Selamat datang di negeri kita tercinta. Sebilah tempat ajaib di mana logika kadang harus antre, sementara skala prioritas bisa melenggang masuk lewat pintu VIP. Di sini, kenyataan sering terasa seperti naskah sitkom yang ditulis penulis skenario sedang kurang tidur. Kalau ada penghargaan untuk kategori “plot twist kebijakan paling sulit diprediksi”, rasanya kita sudah langganan masuk nominasi.
Minggu ini publik disuguhi dua kabar yang datang hampir bersamaan. Kalau dibaca bergantian, rasanya seperti sedang menonton dua film berbeda yang entah bagaimana dipaksa tayang di layar yang sama. Film pertama bergenre drama pendidikan. Film kedua komedi anggaran. Anehnya, keduanya mengambil latar negara yang sama.
Babak pertama datang dari Perpustakaan Nasional. Di hadapan DPR, Perpusnas mengabarkan bahwa anggarannya untuk tahun 2026 dipangkas drastis hingga tinggal sekitar Rp377,9 miliar. Dampaknya tidak main-main. Program pembagian seribu buku gratis ke desa, sekolah, rumah baca, lapas, hingga puskesmas terpaksa dihentikan. Renovasi perpustakaan daerah ikut tertunda. Singkatnya, tahun ini jalan menuju masyarakat yang lebih gemar membaca harus melewati rambu bertuliskan, “Maaf, anggaran sedang tidak tersedia.”
Ironis memang. Di negara yang masih berkutat dengan rendahnya budaya membaca, justru buku yang lebih dulu kehilangan tempat untuk bertumbuh. Padahal perpustakaan bukan sekadar gudang buku. Ia adalah tempat anak desa mengenal dunia yang lebih luas daripada sawah di belakang rumahnya. Tempat seorang pelajar menemukan cita-cita. Tempat seorang ibu belajar mengembangkan usaha kecilnya. Tempat seseorang menyadari bahwa hidup ternyata lebih luas daripada isi beranda media sosial.
Sayangnya, buku memang tidak bisa memotong pita peresmian. Rak buku juga tidak bisa dijadikan latar swafoto saat kunjungan pejabat. Buku bekerja diam-diam. Ia mengubah manusia perlahan, tanpa suara, tanpa baliho, tanpa sirene. Mungkin justru karena terlalu sunyi itulah buku sering kalah bersaing dalam perebutan perhatian.
Belum sempat publik selesai mencerna kabar itu, datang babak kedua yang tak kalah menghibur. Jagat maya ramai memperdebatkan isu pengadaan 1,8 juta unit kipas angin untuk Koperasi Desa Merah Putih dengan nilai yang disebut-sebut mencapai Rp1,8 triliun. Netizen langsung berubah profesi menjadi auditor dadakan. Kalkulator mendadak lebih laris daripada novel.
“Kipas angin apa harganya sejuta?”
“Apakah baling-balingnya terbuat dari vibranium?”
“Atau anginnya bisa meniup utang jadi lunas?”
Bahkan ada yang bercanda, jangan-jangan kipas itu punya fitur kecerdasan buatan. Sekali dinyalakan, langsung bisa menyusun laporan pertanggungjawaban, menghitung neraca koperasi, sekaligus menenangkan warganet yang sedang emosi.
Belakangan pemerintah dan PT Agrinas memberikan klarifikasi bahwa informasi tersebut tidak akurat. Pengadaan itu bukan berada di bawah Kementerian Koperasi, dan yang dimaksud adalah kipas industri berkapasitas besar, bukan kipas plastik yang biasa muter di kamar kos sambil berbunyi, “ngiiiik… ngiiiik…”. Klarifikasi itu tentu penting dan patut dicatat.
Tetapi ada satu hal yang tidak ikut hilang bersama klarifikasi yakni kesan ironi yang telanjur menempel di kepala publik.
Di satu sisi ada lembaga negara yang kebingungan mencari anggaran agar buku tetap sampai ke tangan masyarakat. Di sisi lain, ruang publik dipenuhi perdebatan soal spesifikasi kipas angin bernilai fantastis. Yang satu berbicara tentang bagaimana membuat masyarakat lebih cerdas. Yang lain sibuk menghitung berapa putaran baling-baling per menit.
Di situlah lahir komedi yang sesungguhnya.
Buku akhirnya benar-benar kalah oleh kipas angin.
Bukan karena isinya lebih ringan, melainkan karena anggarannya terasa lebih mudah diterbangkan. Lembaran-lembaran ilmu yang seharusnya mendarat di rak-rak perpustakaan desa seolah beterbangan, kalah cepat dengan embusan angin yang berputar di ruang-ruang rapat.
Kita seperti sedang membangun filosofi pembangunan versi baru.
Yang penting gudangnya sejuk.
Kalau isi kepalanya belum penuh, nanti juga bisa dipikirkan belakangan.
Padahal sejak dulu kita tahu, kipas angin hanya bisa mendinginkan badan. Ia tidak pernah bisa mendinginkan kebodohan. Angin paling kencang sekalipun tidak akan membuat seseorang lebih kritis. Yang bisa melakukan itu hanyalah pendidikan, buku, dan kebiasaan membaca.
Bangsa-bangsa besar tidak dibangun hanya dengan beton, baja, gudang, dan pendingin ruangan. Mereka juga dibangun oleh perpustakaan yang ramai, sekolah yang hidup, guru yang dihargai, dan masyarakat yang akrab dengan buku. Sebab gedung bisa dibangun dalam hitungan bulan, tetapi membangun cara berpikir membutuhkan waktu puluhan tahun.
Mungkin memang hasil membaca tidak langsung terlihat. Orang yang selesai membaca satu buku tidak tiba-tiba menjadi kaya. Tidak langsung menjadi menteri. Tidak otomatis punya mobil baru. Tetapi tanpa budaya membaca, kita akan terus melahirkan generasi yang mudah percaya hoaks, gampang diprovokasi, malas berpikir kritis, dan lebih senang membaca judul daripada isi.
Mungkin inilah satu-satunya negeri yang mampu membuat buku dan kipas angin terlihat sedang bersaing memperebutkan perhatian publik. Yang satu meniup udara, yang satu meniup isi kepala. Sayangnya, yang meniup udara sering kali terdengar lebih nyaring daripada yang meniup akal sehat.
Pembangunan koperasi desa tentu penting. Fasilitas yang layak juga perlu. Gudang yang nyaman tidak ada salahnya. Namun jangan lupa, koperasi pada akhirnya dijalankan oleh manusia, bukan oleh kipas angin. Dan kualitas manusia tidak lahir dari embusan udara, melainkan dari pengetahuan.
Karena itu, ketika anggaran untuk buku dipangkas, sesungguhnya yang sedang dikurangi bukan sekadar jumlah halaman yang dicetak. Yang ikut menyusut adalah kesempatan seorang anak menemukan mimpinya, kesempatan seorang pemuda mengubah masa depannya, dan kesempatan sebuah desa untuk tumbuh menjadi lebih cerdas.
Sebab bangsa yang kehilangan buku mungkin masih bisa membeli kipas angin.
Tetapi bangsa yang kehilangan budaya membaca, lambat laun akan kesulitan membedakan mana angin segar, mana sekadar angin surga.
Nur Izza Wahidiyah
Pegiat Rumah Baca Tunas Aksara
