Idul fitri adalah momentum yang selalu dinantikan oleh umat Islam setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Lebih dari sekadar perayaan, Idul fitri memiliki makna spiritual yang mendalam. Sejumlah ulama dan cendekiawan muslim di Indonesia, seperti KH. Mustofa Bisri (Gus Mus), KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha), Ust. Adi Hidayat, Dr. Fahruddin Faiz, dan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), memiliki perspektif yang unik dalam memahami esensi Idul fitri. Tulisan ini akan mengulas pandangan mereka dengan merujuk pada ayat-ayat Al-Qur’an serta tafsir dari kitab tafsir Jalalain.
Menurut Gus Mus, Idul fitri bukan hanya tentang kembali suci, tetapi juga kembali menjadi manusia yang lebih baik. Ia mengingatkan bahwa dalam Islam, fitrah bukan sekadar keadaan tanpa dosa, melainkan kesadaran untuk kembali kepada nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan yang murni. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)
Menurut tafsir Jalalain, ayat ini menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan fitrah, yaitu dalam ketundukan kepada Allah. Namun, perjalanan hidup dan lingkungan sering kali menjauhkan manusia dari fitrahnya. Idul fitri adalah kesempatan untuk kembali kepada fitrah itu.
Idul fitri dan kemenangan spiritual menurut Gus Baha. Beliau menekankan bahwa Idul fitri adalah kemenangan atas hawa nafsu. Ia sering mengutip QS. Al-Baqarah: 183:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Dalam tafsir Jalalain, ayat ini menjelaskan bahwa puasa bertujuan untuk menanamkan ketakwaan, bukan hanya menahan lapar dan haus. Gus Baha menegaskan bahwa kemenangan sejati di Idul fitri adalah ketika seseorang mampu mempertahankan ketakwaan itu dalam kehidupan sehari-hari setelah ramadhan berlalu.
Sedangkan Ust. Adi Hidayat melihat bahwa Idul Fitri adalah bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Ia mengaitkan Idul Fitri dengan QS. Al-Baqarah: 185:
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
Dalam Tafsir Jalalain, ayat ini menjelaskan bahwa Islam bukan agama yang memberatkan, tetapi membawa kemudahan dan kebahagiaan. Idul fitri adalah bentuk kegembiraan yang Allah berikan setelah ibadah puasa sebagai tanda syukur atas nikmat-Nya.
Sementara itu sebagai filsuf muslim, Dr. Fahruddin Faiz menyoroti Idul fitri dari perspektif kesadaran spiritual. Ia menekankan bahwa Idul fitri bukan hanya kembali kepada kesucian diri, tetapi juga memperbaiki hubungan sosial. Dalam QS. Al-Hujurat: 10 disebutkan:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan pentingnya menjaga persaudaraan dan kedamaian. Idul fitri bukan sekadar momen individual, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Idul fitri dimaknai Cak nun dalam konteks sosial dan kemanusiaan. Menurutnya, Idul fitri adalah momentum refleksi untuk memperbaiki diri dan masyarakat. Ia mengaitkannya dengan QS. Al-Ma’un: 1-3:
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”
Tafsir Jalalain menegaskan bahwa ibadah tanpa kepedulian sosial adalah tanda kepalsuan iman. Cak nun menekankan bahwa Idul fitri bukan hanya tentang pakaian baru atau makanan enak, tetapi juga bagaimana kita berbagi kebahagiaan dengan sesama, terutama mereka yang kurang beruntung.
Semua ulama di atas sepakat bahwa Idul fitri adalah bentuk penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Dalam QS. Asy-Syams: 9-10, Allah berfirman:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”
Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa penyucian jiwa adalah proses berkelanjutan, bukan hanya selama ramadhan. Idul fitri adalah awal dari perjalanan baru untuk terus menjaga kebersihan hati.
Idul fitri juga mengajarkan pentingnya introspeksi. Rasulullah bersabda:
“Barang siapa yang harinya sekarang lebih baik dari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung.”
Hadis ini selaras dengan konsep tafakur dalam Islam, yaitu merenungi diri agar terus memperbaiki kualitas hidup.
Idul fitri mengajarkan keseimbangan antara hubungan dengan Allah (habluminallah) dan hubungan dengan sesama manusia (habluminannas). Oleh karena itu, saling memaafkan menjadi inti dari perayaan ini.
Zakat fitrah diwajibkan agar setiap Muslim dapat benar-benar kembali kepada fitrah yang suci. Dalam QS. At-Taubah: 103, Allah berfirman:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.”
Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa zakat adalah cara membersihkan jiwa dan harta, sekaligus membantu mereka yang membutuhkan.
Idul fitri bukan akhir dari ibadah, melainkan awal dari perjalanan baru. Makna sesungguhnya terletak pada bagaimana seseorang menjaga nilai-nilai Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami berbagai perspektif ulama, kita dapat merayakan Idul fitri dengan lebih bermakna dan mendalam.
Semoga Idul Fitri tahun ini benar-benar membawa kita kembali kepada fitrah sejati. Taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin.
Subang , 31 Maret 2025
Hgr Dinandaru Shobron
Pegiat RB Tunas Aksara

