BANDUNG, Nitikan.id – Upaya menggali nilai-nilai multibudaya membawa 15 mahasiswa Program Studi Psikologi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ke Kampung Adat Cikondang, Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Minggu (11/10/2026).
Melalui kunjungan lapangan ini, mahasiswa mempelajari secara langsung kearifan lokal masyarakat Sunda, mulai dari falsafah hidup, penghormatan terhadap alam, hingga tradisi adat yang menjaga keharmonisan sosial. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pemenuhan tugas mata kuliah Pendidikan Multibudaya yang diampu oleh Dr. Nandang Budiman, S.Pd., M.Si. dan Dr. Idat Muqodas, M.Pd., Kons.

Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami keberagaman budaya tidak hanya melalui teori di ruang kelas, tetapi juga melalui pengamatan langsung terhadap pola hidup, nilai, dan tradisi masyarakat adat. Dari pengalaman tersebut, mahasiswa diajak melihat bagaimana kearifan lokal berperan dalam membentuk perilaku individu sekaligus menjaga hubungan harmonis di tengah masyarakat.
Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa mengidentifikasi empat aspek penting dari kehidupan masyarakat Kampung Adat Cikondang, yakni prinsip kesederhanaan, penghormatan terhadap sesama dan lingkungan, pelestarian Hutan Larangan, serta tradisi adat yang memperkuat ikatan sosial masyarakat.
Salah satu nilai yang menjadi perhatian adalah falsafah ajrig, yakni prinsip merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Nilai ini mencerminkan kesederhanaan hidup yang berlandaskan ajaran Islam dan rasa syukur atas segala sesuatu yang diterima.
Prinsip tersebut tercermin dalam ungkapan tradisional Sunda, “panjang jangan dipotong, pendek jangan disambung”. Ungkapan ini mengajarkan pentingnya menerima keadaan secara bijaksana, tidak berlebihan dalam memenuhi keinginan, serta menjalani kehidupan dengan rasa syukur.
Selain kesederhanaan, masyarakat Kampung Adat Cikondang juga menjunjung tinggi adab dan etika, baik dalam hubungan antarmanusia maupun dalam memperlakukan lingkungan alam. Aturan adat dan kepemimpinan tradisional menjadi bagian penting dalam menjaga keteraturan sosial, membangun sikap saling menghormati, serta mempertahankan keharmonisan kehidupan masyarakat.
Kearifan lokal tersebut menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan juga pedoman hidup yang mengatur hubungan manusia dengan sesama dan alam sekitarnya.
Aspek lain yang menjadi perhatian mahasiswa adalah keberadaan Hutan Larangan yang secara konsisten dijaga oleh masyarakat adat. Kawasan ini memiliki fungsi ekologis sebagai penyangga lingkungan dan penjaga sumber mata air. Selain itu, Hutan Larangan juga menyimpan nilai historis yang berkaitan dengan jejak penyebaran Islam di wilayah tersebut.
Upaya menjaga kawasan hutan memperlihatkan hubungan erat antara tradisi, keyakinan, dan kepedulian terhadap alam. Pelestarian lingkungan tidak semata-mata dipandang sebagai persoalan ekologis, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab moral masyarakat dalam menjaga warisan leluhur.
Mahasiswa juga mempelajari tradisi Adat Muharram atau yang dikenal dengan sebutan Wuku Taun. Tradisi ini dilaksanakan secara rutin setiap tanggal 15 Muharram dan menjadi salah satu momentum penting bagi masyarakat Kampung Adat Cikondang.
Tradisi tersebut berfungsi sebagai ruang untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus menjaga keberlangsungan warisan budaya. Masyarakat adat, termasuk mereka yang tinggal di luar wilayah kampung karena merantau, diharapkan hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Kehadiran warga dari berbagai tempat memperlihatkan bagaimana tradisi adat berperan dalam mempertahankan rasa memiliki terhadap komunitas. Ikatan sosial tetap terpelihara meskipun sebagian anggota masyarakat tidak lagi tinggal di lingkungan kampung.
Dosen pengampu mata kuliah, Dr. Nandang Budiman, S.Pd., M.Si. dan Dr. Idat Muqodas, M.Pd., Kons., berharap pembelajaran berbasis pengamatan langsung ini dapat membantu mahasiswa memahami keberagaman budaya secara lebih komprehensif.
Pengalaman tersebut juga diharapkan memberikan pemahaman mengenai kontribusi nilai-nilai budaya dalam membangun kesehatan mental dan harmoni sosial. Kesederhanaan, rasa syukur, penghormatan terhadap sesama, kepedulian terhadap lingkungan, serta kuatnya ikatan komunitas merupakan pelajaran yang relevan bagi kehidupan masyarakat modern.
Kunjungan ke Kampung Adat Cikondang menjadi pengingat bahwa di tengah perubahan zaman, masyarakat masih memiliki sumber pengetahuan berharga melalui tradisi dan kearifan lokal. Bagi mahasiswa, pengalaman ini bukan sekadar pemenuhan tugas akademik, melainkan juga kesempatan untuk melihat bagaimana nilai budaya dipraktikkan dan diwariskan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui pembelajaran multibudaya semacam ini, dunia akademik dan masyarakat adat diharapkan dapat saling melengkapi dalam merawat keberagaman sekaligus memperkuat nilai-nilai kemanusiaan. ( red ).
