Nitikan.id – Hari ini Persib juara. Dan entah bagaimana, saya merasa ikut menang. Padahal saya tak berkeringat di lapangan, tak ikut latihan keras setiap pagi dan sore, tak mencetak gol, bahkan tak ikut rapat strategi. Tapi kemenangan itu terasa seperti kemenangan saya juga.
Piala itu diangkat tinggi-tinggi. Ada warna biru bersinar di layar televisi, di mata, dan di dada. Di jalan-jalan orang bersorak, melompat, mengibarkan bendera dan syal. Tapi kebahagiaan ini lebih dalam daripada suara klakson dan kembang api. Kebahagiaan ini menyentuh lapisan dalam dari yang disebut manusia sebagai “Aing”.
Aing adalah bagian dari itu. Persib adalah aku. Dan ketika Persib juara, seolah-olah sebagian dari diriku ikut diangkat tinggi, diakui, dirayakan.
Ini bukan soal 90 menit. Ini tentang musim-musim, tentang masa kecil duduk di pangkuan ayah yang berteriak “GOOOL!” sambil memelukku gemas gembira, tentang nyanyian Bobotoh di stadion, tentang teman yang dulu duduk berdampingan di tribun tapi kini tinggal nama. Tak terasa air mata berlinang mengenangnya. Tentang kalah dan kecewa, tentang pertandingan yang rasanya tidak adil, dan tentang harapan yang tetap menyala dari musim ke musim.
Mungkin ini yang oleh para ahli psikologi disebut sebagai Social Identity Theory. Bahwa manusia dalam pencariannya akan makna hidup sering kali menambatkan dirinya pada kelompok, entah itu keluarga, komunitas, atau dalam hal ini, klub sepak bola. Dukungan kita bukan sekadar hobi; ia adalah bentuk keterikatan identitas. Ketika Persib menang, kita merasa martabat kita pun ikut terangkat. Kita bersorak bukan hanya karena skor tapi karena rasa harga diri yang ikut melonjak.
Persib adalah rumah. Tanah air kedua bagi para bobotoh. Kita tumbuh bersama kabar-kabar kekalahan dan kemenangan, belajar sabar ketika harapan pupus, belajar setia saat prestasi belum kunjung datang. Ketika piala itu akhirnya kembali dijunjung tinggi, hati kita pun bergetar. Seolah semua kesetiaan itu terbayar lunas. Kita tidak hanya menyaksikan kemenangan, kita mengalami dan memilikinya.
Ada istilah menarik dalam psikologi yaitu Basking in Reflected Glory, menikmati kejayaan yang dipantulkan. Seperti matahari yang menyinari bulan, kejayaan Persib memantul ke wajah-wajah para pendukungnya. Kita berjalan lebih tegak hari ini. Di jalanan, di warung kopi, di pos ronda, di media sosial. Ada rasa bangga yang tak bisa disembunyikan. Ini bukan soal tak tahu diri, tapi soal perasaan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.
Dan bukankah itu inti dari sepak bola? Ia bukan semata urusan bola masuk ke gawang, melainkan tentang perasaan yang menyatukan. Tentang pelukan spontan dengan orang yang baru kita kenal di tribun. Tentang air mata bahagia. Tentang ayah yang ‘hening sejenak’ saat mengenang masa mudanya di Stadion Siliwangi. Tentang ibu yang mengomeli kita karena pulang nonton konvoi tengah malam, meskipun diam-diam ikut bangga.
Kita bahagia bukan karena kita mudah terhibur. Tapi karena kita manusia makhluk yang butuh rasa memiliki, butuh kemenangan meski hanya lewat layar kaca, butuh kisah-kisah besar untuk memberi makna pada saat hari-hari terasa biasa. Hari-hari yang dijalani tanpa kepastian. Namun yang pasti hari ini adalah hari ini, hari yang akan dikenang saat Persib mengangkat Tropi Juara Back 2 Back.
Hatur nuhun, Sib.
PERSIB nu Aing.
PERSIB JUARA.
****

