Siang itu panasnya bukan main. Matahari seperti HRD yang lagi bad mood: semua kena tegur, tanpa alasan jelas. Di pinggir jalan, seorang tukang ojek duduk santai sambil ngopi sachet yang airnya kebanyakan mungkin biar awet, mungkin juga biar bisa pura-pura “ngopi lama” biar terlihat sibuk.
Namanya? Tidak penting. Statusnya? Jelas: “orang biasa”.
Kalau pakai kacamata sosial klasik, dia ini masuk golongan bawah. Sudra. Roda kecil. Figuran dalam sinetron kehidupan yang pemerannya selalu orang-orang berjas.
Tapi tunggu dulu.
Dia tidak pernah nipu penumpang. Uang kembalian selalu pas, bahkan kadang dibuletin ke bawah. Kalau ada temannya curang, dia berani nyeletuk, “ulah kitu, dosa atuh.”
Nah, ini yang bikin bingung.
Kalau begini, siapa yang sebenarnya Ksatria?
Kita ini lucu. Sering banget ketipu sama kemasan.
Lihat orang pakai jas langsung hormat. Lihat orang pakai sandal jepit langsung dikasih nasihat hidup.
Seolah-olah moral itu bisa dijahit di penjahit, dan integritas itu dijual per meter di Tanah Abang.
Padahal kenyataannya?
Banyak yang kelihatan Ksatria punya jabatan, punya wewenang, punya mikrofon tapi isi kepalanya masih Waisya. Semua dihitung. Semua diukur. Semua pakai kalkulator batin:
“Ini untung gak ya buat saya?”
Bahkan kadang bukan lagi kalkulator… sudah pakai Excel.
Yang lebih seru, ada juga yang secara sosial Sudra, tapi mentalnya sudah naik kelas.
Tidak punya panggung, tapi punya prinsip. Tidak punya kuasa, tapi punya keberanian. Tidak punya followers, tapi punya arah hidup.
Ini yang sering bikin sistem jadi kikuk.
Karena sistem tidak didesain untuk menghargai kedalaman. Sistem lebih nyaman menghargai penampilan.
Coba bayangkan ini.
Seorang pejabat pidato panjang soal kejujuran. Di belakang panggung, dia sibuk nego proyek.
Sementara di luar gedung, ada tukang parkir yang tetap jujur meski tidak ada CCTV, tidak ada wartawan, tidak ada yang tepuk tangan.
Yang satu ngomong nilai. Yang satu menjalani nilai.
Tapi yang dapat panggung siapa?
Ya jelas… yang punya sound system.
Ini bukan cerita baru sebenarnya. Dari dulu juga begitu.
Yang atas belum tentu tinggi. Yang bawah belum tentu rendah.
Tapi kita ini keras kepala. Lebih percaya tampilan daripada kenyataan.
Kita hormat pada yang kelihatan hebat. Dan sering lupa menghargai yang diam-diam kuat.
Kadang saya mikir, jangan-jangan kita ini hidup di zaman “kasta kepala doang”.
Kasta di KTP: bebas. Kasta di undang-undang: tidak ada. Tapi kasta di cara berpikir: masih hidup, bahkan lebih liar.
Ada yang secara jabatan sudah Ksatria, tapi tiap keputusan tetap mikir, “cuannya berapa?” Ada yang secara ekonomi sudah Waisya, tapi hidupnya masih penuh rasa takut kehilangan. Dan yang paling plot twist: ada yang secara sosial Sudra, tapi cara hidupnya sudah mendekati Brahmana yang tenang, jujur, tidak ribut, tapi dalam.
Ini yang bikin hidup jadi agak absurd.
Yang harusnya memimpin, malah sibuk menghitung. Yang harusnya dihitung, malah sibuk menjaga nilai.
Kebalik, tapi sudah dianggap biasa.
Coba kita jujur sedikit saja.
Berapa banyak orang yang kita anggap “berhasil” hanya karena: mobilnya bagus, jabatannya tinggi, postingannya rapi?
Padahal kita tidak tahu cara dia sampai ke sana.
Dan sebaliknya, berapa banyak orang yang kita anggap “biasa saja” hanya karena: pakaiannya sederhana, pekerjaannya tidak keren, tidak punya panggung?
Padahal mungkin… cara hidupnya jauh lebih lurus.
Ini bukan soal romantisasi kemiskinan ya. Bukan berarti semua orang sederhana pasti suci. Tidak juga.
Tapi poinnya sederhana: kita terlalu sering salah baca manusia.
Kita kira kasta itu soal posisi. Padahal yang lebih menentukan itu isi kepala dan isi hati.
Di jalan, di pasar, di warung kopi, kita bisa ketemu orang-orang yang tidak pernah baca buku filsafat, tapi cara hidupnya sudah filosofis.
Tidak pernah ikut training leadership, tapi sikapnya sudah memimpin dirinya sendiri.
Tidak pernah ngomong “makna hidup”, tapi hidupnya penuh makna.
Jadi mungkin, daripada sibuk nanya: “Dia itu kasta apa?”
Lebih baik kita mulai nanya: “Dia hidup pakai kesadaran apa?”
Karena pada akhirnya, hidup ini bukan soal kamu duduk di kursi apa, tapi kamu duduk dengan niat apa.
Dan kalau kita cukup berani untuk jujur, mungkin kita akan sampai pada satu kesimpulan yang agak nyelekit:
Bahwa dunia ini tidak kekurangan orang baik.
Yang kurang itu… kemampuan kita melihat kebaikan di tempat yang tidak pakai jas.
Di pinggir jalan. Di balik helm ojek. Di warung kopi yang gelasnya beda-beda.
Di sana, sering kali kita menemukan Ksatria tanpa gelar.
Dan kadang, kalau lagi beruntung…
kita bisa ketemu Brahmana yang bahkan tidak tahu dirinya Brahmana.
Hgr Dinandaru Shobron
Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan

