Rayuan Pulau Kelapa
Karya: Ismail Marzuki
Tanah Airku Indonesia
Negeri Elok Amat Ku Cinta
Tanah Tumpah Darahku Yang Mulia
Yang Ku Puja Sepanjang Masa
Tanah Airku Aman dan Makmur
Pulau Kelapa Yang Amat Subur
Pulau Melati Pujaan Bangsa
Sejak Dulu KalaMelambai Lambai
Nyiur Di Pantai
Berbisik Bisik
Raja Kelana
Memuja Pulau
Nan Indah Permai
Tanah Airku
Indonesia
Nitikan.id – Lagi-lagi ironi yang menyakitkan terjadi di negeri ini. Indonesia tercinta, yang konon katanya surganya kelapa, sekarang malah krisis kelapa. Iya, kelapa yang biasanya ada di mana-mana, dari warung sampai restoran mewah, sekarang malah susah dicari. Kalaupun ada, harganya bikin bola mata serasa ingin loncat dari rongganya.
Di banyak daerah, harga kelapa naik dua kali lipat. Yang semula Rp. 10.000 sekarang menjadi Rp. 20.000 bahkan sampai Rp. 25.000. Buakn melulu karena bulan Ramadan banyak yang request es dawegan, atau efek permohonan emak-emak yang ingin membuat opor menjelang lebaran. Langka dan mahalnya harga kelapa sudah berlangsung dari semester kemarin. Tukang es kelapa mulai ngeluh, penjual santan mulai mikir ulang mau jual berapa bahkan banyak yang gulung lapak, dan emak-emak banyak yang balik kanan tidak jadi membuat sayur lodeh, begitupun warung makan apalagi masakan padang yang dominan menggunakan santan. Lucunya (atau tragisnya?), di saat rakyat kesusahan cari kelapa, negara kita justru makin gencar ekspor kelapa ke luar negeri. Lah, kepriwe son?
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor kelapa Indonesia sepanjang 2024 tembus 1,1 juta ton. Bahkan baru dua bulan di awal 2025, ekspor kelapa bulat sudah 181.500 ton! Negara tujuan utamanya? China, Vietnam, Malaysia yang bukan penghasil kelapa, tapi bisa mengolah dan menjual lagi dengan nilai tambah lebih besar.
Jadi jelas, pasokan di dalam negeri menipis karena terlalu sibuk COD ke luar negeri. Ini kayak orang punya kebun pisang, tapi tetangga sebelah yang malah makan pisang tiap hari, bikin pisang goreng, bikin keripik pisang. Sementara kita, pemilik kebun, malah beli pisang goreng dan keripik pisang.
Masalahnya tidak berhenti sampai di situ.
Karena bahan baku makin langka, industri pengolahan kelapa juga megap-megap. Di Riau, misalnya, dua perusahaan besar sampai melakukan PHK massal. Total? Sekitar 3.500 pekerja kena imbas. PT Sambu Group, yang selama ini dikenal sebagai raksasa industri kelapa, juga ikut merumahkan ribuan karyawan karena tidak sanggup produksi. Menurut data dari Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI), saat ini 16 perusahaan cuma jalan 33% dari kapasitas normal. Dan kalau kondisi ini terus dibiarkan, sekitar 21.000 orang diintai PHK.
Ini bukan cuma soal ekonomi, tapi soal kemanusiaan juga. Soal dapur rakyat, soal perut anak-anak, soal masa depan petani kelapa dan buruh pabrik yang hidupnya bergantung pada buah bulat satu ini.
Kita tidak bilang ekspor itu salah, ya. Devisa negara penting. Dollar sedang tinggi, menguntungkan petani. (Petani atau tengkulak yang untung?). Llogikanya jangan dibuat keblinger. Masa iya kita ekspor gila-gilaan, tapi rakyat sendiri malah tidak kebagian? Apa gunanya jadi lumbung kelapa dunia kalau rakyatnya hanya kebagian sabutnya saja.
Banyak pohon kelapa kita sudah tua (politisinya juga), produksinya tinggal kenangan. Pemerintah harus turun tangan membantu petani, bibit unggul, bantu alat tani, dan sediakan akses ke permodalan. Jangan biarkan petani berjuang sendirian di ladang yang makin kering.
Negara harus punya mekanisme untuk membatasi ekspor kalau pasokan dalam negeri mulai krisis. Bukan anti-ekspor, tapi ekspor yang waras. Prioritaskan dulu kebutuhan rakyat sendiri.
Hilirisasi, supaya mereka bisa tetap berproduksi meskipun kondisi sedang susah. Bisa lewat subsidi bahan baku, insentif pajak, atau bantuan darurat untuk mencegah PHK massal. Jangan tunggu sampai ribuan orang kehilangan penghasilan baru kita panik cari solusi, agar tidak cuma jual kelapa mentah ke luar negeri. Kita harus dorong produk turunan, santan kemasan, minyak kelapa murni, olahan kelapa parut, dan lain-lain yang punya nilai tambah tinggi. Jangan cuma jadi tukang kirim bahan mentah, tapi jadi pemain utama di industri global.
Krisis kelapa ini adalah sinyal keras, kita butuh kebijakan yang berpihak. Bukan cuma ke pasar internasional, tapi ke rakyat sendiri. Kalau negara ini bisa serius urus kelapa (yang seharusnya sudah dari beberapa dekade yang lalu), bukan cuma petani yang senang, tapi dapur rumah tangga juga bisa tenang.
Karena hidup tanpa kelapa itu seperti sayur asem tanpa asem.
*****

