SUBANG, Nitikan.id – Taman Siswa merupakan sistem pendidikan sekolah yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara saat masa penjajahan.
Sampai saat ini, Taman Siswa masih beroperasi dibeberapa daerah khususnya di Yogyakarta. Selain itu, di Pamanukan Subang Jawa Barat juga masih terdapat Sekolah Dasar Swasta (SDS) Taman Siswa.
SD yang berlokasi di Jl. Taman Siswa No.09, Pamanukan Hilir, Kec. Pamanukan itu saat ini memiliki 235 Siswa dari kelas 1 sampai kelas 6.
Kepala SDS Taman Siswa Didin Nurdin mengatakan bahwa pihaknya masih menerapkan pendidikan dalam ajaran Ki Hajar Dewantara.
“Kami menggunakan proses mengubah dan membimbing siswa dari dorongan nafsu “instincten” yang subsisten, kekanakan dan primitif menuju pada pemahaman dan kesadaran akan adab kemanusiaan yang lebih kompleks,” katanya.
Menurutnya, dalam proses pendidikan diperlukan suatu pemberadaban dengan mengarahkan dan menuntun pada latihan-latihan lahiriah, pekerjaan-pekerjaan praktis untuk mengasah keterampilan dan juga latihan-latihan batiniah (akal-budi) untuk mengasah adab kemanusiaan dan kebudayaan.
“Kita dapat menyimpulkan bahwa ajaran pendidikan dari Ki Hajar Dewantara tidak hanya menekankan pada kecakapan intelektual, kecakapan teknis dan lahiriah semata namun lebih dari itu juga menekankan pentingnya kesadaran akan adab kemanusiaan dan nilai-nilai kebudayaan yang bersifat batiniah,” Ujar Nurdin.
Sebagai sebuah organisasi pendidikan, terdapat tiga semboyan Taman Siswa, yaitu: Ing Ngarsa Sung Tuladha, yang berarti ‘di depan memberi contoh’ Ing Madya Mangun Karsa, yang berarti ‘di tengah membangun semangat’ Tut Wuri Handayani, yang berarti ‘di belakang memberikan dorongan’
Nurdin juga menekankan kepada siswanya untuk tidak bergantung kepada orang lain dan tetap berpegang teguh pada prinsip berdikari (berdiri di kaki sendiri).
“Guru jangan hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik saja, akan tetapi harus juga mendidik si murid akan dapat mencari sendiri pengetahuan itu dan memakainya guna amal keperluan umum,” tandasnya.
Dengan jumlah siswa tersebut, SDS Taman Siswa Pamanukan kini kekurangan kursi sekolah, sehingga untuk sementara siswa menggunakan kursi plastik untuk kegiatan belajar mengajar.
“Seperti yang kami sebutkan, kami tidak bergantung pada siapapun. Tapi kami juga tidak menutup pintu jika ada pihak yang akan membantu kami dengan memberikan apa yang kami butuhkan,” pungkas Nurdin.

