Nitikan.Id, Opini – Harta, tahta, dan wanita sering dianggap sebagai tiga godaan terbesar manusia. Sepanjang sejarah, banyak yang terjerumus karena ketiganya, tetapi ada pula yang mampu menjadikannya sarana menuju kebaikan. Para ulama dan pemikir Islam di Indonesia—seperti Gus Mus, Gus Baha, Ustaz Adi Hidayat (UAH), Fahruddin Faiz, dan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)—memiliki perspektif khas dalam memahami godaan ini. Tulisan ini akan menggali pandangan mereka dan bagaimana tafsir Kitab Jalalain memberikan pemahaman lebih mendalam tentang fenomena ini.
Harta: Antara Ujian dan Amanah
Dalam Tafsir Jalalain, QS. Al-Kahfi ayat 46 menyebutkan:
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”
Gus Baha sering menekankan bahwa harta hanyalah alat, bukan tujuan. Ia mengkritik orang yang terjebak dalam keserakahan dan lupa bahwa rezeki sudah diatur Allah. Gus Mus menambahkan bahwa harta bisa menjadi ujian berat jika tidak disertai kesadaran spiritual.
Sementara itu, UAH menyoroti prinsip mashlahah (kemanfaatan) dan barakah (keberkahan) dalam pengelolaan harta. Dalam banyak kajiannya, ia mengingatkan bahwa harta yang tidak membawa ketenangan justru bisa menjadi azab bagi pemiliknya.
Tahta: Kekuasaan sebagai Ujian Terbesar
QS. Al-Baqarah ayat 247 dalam Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa kekuasaan diberikan kepada siapa yang dikehendaki Allah, sebagaimana kisah Thalut yang dipilih menjadi raja meski berasal dari kalangan biasa. Ayat ini menunjukkan bahwa kekuasaan bukan soal keturunan atau kekayaan, tetapi kapasitas dan kehendak Ilahi.
Fahruddin Faiz menekankan bahwa kekuasaan adalah ujian terbesar manusia. Ia sering mengutip pemikiran filsafat bahwa kekuasaan cenderung korup jika tidak dikendalikan oleh etika dan spiritualitas. Di sisi lain, Cak Nun mengkritik bagaimana sistem politik modern menjauhkan pemimpin dari rakyatnya, membuat mereka lupa bahwa jabatan adalah amanah, bukan hak.
Wanita: Antara Fitnah dan Kemuliaan
QS. Ali Imran ayat 14 dalam Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan mencintai wanita, harta, dan kesenangan duniawi. Namun, ayat ini bukan untuk merendahkan wanita, melainkan mengingatkan bahwa segala sesuatu harus dikendalikan agar tidak menjadi fitnah (ujian berat).
Gus Mus sering menyoroti bagaimana perempuan dalam Islam harus dihormati sebagai mitra dalam kehidupan, bukan sekadar objek nafsu. Gus Baha juga menegaskan bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur’an, seperti peran Siti Maryam dan Ratu Bilqis, menunjukkan bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap, tetapi memiliki posisi strategis dalam peradaban.
Dalam banyak kajiannya, UAH menegaskan bahwa Islam tidak mengharamkan harta, tahta, dan wanita, tetapi mengajarkan keseimbangan dalam mengelolanya. Ia mengutip QS. Al-Furqan ayat 67, yang menegaskan pentingnya hidup sederhana dan tidak berlebihan dalam membelanjakan harta.
Fahruddin Faiz juga mengaitkan tiga hal ini dengan filsafat kehidupan: harta sebagai simbol materi, tahta sebagai simbol kehendak, dan wanita sebagai simbol cinta dan kasih sayang. Ia menekankan bahwa manusia yang bijaksana adalah mereka yang mampu menyeimbangkan ketiganya tanpa diperbudak oleh salah satunya.
Kesimpulan: Mengelola, Bukan Menghindari
Harta, tahta, dan wanita bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi perlu dikelola dengan kebijaksanaan. Tafsir Kitab Jalalain mengajarkan bahwa ketiganya bisa menjadi sarana menuju kebaikan atau justru jebakan menuju kehancuran, tergantung bagaimana manusia menyikapinya.
Melalui perspektif Gus Mus, Gus Baha, UAH, Fahruddin Faiz, dan Cak Nun, kita belajar bahwa manusia sejati adalah mereka yang tidak diperbudak oleh dunia, tetapi justru menjadikan dunia sebagai jalan menuju perjumpaan dengan Tuhan.
Subang, 13 Maret 2025
Hgr Dinandaru Shobron
Pegiat RB Tunas Aksara, Pamanukan

