Kalau maling ayam digebuki rame-rame, maling uang rakyat malah dipanggil “yang terhormat”. Ironi macam ini memang sudah jadi rutinitas yang kita tonton di layar kaca sambil nyeruput kopi dan memaki dalam hati: “Lah, kok dia malah jadi komisaris?”
Kemudian muncullah satu nama dari arah yang tak terduga: Satria Arta Kumbara. Serdadu eks Marinir TNI AL yang kini viral bukan karena menyelamatkan sandera atau menyelam di palung terdalam tapi karena… gabung dengan tentara Rusia. Iya, Rusia. Negara dingin yang hobi pamer rudal dan parade tank tiap tahun.
Orang langsung ribut di Twitter, Satria dicap pengkhianat, di Facebook, jadi pahlawan, di TikTok? Sudah pasti, jadi konten.
Tapi tunggu sebentar dibalik semua kegaduhan, ada satu suara lirih tapi pedih yang terlontar dari mulut Satria: amarah pada para pejabat maling uang rakyat.
“Kami yang jaga negara malah dibuang. Sedangkan yang maling uang rakyat, hidup mewah.”
Kalimatnya sederhana tapi nadanya menyengat. Kalimat semacam ini tak butuh retorika ala seminar kampus. Ia seperti tamparan dari prajurit yang sudah muak, bukan cuma pada sistem tapi pada ketidakadilan yang dibiarkan tumbuh subur di tanah air sendiri.
Satria bukan akademisi, bukan aktivis LSM, bukan ustaz YouTube yang biasa ceramah soal moral bangsa. Dia cuma serdadu yang merasa dikhianati dan ketika seorang serdadu bicara soal “maling uang rakyat,” kita harusnya dengar. Bukan karena dia benar sepenuhnya tapi karena luka yang ia bawa mungkin serupa dengan luka banyak orang kecil yang tak bersuara.
Sebenarnya, amarah Satria itu bukan cerita baru di warung kopi, di pangkalan ojek, di grup WA bapak-bapak, kita sering dengar keluhan yang sama: “Kenapa maling baju bisa dipenjara lima tahun, tapi korupsi miliaran malah dapat remisi?”
Jawabannya sederhana: karena maling baju tak punya kuasa dan koruptor? Mereka pegang remote-nya.
Satria barangkali merasa jadi pion yang gampang dikorbankan. Seperti prajurit catur, bergerak lurus, loyal, siap mati duluan. Akan tetapi ketika sistem yang dijaga ternyata lebih sayang pada pejabat korup daripada tentaranya sendiri, mungkin ia berpikir: buat apa bertahan?
Apakah dengan bergabung ke tentara asing dia jadi benar? Tentu saja tidak. Kita pun tak boleh gegabah menghakimi tanpa merenung karena dalam marahnya Satria, ada cermin besar buat kita semua: sampai kapan kita biarkan maling berdasi jadi tokoh panutan?
Satria menyebut Indonesia sebagai “negara Konoha” sebuah referensi dari anime Naruto yang bikin banyak orang tersenyum miris karena di Konoha seperti di republik ini kadang pengkhianat justru lebih jujur daripada pemimpin. Kadang si kuat dibela, si kecil disalahkan. Kadang yang setia malah disingkirkan.
Apakah kita perlu membela Satria? Bukan itu poinnya yang harus kita jaga adalah introspeksi: mengapa negara yang katanya berdasarkan keadilan sosial bisa bikin warganya merasa perlu lari ke negara asing demi merasa dihargai?
Apakah Satria cuma satu dari sekian banyak rakyat kecil yang bosan berteriak di tengah sistem yang tuli?
Hari-hari ini, kita lebih sibuk memburu buzzer daripada menyapu bersih koruptor. Kita ribut soal gaya rambut anak presiden tapi diam seribu bahasa saat dana bansos dijadikan alat politik. Kita marah kalau serdadu pindah bendera tapi tak marah ketika uang rakyat dikuras setiap musim proyek.
Satria Arta bukan malaikat tapi ia memberi kita satu pelajaran penting: jangan abaikan suara marah dari akar rumput, karena bisa jadi, marahnya mereka lebih jujur daripada senyuman para petinggi.
Jika hari ini seorang mantan prajurit mengutuk maling uang rakyat, bukan tak mungkin besok giliran petani, nelayan, buruh, guru honorer, atau kita sendiri yang bersuara dan saat itu terjadi, jangan salahkan siapa-siapa.
Karena kita sendiri yang terlalu lama diam saat negeri ini dijarah oleh mereka yang lihai bersilat kata, tapi tak tahu malu makan dari piring rakyat.
Subang, 18 Mei 2025
Hgr Dinandaru Shobron
Pegiat RB Tunas Palapa
Pamanukan

