Gaza, Nitikan.id – Wartawan Palestina, Hilmi al-Faqaawi, tewas secara tragis setelah dibakar hidup-hidup dalam serangan udara Israel yang menghantam tenda media di luar Rumah Sakit Nasser, Gaza selatan, Minggu malam (6/4/2025).
Menurut Al Jazeera, serangan terjadi di dekat gerbang rumah sakit, lokasi para wartawan berkumpul untuk meliput dampak agresi militer Israel yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023. Hilmi al-Faqaawi yang bekerja untuk Palestine Today TV, serta satu orang lainnya yaitu Yousef al-Khazindar menjadi korban utama saat tenda yang jelas bertanda “Media” itu diserang.
Saksi mata, Abed Shaat, fotografer lepas berusia 33 tahun, menggambarkan suasana mengerikan.
“Saya terbangun karena ledakan keras. Kami bergegas keluar, saya sempat merekam. Saya ngeri melihat salah satu rekan saya terbakar. Saya berusaha menolong, tapi situasinya mengerikan,” ujar Shaat.
Kantor Media Pemerintah Gaza mengecam serangan ini sebagai “kejahatan brutal” yang sengaja menargetkan jurnalis untuk membungkam suara rakyat Palestina. Mereka melaporkan lebih dari 200 wartawan tewas sejak awal konflik. Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mencatat sedikitnya 108 kematian jurnalis hingga awal 2025, menjadikan perang ini salah satu yang paling mematikan bagi media dalam sejarah modern.
Militer Israel mengklaim bahwa target mereka adalah “anggota kelompok teroris yang menyamar sebagai wartawan”, namun tidak memberikan bukti, pola yang serupa dengan insiden di Nuseirat pada Desember 2024 yang menewaskan lima wartawan, menurut The Guardian.
Kecaman internasional mengalir deras. Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) menyerukan investigasi independen atas serangan ini, menyebutnya sebagai “pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional”. Middle East Eye melaporkan kemarahan luas di kalangan jurnalis global, menuding Israel sengaja menargetkan media untuk membungkam pemberitaan tentang kekejaman di Gaza.
Menurut Arrahmah.id, Palestine Today TV kerap melaporkan dampak serangan Israel terhadap warga sipil, yang diduga menjadi motif serangan.
Kantor Media Pemerintah Gaza menuntut pertanggungjawaban Israel dan negara-negara pendukungnya seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Prancis atas apa yang mereka sebut sebagai “pembantaian sistematis terhadap jurnalis.”
Kondisi di Gaza semakin memburuk. Infrastruktur media hancur, dan wartawan bekerja dalam risiko ekstrem tanpa perlindungan. Insiden ini menambah daftar panjang tragedi yang menimpa jurnalis di Gaza, memperjelas tantangan berat yang dihadapi dalam menyuarakan kebenaran di tengah konflik berkepanjangan.

