Nitikan.id – Pernahkah kamu berpikir bahwa sesuatu yang kamu lakukan itu sudah digariskan oleh Tuhan? Sehingga kamu beranggapan bahwa segala sesuatu yang dikerjakan apabila mendapatkan kegagalan, maka itu artinya…. ya itu takdir yang digariskan oleh Tuhan. Tentunya itu tidak salah. Akan tetapi Tuhan tidak akan mengubah nasib hambanya hingga dia mengubah diri mereka sendiri.
Msenurut Ustadz Wijayanto, Dosen Pasca Sarjana UGM, takdir itu ada dua macam. Pertama, takdir yang tidak ada pilihan, sudah ditulis di Lauhil Mahfuz, tidak ada campur tangan manusia.
Ia mencontohkan takdir yang tidak ada pilihan bagi manusia, seorang anak lahir dari pasangan orang tuanya, tempat lahir, jenis kelamin, etnis, tsunami, gempa bumi, dan hari kiamat. Dalam hal ini, manusia tidak bisa memilih. Semua semata-mata kehendak Allah SWT.
Kedua, takdir yang ada sifat otonomi, artinya manusia bisa atau berhak memilih. Misalnya, seseorang itu mau menjadi orang beriman atau kafir, mau masuk surga atau neraka, rajin atau malas, memakai narkoba atau tidak, banjir atau tidak, semua itu adalah pilihan, bukan takdir.
Menjadi orang baik atau buruk itu adalah pilihan, bukan takdir. Allah tidak menzalimi hamba-hamba-Nya. Kalau seorang hamba masuk neraka, itu karena dia memilih menjadi ahli neraka, yakni melakukan hal-hal yang dilarang atau dibenci Allah SWT.
Karena itu sudah selayaknya seorang manusia selalu berusaha menjadi baik. Seberapa jauh hasilnya, biarlah Allah yang menilainya. “Sebab, yang dinilai oleh Allah adalah manajemen proses, bukan hasilnya. Yang terpenting, kita selalu berikhtiar menjadi orang baik,” tegas Ustadz Wijayanto.
Kehidupan dan Takdir memiliki hubungan yang tidak dapat terpisahkan. Ibarat kita melakukan sesuatu aktivitas, takdir akan menentukan apakah aktivitas itu berhasil atau tidak. Hal tersebut tentunya juga tergantung dengan tanggung jawab ketika kita melakoni aktivitas tersebut.
Contoh mudahnya seperti kita memainkan video game sepak bola, yang mana kita tidak bisa keluar atau melakukan hal-hal yang diluar game tersebut. Mengapa? Sebab program yang diterapkan memang seperti itu. Misal, ketika ingin melakukan tendangan ke gawang musuh kita harus menekan tombol □ namun yang ditekan tombol X, maka yang terjadi ya mengoper ke rekannya, karena memang algoritmanya demikian.
Algoritma dalam game itu mirip dengan apa yang terjadi dalam kehidupan nyata kita sehari-hari. Ketika kita menginginkan sebuah pilihan, berusahalah melakukan sesuai algoritma, akan tetapi jika pilihan itu tidak sesuai dengan kehendak kita, ingatlah, algoritma tidak sesederhana yang dibayangkan.
Itu baru algoritma yang dibuat manusia, yang kerumitan dan kompleksitas algoritmanya bisa bikin kita banting stik. Bayangkan algoritma yang dibuat oleh Tuhan di alam semesta ini. Tentu dalam menjalaninya melibatkan berbagai aspek ilmu (otak) dan juga kemampuan dari kita (hati), dan campur tangan Yang Maha Kuasa (doa).
Kamu tau gak kenapa internet dan medsos begitu cetar membahana? Atau bahkan malah membosankan?
Ketika kamu browsing, searching, atau like sesuatu maka apapun yang tentang kacamata mulai dari iklan, berita, bahkan film tentang kacamata akan nongol di layar gadget kamu. Begitulah cara kerja algoritma.
Ketika kamu membaca atau menonton hal jelek maka gadgetmu akan dikepung dengan kejelekan.
Ketika kita like satu konten yang mengajak kita kepada kebaikan maka besok kita akan dipertemukan dengan konten sejenis yang banyak, di luar perkiraan kita.
Begitupun hidup. Saat kita punya satu pikiran positif, esok akan dipertemukan dengan orang-orang positif dan kejadian baik melebihi dari apa yang kita bayangkan.
Sebaliknya, saat satu pikiran negatif kita hadir di pagi hari itu, maka yang akan ditemui kenegatifan sepanjang hari.
Tanamkan program algoritma berpikir positif, optimis, prasangka baik kepada Allah, Insya Allah segala kebaikan di alam semesta mendekat kepada kita.
Berpikir besar, berpola pikir sukses, berorientasi menebar manfaat. Insya Allah alam semesta akan memberi gema yang sama kepada kita.


Comments 1