Oleh: Hgr Dinandaru Shobron
Pegiat RB Tunas Aksara, Pamanukan
Manusia mengembarai langit
Manusia menyusuri cakrawala
Tidak untuk menguasainya
Melainkan untuk menguji dirinya
Apakah ia bertahan menjadi manusia
Tidak untuk hebat, kuasa atau perkasa
Melainkan setia sebagai manusia.”
~Emha Ainun Nadjib~
Hidup di zaman ketika orang berlomba memanjat tangga kekuasaan, membangun mercusuar teknologi dan mengukir sejarah lewat dominasi ekonomi, syair dari Cak Nun ini datang seperti embusan angin ditengah panasnya ambisi dunia. Ia tidak berbicara soal kekuasaan, tidak menyebut strategi geopolitik atau lompatan teknologi mutakhir. Ia hanya bertanya: “Apakah kamu masih manusia?” dan itu pertanyaan yang tidak mudah dijawab.
Kita hidup di era ketika langit bukan lagi misteri, melainkan target.Manusia sudah menjejakkan kaki di bulan, mengirim satelit ke orbit Mars dan bercita-cita pindah ke planet lain.Dunia bukan hanya dipetakan tetapi juga dipetakan ulang dalam metaverse dan artificial intelligence.
Namun, seperti yang digambarkan Cak Nun semua itu sejatinya bukan ajang perlombaan untuk menaklukkan luar, melainkan perjalanan untuk menguji dalam. Saat manusia melintasi cakrawala, ia tidak seharusnya lupa bahwa yang diuji adalah kemanusiaannya sendiri.
Apakah dengan teknologi, manusia jadi lebih peduli? Apakah dengan kekuasaan, manusia jadi lebih adil? Apakah dengan kehebatan, manusia masih mampu menangis karena penderitaan sesamanya?
Sering kali, jawabannya adalah tidak.
Tidak terhitung para pemimpin dunia yang tampil gagah di panggung politik global tetapi menorehkan luka mendalam dihati rakyatnya. Mereka menebar citra heroik dalam retorika namun membiarkan rakyat lapar di jalanan. Mereka berbicara soal keamanan nasional namun tangan mereka berlumur darah rakyat sendiri.
Kehebatan bisa jadi topeng. Bahkan lebih dari itu: kehebatan bisa menjadi candu yang membuat manusia lupa asalnya. Ia bukan lagi manusia, tapi mesin ambisi. Hatinya tak lagi peka, suaranya tak lagi merdu hanya gema perintah dan kekuasaan.
Pemimpin zalim adalah mereka yang gagal menjadi manusia. Mereka membunuh nurani demi mempertahankan tahta dan saat seorang pemimpin kehilangan kemanusiaan maka yang ia pimpin bukanlah bangsa tapi ladang ketakutan.
Ditengah hiruk-pikuk pemimpin dunia yang berlomba unjuk kekuatan, sosok Ayatollah Ali Khamenei berdiri dengan watak yang berbeda. Ia bukan pemimpin biasa. Ia bukan sekadar presiden atau perdana menteri. Ia adalah pemimpin ruhani dan politik tertinggi Republik Islam Iran pemimpin umat, bukan hanya negara.
Ali Khamenei lahir dari keluarga ulama, tumbuh dalam tradisi ilmu dan zuhud. Ia pernah dipenjara oleh rezim Shah Iran karena sikap kritisnya. Ia tidak pernah mengejar kursi akan tetapi sejarah membawanya duduk di kursi pemimpin spiritual setelah wafatnya Imam Khomeini. Ia bukan tipe pemimpin yang bersinar dalam panggung media global tetapi ia bercahaya di hati sebagian besar rakyatnya.
Dalam setiap khutbah dan keputusan, Ali Khamenei berbicara tentang keadilan, keteguhan, dan ketulusan membela yang tertindas. Ia tidak memimpin untuk menjadi hebat tetapi karena panggilan sejarah dan amanah umat. Di hadapannya, rakyat melihat seseorang yang tidak berubah oleh kursi singgasana.
Ketika negara lain sibuk menjual kebijakan kepada investor asing, Iran di bawahnya tetap berdiri dengan prinsip, meski diblokade. Di saat negara lain tergoda untuk tunduk demi dolar, Khamenei tetap lantang berkata: “Kami tidak akan tunduk pada tirani global.” Bahkan ketika hidupnya terancam, beliau tetap pada prinsip.
Ali Khamenei tidak sempurna tapi satu hal yang menonjol darinya: ia tidak mengejar kuasa untuk menjadi besar tetapi untuk menjaga ruh kemanusiaan bangsanya.
Mari kita bandingkan: berapa banyak pemimpin dunia yang begitu tergoda oleh gelar, harta, dan kuasa?
Mereka rela memenjarakan lawan politik tanpa dasar hukum. Mereka memeras rakyat dengan kebijakan penuh kepentingan elite. Mereka memperkaya keluarga dan kroni. Mereka menjual tanah air demi proyek infrastruktur, membiarkan rakyat jadi korban penggusuran.
Mereka terlihat gagah di televisi tetapi di lorong-lorong rumah sakit, anak-anak meninggal karena tidak bisa bayar perawatan. Di perkampungan nelayan, air laut merangsek masuk karena pembangunan tak peduli lingkungan.
Inilah para pemimpin yang lebih sibuk terlihat besar daripada benar-benar melayani.Mereka mengejar hebat tapi kehilangan setia. Mereka ingin jadi raksasa tapi lupa bahwa di ujung cerita, raksasa selalu kalah oleh manusia kecil yang menjaga nilai.
Syair Cak Nun menyimpan filsafat yang dalam: manusia diuji bukan ketika ia kecil tapi ketika ia besar. Diuji bukan saat miskin tapi saat kaya. Diuji bukan saat tak dikenal tapi ketika sorot kamera menyala untuknya.
“Setia menjadi manusia” artinya tetap bisa merasa iba ketika melihat anak kecil menangis. Tetap bisa menunduk hormat kepada orang tua. Tetap bisa menolak suap, meski hidup sedang susah. Tetap bisa membela yang lemah, meski tekanan datang dari atas.
Setia menjadi manusia bukanlah pekerjaan ringan. Itu pekerjaan seumur hidup.
Esai ini tidak hanya untuk para pemimpin negara. Ini juga untuk kita semua: pemimpin keluarga, pemilik usaha, kepala desa, guru, dan bahkan diri sendiri.
Apakah kita bekerja demi menjadi “hebat” di mata tetangga atau setia pada nilai kebaikan?
Apakah kita belajar untuk menang lomba atau untuk memahami hidup?
Apakah kita menolong agar dipuji, atau karena benar-benar peduli?
Setia menjadi manusia bukanlah proyek besar yang butuh dana triliunan. Ia proyek hati yang dikerjakan dalam diam dalam tindakan-tindakan kecil: bersikap jujur, tidak menyakiti, membela yang lemah dan mengingat Allah di tengah pujian dunia.
Diakhir zaman, kemuliaan bukan milik yang paling viral tetapi yang paling setia. Bukan milik yang paling kaya tapi yang paling jujur. Bukan yang paling banyak bicara tetapi yang paling tulus diam dan bekerja.
Ali Khamenei menunjukkan pada dunia bahwa kepemimpinan tidak selalu datang dari kekuatan militer tetapi bisa lahir dari kedalaman iman. Cak Nun mengingatkan kita bahwa manusia bukan untuk menjadi raksasa tetapi cahaya kecil yang setia menyala.
Karena kelak, ketika sejarah menuliskan nama-nama pemimpin, bukan yang paling hebat yang dikenang tapi yang paling manusia.
“Manusia tidak ditakdirkan untuk menguasai langit tetapi untuk menguasai dirinya sendiri ” dan itu, adalah kehebatan yang sesungguhnya.

