, harapan, dan integrasi pengalaman sensorik ke dalam perilaku sosial, serta area tegmental ventral, yang terkait dengan kesenangan dan perhatian terfokus.
Daerah tegmental ventral adalah bagian dari sirkuit penghargaan otak. Sirkuit yang dianggap sebagai jaringan saraf primitif ini terhubung dengan nukleus accumbens.
Beberapa struktur lain yang berkontribusi pada sirkuit penghargaan, seperti amigdala, hippocampus, dan korteks prefrontal, sangat sensitif terhadap perilaku yang menimbulkan kesenangan, seperti seks, konsumsi makanan, atau penggunaan narkoba. Area ini pun menyala pada pemindaian otak saat berbicara tentang orang yang kita cintai.
2. Hormon kortisol meningkat
Saat kita jatuh cinta, bahan kimia yang terkait dengan sirkuit hadiah membanjiri otak kita, menghasilkan berbagai respons fisik dan emosional, seperti jantung berdebar kencang, telapak tangan berkeringat, pipi memerah, serta perasaan bergairah dan cemas.
Tingkat hormon stres kortisol meningkat selama fase jatuh cinta untuk mengatur tubuh kita saat mengatasi “krisis”. Saat kadar kortisol meningkat, kadar neurotransmitter serotonin menjadi habis.
Tingkat serotonin yang rendah memicu stres atau cemas yang mungkin dirasakan saat jatuh cinta.
3. Otak melepaskan dopamin tingkat tinggi
Jatuh cinta juga melepaskan dopamin tingkat tinggi, yakni zat kimia yang mengaktifkan sirkuit hadiah yang membuat jatuh cinta menjadi pengalaman yang menyenangkan, serupa dengan euforia yang terkait dengan penggunaan kokain atau alkohol.
Bukti ilmiah untuk kesamaan ini dapat ditemukan dalam banyak penelitian, termasuk studi yang dilakukan di University of California, San Francisco, dan diterbitkan pada tahun 2012 di Science.
4. Mesin saraf untuk menilai orang lain dimatikan
Poin keempat ini paling sering terjadi saat pemilihan, bahkan dari tingkatan pilkades hingga pilpres.
Selain perasaan positif yang dibawa oleh cinta, jatuh cinta juga menonaktifkan jalur saraf yang bertanggung jawab atas emosi negatif, seperti ketakutan dan penilaian sosial.
Perasaan positif dan negatif ini melibatkan dua jalur neurologis. Satu jalur terkait dengan emosi positif menghubungkan korteks prefrontal ke nukleus accumbens, sementara jalur lain yang terkait dengan emosi negatif menghubungkan nukleus accumbens ke amigdala.
Saat kita jatuh cinta, mesin saraf yang bertanggung jawab untuk membuat penilaian kritis terhadap orang lain mati, termasuk penilaian terhadap orang yang kita cintai. Inilah penjelasan medis dari ungkapan “cinta itu buta”.
☆☆☆☆☆

