Di tengah meningkatnya kekhawatiran publik soal teror terhadap jurnalis, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi justru tampil memukau dengan saran brilian nan bernutrisi: kepala babi yang dikirim ke kantor Tempo sebaiknya dimasak saja.
Sontak, pernyataan tersebut menuai tepuk tangan—tentu saja tepuk tangan dari jurang nalar publik. Di saat masyarakat menanti ketegasan negara dalam melindungi kebebasan pers, Hasan Nasbi justru bertransformasi menjadi chef dadakan, mengusulkan menu olahan kepala babi sebagai solusi.
“Barangkali Pak Hasan sedang magang di program MasterChef. Sayang, lupa kalau job desc-nya bukan tukang masak, tapi jubir istana,” sindir salah satu aktivis dari Koalisi Masyarakat Sipil.
Koalisi yang terdiri dari Centra Initiative, Imparsial, PBHI, ELSAM, Walhi, HRWG, DeJuRe, hingga Setara Institute itu menilai pernyataan Hasan sebagai bentuk kreativitas komunikasi yang kelewat batas. Jika dibiarkan, bukan tak mungkin setiap krisis ke depan cukup ditanggapi dengan resep masakan.
Kalau nanti ada teror bom, jangan-jangan disuruh bikin sup dinamit? Ini bukan lucu, tapi tanda bahwa pejabat kita makin jauh dari akal sehat.
Dewan Pers pun angkat suara, menegaskan bahwa kepala babi dalam bungkusan plastik itu bukan bahan baku rendang, melainkan bentuk teror nyata terhadap kebebasan pers. Sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999, kemerdekaan pers adalah hak asasi yang seharusnya dilindungi, bukan dijadikan bahan lelucon.
Rekam jejak Hasan memang kaya rasa. Sebelumnya, ia sempat viral karena sibuk membela Kaesang Pangarep dalam polemik jet pribadi, bahkan namanya pernah terseret dugaan suap di Cimahi. Kini, dengan bumbu ‘kepala babi’, namanya kembali harum—setidaknya di dapur gosip politik nasional.
Masyarakat pun mulai bertanya-tanya, apakah jabatan komunikasi di istana kini diubah menjadi Kepala Koki Kepresidenan? Jika iya, rakyat menunggu resep selanjutnya: bagaimana cara memasak empati dan profesionalisme yang sudah lama hilang dari meja makan republik ini.

