Diperebutkan banyak orang, tapi akhirnya harus lari untuk menyelamatkan diri.
Ini adalah cerita yang hidup di masyarakat Pamanukan. Dituturkan dari mulut ke mulut, diwariskan tanpa naskah resmi, tapi jejaknya masih bisa dilihat sampai hari ini dalam nama-nama tempat yang tidak pernah benar-benar hilang.
Masalah terbesar dalam hidup kadang bukan kekurangan, tapi kebanyakan yang menginginkan kita.
Putri Milangsari tahu betul rasanya.
Di sebuah wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Pamanukan, konon pernah berdiri Kerajaan Pilangsari. Hidup di sana sebenarnya biasa saja. Tidak terlalu makmur, tapi juga tidak sengsara. Rakyatnya bertani, melaut, dan yang penting: hidup tanpa banyak drama.
Sampai akhirnya drama itu datang… dalam bentuk kecantikan.
Putri kerajaan, Milangsari, dikenal sebagai kembang nagara. Cantiknya bukan cuma bikin orang sekampung melongo, tapi sampai lintas daerah. Dari yang cuma penasaran, sampai yang niat serius melamar.
Dan seperti yang bisa ditebak, yang datang bukan kaleng-kaleng.
Anak raja, bangsawan, saudagar kaya,jawara semuanya datang dengan satu tujuan yakni mempersunting Milangsari. Semua merasa layak. Semua merasa pantas. Semua merasa… punya hak.
Nah, di sinilah masalah dimulai.
Raja Pilangsari mendadak seperti admin grup WhatsApp yang kebanjiran chat: satu belum dibalas, yang lain sudah nanya lagi. Mau milih satu, takut yang lain baper. Mau nolak semua, takut dibilang sombong.
Akhirnya diputuskanlah solusi yang kelihatannya bijak, tapi ternyata cukup berbahaya yaitu sayembara.
Siapa yang membawa burung terbaik, dialah yang berhak menikahi Milangsari.
Kedengarannya adil. Semua punya peluang. Semua pulang dengan semangat, lalu kembali seminggu kemudian dengan burung andalan masing-masing.
Alun-alun keraton Pilangsari pun berubah jadi semacam “pameran cinta berbulu.” Dari burung kecil sampai yang gede, dari yang suaranya merdu sampai yang cuma modal warna.
Semua berharap satu hal: dipilih.
Masalahnya, yang milih… bingung.
Milangsari muter-muter, lihat sana-sini, sampai tiga kali keliling. Tapi ujung-ujungnya satu kalimat keluar:
“Tidak ada yang dipilih.”
Dan di situlah semua meledak.
Orang-orang yang tadinya penuh harapan, mendadak berubah jadi penuh kemarahan. Mereka merasa dipermainkan. Sudah jauh-jauh datang, sudah bawa yang terbaik, tapi pulangnya nihil.
Kalau zaman sekarang, mungkin cukup marah di Twitter.
Tapi waktu itu? Langsung ngamuk.
Angkat kujang,angkat golok,angkat pedang,angkat tombak,angkat tank,angkat rudal…eh.
Kerajaan yang tadinya tenang berubah jadi chaos. Sangkar burung berantakan, orang-orang teriak, dorong-dorongan, dan yang paling penting mereka mulai mengejar Putri Milangsari.
Di titik itu, Milangsari sadar satu hal penting:
jadi cantik itu anugerah… tapi kalau diperebutkan banyak orang, bisa jadi bencana.
Ia pun lari.
Dari pusat kerajaan di Pilangsari yang sekarang jadi bagian dari Desa Pamanukan. Putri Milangsari kabur tanpa mikir panjang. Yang penting menjauh.
Tapi hidup jarang memberi jalan lurus.
Baru juga lari, ia sudah mulai terdesak. Orang-orang mendekat dari berbagai arah. Ruang geraknya sempit. Nafasnya makin berat. Ia seperti dihimpit keadaan, disedek-sedek (sunda).
Tempat itu sekarang dikenal sebagai kampung Padek.
Belum selesai.
Ia berhasil lolos, tapi di depan malah dihadang lagi. Orang-orang mencegat jalannya. Mau maju susah, mau mundur juga susah. Posisi yang kalau bahasa sekarang: serba salah.
Tempat itu sekarang dikenal sebagai kampung Pangadangan, tempat dihadang.
Tapi Milangsari masih punya satu hal yakni insting bertahan hidup.
Ia cari celah, dan begitu ada kesempatan, langsung lari lagi.
Kali ini lebih panik.
Ia tidak lagi lari dengan arah jelas. Ia lari sambil longak-longok alias tengok kanan, tengok kiri, tengok belakang. Pokoknya semua arah dicek, karena takut dikejar.
Tempat itu sekarang dikenal sebagai kampung Lolongokan.
Kalau dipikir-pikir, ini relatable juga.
Kita sering sok tenang di luar, tapi di dalam kepala? Tengok sana-sini, penuh was-was.
Tenaga sang putri mulai lemah.
Tapi ia tahu, berhenti berarti selesai.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia memilih satu hal sederhana yakni menyingkir.
Tidak melawan. Tidak balik arah. Tidak sok berani.
Ia memilih menjauh dari keramaian, dari konflik, dari orang-orang yang ingin “memiliki” dirinya.
Tempat itu sekarang dikenal sebagai kampung Panyingkiran desa Rancasari.
Dan di situlah pelariannya seperti menemukan titik henti.
Hari ini, Kerajaan Pilangsari sudah tidak ada. Tidak ada istana, tidak ada raja, tidak ada sayembara.
Yang tersisa cuma nama-nama:
Pilangsari.
Padek.
Pangadangan.
Lolongokan.
Panyingkiran.
Kelihatannya sederhana. Tapi kalau ditarik benangnya, itu bukan sekadar nama. Itu adalah urutan rasa.
Dari tenang…
ke tertekan…
ke dihadang…
ke panik…
lalu memilih menyingkir.
Dan di tengah semua itu, ada satu pelajaran yang diam-diam relevan sampai sekarang.
Bahwa tidak semua yang mengejar kita itu baik.
Kadang yang mengejar adalah ambisi orang lain.
Kadang keinginan untuk memiliki.
Kadang ego yang tidak mau kalah.
Dan kalau itu semua berkumpul, jadinya satu:
nafsu angkara murka.
Milangsari mungkin dikejar manusia.
Tapi kita, seringnya dikejar hal yang lebih dekat:
keinginan yang tidak ada remnya.
Dan di situ, kita punya pilihan:
Mau diam dan dihancurkan,
atau lari untuk menyelamatkan diri.
Milangsari memilih lari.
Bukan karena lemah.
Tapi karena ingin tetap utuh.
Dan mungkin, itu bentuk keberanian yang sering kita remehkan.
Karena pada akhirnya, hidup bukan cuma soal siapa yang berhasil mendapatkan sesuatu.
Tapi siapa yang mampu bertahan dari kejaran nafsu angkara murka.
Wallahu a’lam, tapi nama-nama itu masih ada sampai sekarang.
Hegar Dinandaru Shobron
Pegiat Rumah Baca Tunas Aksara Pamanukan

