Oleh: Hgr Dinandaru Shobron
Pegiat RB Tunas Aksara
Pada belahan dunia lain, di sebuah negeri yang pernah dijatuhi embargo, dibenci media barat dan dibingkai sebagai ancaman global, berdirilah seorang lelaki renta dengan jubah hitam, sorban putih, dan tatapan yang dalamnya menembus geopolitik.
Namanya: Sayyid Ali Hosseini Khamenei, pemimpin tertinggi Republik Islam Iran. Lelaki keturunan Nabi Muhammad dari garis Imam Ali Zainal Abidin,imam keempat dalam silsilah Syiah dua belas Imam. Lelaki yang jika berbicara denting senjata bisa tertunda dan jika diam, dunia bertanya-tanya apa yang sedang ia rencanakan.
Sementara kita di sini, di tanah Nusantara yang katanya kaya, katanya religius, katanya demokratis cuma bisa terpana. Bukan karena kita kekurangan ulama, bukan karena kita tak punya darah biru atau keturunan wali, tapi karena kita mungkin sudah terlalu lelah menaruh harap pada kepemimpinan yang membumi sekaligus langit.
Lahir pada 19 April 1939 di kota suci Mashhad, Iran timur laut, Ali Khamenei adalah anak dari seorang ulama besar bernama Sayyid Javad Khamenei. Dari kecil ia akrab dengan kitab kuning dan lantunan doa malam. Pendidikan formalnya dimulai di seminari Mashhad, lalu dilanjutkan ke pusat studi Islam paling prestisius di dunia Syiah: Qom dan Najaf. Disanalah ia belajar tafsir, filsafat, fiqih, logika, serta cara membaca dunia lewat kacamata langit dan bumi sekaligus.
Ia tak tumbuh sebagai remaja rebahan, melainkan remaja pemberontak yang menulis pamflet anti Shah, menyelundupkan buku revolusi, dan mempertanyakan sistem monarki dari balik mimbar. Karena itu pula, ia ditangkap berkali-kali, diasingkan dan disiksa oleh SAVAK, badan intelijen brutal era Shah tapi dari balik jeruji itulah, ia ditempa menjadi pemimpin yang tak hanya sabar, tapi juga strategis.
Pada tahun 1981, dalam situasi Iran pasca revolusi yang masih bergolak, Khamenei terpilih sebagai Presiden Republik Islam Iran jabatan yang ia emban selama dua periode tapi ia bukan presiden biasa. Di tengah perang dengan Irak, ia harus menyeimbangkan kepentingan agama dan negara, antara kitab dan senapan. Pada tahun yang sama, ia selamat dari upaya pembunuhan yang menyebabkan lengan kanannya lumpuh.
Namun, puncak takdirnya datang pada tahun 1989, saat pemimpin revolusi Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, wafat. Majelis Ahli lalu mengangkat Khamenei sebagai Rahbar (Supreme Leader) Iran. Sejak itu, ia tidak hanya jadi pemimpin agama tapi juga pemegang komando tertinggi militer, pengarah kebijakan luar negeri, pengendali media nasional, dan penjaga ideologi revolusi. Sebuah posisi yang bahkan presiden pun tunduk padanya.
Bayangkan jika Indonesia punya seorang pemimpin seperti itu. Seorang yang bukan hanya hafal Al-Qur’an tapi juga mahir bicara dalam bahasa ideologi dan diplomasi. Seorang yang tidak cuma membaca kitab suci tapi juga membaca dunia, memahami Barat, dan berani berkata “tidak” pada dominasi global, bukan karena benci tapi karena ingin merdeka sepenuhnya.
Jika disini, pemimpin sering kali berganti baju seperti selebgram, bicara tentang rakyat di depan kamera tapi menggenggam tender proyek di belakang meja. Sedangkan disana, Khamenei tak punya akun Instagram, tak pernah selfie di kebun, apalagi goyang TikTok. Namun pengaruhnya terasa sampai Gaza, Beirut, Damaskus, Moskow, bahkan Washington DC.
Indonesia adalah negara besar tapi sering dikecilkan oleh pemimpin kecil. Kita punya lebih dari 270 juta jiwa tapi jiwa kepemimpinan kita kadang seukuran saldo e-wallet. Kita punya pesantren, punya habaib, punya cendekiawan tapi tak punya satu figur yang benar-benar bisa kita sebut: “Ini dia imam bangsa.”
Khamenei bukan tanpa cela, tentu. Ia hidup di dunia yang penuh bias, digambarkan diktator oleh mereka yang tak suka kemandirian Iran tapi jika kita jujur, berapa banyak pemimpin dunia Islam yang masih bisa bicara anti-imperialisme tanpa takut disanksi? Berapa banyak yang bisa berdiri di atas podium dan berkata, “Kami tak butuh kamu, kami punya Tuhan dan rakyat kami”?
Andai Indonesia punya pemimpin seperti ini yang lahir dari rahim pesantren yang tumbuh dengan kitab, yang tidak silau pada kekuasaan tapi juga tidak cengeng di depan badai. Seorang pemimpin yang jika tersenyum, bukan untuk kampanye, tapi karena baru saja mengkhatamkan Nahjul Balaghah. Seorang pemimpin yang bukan sekadar tahu tata kelola negara, tapi juga tahu tata letak bintang dan cara menyentuh hati rakyat yang lapar dan putus asa.
Ali Khamenei adalah contoh bahwa Islam dan modernitas tidak perlu berkonflik, bahwa ulama tidak harus pasrah pada istana dan bahwa keturunan Nabi tak harus menjual garis nasabnya di baliho politik. Ia tidak nyapres, tidak minta dipilih tapi kekuasaannya mengalir dari kepercayaan kolektif, dari aura sejarah, dari garis takdir yang panjang sejak Karbala hingga Teheran.
Apa kabar Indonesia?
Negeri yang tanahnya basah oleh darah pahlawan tapi juga basah oleh air liur politisi rakus. Negeri yang benderanya merah dan putih tapi politiknya sering abu-abu. Kita menanti pemimpin seperti Imam, tapi yang datang kadang malah influencer.
Andai Indonesia punya pemimpin seperti ini barangkali kita tak akan ribut soal utang negara karena rasa malu lebih tinggi dari sekadar APBN. Barangkali kita tak akan bingung cari jati diri karena jati itu sudah tertanam dalam ruh para wali yang dulu membangun peradaban lewat langgar dan surau. Barangkali kita tak perlu debat capres di TV karena siapa yang alim, bersih, dan rendah hati akan dituntun oleh takdir rakyat, bukan oleh buzzer atau algoritma.
Kini, pada usia 86 tahun, Sayyid Ali Khamenei masih duduk tenang di Teheran, dalam diam yang panjang. Sementara disini yang muda sudah rakus yang tua belum pensiun yang alim masih dipinggirkan dan yang jahil malah dielu-elukan.
Apakah ini artinya kita tak mungkin punya pemimpin seperti itu?
Belum tentu. Mungkin ia sedang mengaji di pesantren kecil, sedang membantu orang tuanya bertani, atau sedang menulis tafsir sambil menjaga toko kelontong. Sejarah selalu punya kejutan dan Tuhan tidak pernah kehabisan stok orang baik yang kita butuh, bukan hanya pemimpin seperti Khamenei tapi juga rakyat yang tahu cara mencintai pemimpin bukan karena pencitraannya, melainkan karena kedalaman jiwanya.
Maka, marilah kita bermimpi, bukan untuk lari dari kenyataan tapi untuk mengundang masa depan.
Siapa tahu satu hari nanti, ketika Indonesia benar-benar siap, akan lahir seorang pemimpin seperti Khamenei yang tak hanya memimpin bangsa tapi juga membimbing akal dan jiwa kita menuju kedewasaan sejati.
Dan jika hari itu datang, semoga kita semua sudah cukup dewasa untuk tidak menyambutnya dengan curiga tapi dengan doa.

